sukabumiheadline.com – Film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? sebuah drama keluarga Indonesia yang tayang di bioskop mulai 9 April 2026.
Film berdurasi 1 jam 43 menit ini mengisahkan tentang Dira (Mawar De Jongh) dan Darin (Rey Bong) yang tumbuh dengan sosok ayah (Dwi Sasono) yang ada secara fisik namun tidak hadir secara emosional (fatherless).
Film yang disutradarai Kuntz Agus ini menyampaikan pesan bahwa ketika krisis keluarga terjadi, mereka harus belajar hidup mandiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? diangkat dari novel dengan judul sama karya Khoirul Trian, menceritakan anak kecil yang kehilangan jalan pulangnya.
Salah seorang Gen Z Sukabumi menyebut bahwa banyak sosok ayah lebih memilih diam ketika menghadapi masalah, sehingga keluarga jadi terbelah akibat tidak adanya komunikasi.
“Film tentang perjalanan emosional seorang anak yang kehilangan sosok ayah, penunjuk arah dalam hidupnya, dan harus belajar menemukan jalan pulang serta makna hidup sendiri di tengah kesepian dan tantangan, karena terbatasnya komunikasi,” kata Nazla Fauziah kepada sukabumiheadline.com, Selasa (21/4/2026).
Menggambarkan perasaan anak yang lelah menjalani kehidupan dewasa, merasa kesepian, dan kesulitan menemukan arah hidup setelah beranjak dewasa.
“Ada kerinduan, dan proses pendewasaan diri. Ceritanya relatable dan menyentuh hati,” imbuh gadis 20 tahun itu.
Nazla pun mengaku memahami bahwa dalam kehidupan nyata, ada banyak keluarga yang terlihat hangat di luar namun rapuh di dalam, yang dipicu oleh peristiwa berat seperti ledakan dan tekanan ekonomi, memaksa anak (Dira) menjadi dewasa lebih cepat.
“Tapi pada akhirnya, kita seperti dibimbing untuk memahami bahwa cinta orang tua kadang hadir dalam bentuk yang tidak terlihat, serta upaya berdamai dengan masa lalu,” ungkapnya.
“Aku yakin banget banyak penonton yang memiliki kondisi sama,” tambahnya.
Namun, kata dia, intinya bagaimana menemukan kekuatan diri untuk tetap melangkah meskipun merasa tidak memiliki panduan atau kehilangan arah.
“Secara keseluruhan bagus sih. Pesan moralnya, intinya sih mengingatkan pentingnya komunikasi. Bagaimanapun kondisinya,” kata Nazla.
“Jadi menurut aku mah pesan moralnya, banyak masalah timbul karena tidak ada komunikasi,” pungkasnya.









