sukabumiheadline.com – Anggur adalah tanaman buah perdu merambat dari keluarga Vitaceae. Buahnya yang manis dan berair tumbuh bergerombol, dengan warna yang bervariasi seperti merah, hijau, ungu, dan hitam. Buah yang lezat ini juga kaya akan antioksidan dan nutrisi, serta dapat dimakan langsung, dijadikan jus, kismis, atau difermentasi menjadi wine.
Anggur tumbuh menjalar atau memanjat dengan bantuan sulur. Beberapa jenis yang populer beradaptasi dengan iklim tropis termasuk varietas Probolinggo Super, Prabu Bestari (Red Prince), dan varietas Bali.
Buah yang kaya akan vitamin C dan K, serta senyawa bioaktif seperti resveratrol dan polifenol tersebut terkenal dengan berbagai khasiatnya, seperti untuk kesehatan jantung, karena membantu menurunkan kolesterol dan menjaga kestabilan tekanan darah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, kandungan serat dan airnya yang tinggi dapat membantu mencegah sembelit. Anggur juga baik sebagai anti-kanker, senyawa antioksidan di dalamnya mampu melawan radikal bebas dan menekan pertumbuhan sel kanker.
Di Sukabumi, Jawa Barat, anggur masih tergolong asing untuk dibudidayakan oleh petani. Meskipun banyak warga yang menanam buah ini, namun sebagian besar baru sebatas untuk konsumsi pribadi.
Meningkatkan peng-anggur-an
Cecep Badrudin (50) salah seorang petani asal Desa/Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, menawarkan kerjasama penanaman anggur. Di kampungnya, ia bahkan merintis program Kampung Pengangguran Menuju Desa Pengangguran.
“Disaat pemerintah ingin menekan angka pengangguran, di situlah saya justru ingin meningkatkan jumlah pengangguran,” canda Cecep kepada sukabumiheadline.com, Rabu (27/5/2026).
Alasan Cecep menggunakan diksi pengangguran, karena menurutnya, program tersebut dijalankan oleh sejumlah pemuda pengangguran di kampungnya.
“Semakin banyak warga yang nganggur maka akan semakin sejahtera warganya.
Jika ingin sejahtra mari nganggur bersama kami,” klaim Cecep.
Untuk mempercepat program tersebut berjalan, Cecep mengaku memberikan subsidi bibit kepada para petani di kampungnya. Bahkan, upaya sederhana tersebut kini sudah membuahkan hasil.
“Maka dari itu khusus warga kampung saya subsidi bibit anggur, dan sekarang sudah mulai berbuah,” kata dia.
Secara ekonomi, jelas dia, satu pohon anggur minimal bisa menghasilkan 7 -10 kg buah anggur. Ia mengaku membayar buah anggur tersebut seharga Rp50 ribu per kg.
“Rata-rata 50 ribu Rupiah per kilogram, saya beli kemasyarakat. Kalau panen sampai 10 kg, sudah dapat 500 ribu,” papar Cecep.
“Kalau satu kampung ada 30 rumah, saya kira bisa menghasilkan 200-300 kilogram,” imbuhnya.
Kini, jelas Cecep, hampir semua rumah warga di Kampung Bojonggenteng RT 001/001, Desa Bojonggengeng sudah terlibat dalam program tersebut, dan kini mulai dikembangkan di Kampung Pamatutan Pojok.
“Di kampung saya hampir setiap rumah terlibat program ini. Dan sekarang mulai penyebaran di Pamatutan Pojok,” jelas Cecep.
“Bahkan, kalau mau lebih produktif, bisa dikolaborasikan dengan hidroponik. Dari buah anggur sampai sayuran,” pungkasnya.









