Kisah Azis, pejuang tangguh asal Cisaat, 16 tahun jualan bubur Sukabumi di Kalimantan

- Redaksi

Sabtu, 21 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Azis asal Cisaat, 16 tahun dagang bubur Sukabumi di Kalimantan Barat - Rosadi Jamani

Kisah Azis asal Cisaat, 16 tahun dagang bubur Sukabumi di Kalimantan Barat - Rosadi Jamani

sukabumiheadline.com – Azis, seorang perantau sejati dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sudah belasan tahun jualan bubur ayam khas Sukabumi di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Usianya mungkin baru 30-an. Dua anak ia besarkan dari hasil jualan bubur Sukabumi. Ia tidak sibuk mengeluh lowongan kerja sempit. Ia menciptakan lapangan kerja sendiri. Azis juga tidak mudah tergoda bisnis instant ala skema Ponzi. Tidak terpancing janji cuan kilat. Tidak larut dalam hiruk-pikuk politik yang gemar berjanji tanpa panci.

Azis memilih berdiri di belakang kompor. Dari kompor itulah ia menempa takdirnya. Azis mengajarkan sesuatu yang mulai langka, kesetiaan pada proses. Kesabaran pada waktu. Keberanian untuk tidak cepat pulang sebelum berhasil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di saat banyak orang ingin sukses dalam semalam, ia membangun kesuksesan dalam ribuan pagi. Setiap sendok bubur yang disajikan bukan sekadar sarapan. Itu adalah cerita tentang disiplin. Tentang rindu yang ditunda. Tentang keluarga yang bersatu. Tentang kualitas yang dijaga tanpa kompromi.

Kios dua blok itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah bukti bahwa mimpi tidak butuh panggung besar. Ia hanya butuh hati yang teguh, tangan yang mau bekerja, dan keyakinan yang tidak goyah oleh badai.

Jika suatu pagi nun duduk di sana, memegang mangkuk hangat itu, ketahuilah, Anda sedang menyaksikan epik seorang perantau yang memilih berjuang, bukan menyerah.

Dari panci bubur yang mengepul, lahirkan pelajaran besar. Kesuksesan sejati bukan datang tiba-tiba. Ia dimasak perlahan. Diaduk dengan sabar. Disajikan dengan kehormatan.

Setiap pagi, Azis menjadi pejuang dapur yang 16 tahun bertarung tanpa jeda di Jl Pancasila, Pontianak. Semua hal, dari A hingga Z ia lakukan sendiri. Mengolah bubur, menyiapkan kursi, hingga menjadi pelayan sekaligus kasir, ia lakukan sendiri.

“Saya sudah bertahun-tahun sarapan di kios kecilnya. Dulu hanya satu blok. Sempit,” kata Rosadi Jamani, salah seorang pelanggan Azis dikutip sukabumiheadline.com dari unggahan di akun Facebook pribadinya, Sabtu (21/2/2026).

“Kini menjadi dua blok. Lebih luas. Lebih tertata. Ada kasir khusus. Ada sistem kerja. Ada yang bekerja. Bagi sebagian orang, itu hanya perluasan kios. Bagi saya, itu monumen kecil dari konsistensi yang tak pernah menyerah,” lanjut Rosadi.

Rosadi juga memuji ketangguhan Azis dalam berbisnis, ketika banyak orang memuja kesusksesan yang bisa diraih dengan instant.

“Di negeri yang gemar memuja kesuksesan instan dan menertawakan proses panjang, melihat satu kios bubur berkembang terasa seperti menyaksikan epik yang lahir dari sendok dan mangkuk,” kata Rosadi.

Azis, kata Rosadi, berasal dari Kecamatan Cisaat. Sudah 16 tahun ia membuka usaha bubur ayam tanpa pernah pulang kampung.

“Enam belas tahun. Betapa rindunya ia pada kampungnya. Membayangkan ayah yang menua di kampung halaman. Hari raya yang dilewati tanpa pelukan keluarga besar. Itu bukan sekadar angka. Itu harga yang dibayar seorang perantau untuk sebuah cita-cita,” kata dia.

“Ia memantapkan diri, Pontianak adalah medan juangnya. Semua karyawannya, keluarga, istri, mertua, adik ipar. Di balik panci bubur itu berdiri satu keluarga yang tidak menggantungkan nasib pada belas kasihan dunia. Mereka membangun ekosistem kecil bernama kemandirian,” papar Rosadi.

Kepada Rosadi, Azis bercerita, usaha itu bukan dongeng yang selalu berakhir bahagia. Ia pernah jatuh. Pernah sepi. Pernah bingung menghitung sisa uang.

“Dari kios kecil, pelan-pelan bertumbuh. Tidak ada investor misterius. Tidak ada skema ajaib ‘tidur uang datang sendiri.’ Yang ada hanya bangun sebelum matahari, menanak beras, mengaduk kuah, dan melayani pelanggan dengan sabar,” katanya menirukan cerita Azis.

Hingga kemudian, datanglah badai bernama Covid-19. Pembeli turun drastis. Jalanan lengang. Ketidakpastian merajalela. Banyak usaha tumbang. Banyak yang menyerah. Tapi Azis memilih bertahan.

“Ia mengencangkan ikat pinggang, memperbaiki strategi, menjaga kualitas. Ia tidak menyalahkan keadaan. Ia memperkuat fondasi,” jelas Rosadi.

$Fondasi itu bernama rasa. Saya pernah mengira buburnya gurih karena micin. Ternyata tidak. Ia punya prinsip, bubur tak boleh pakai micin. Ia bereksperimen. Tiga kali uji coba. Ia minta keluarga dan teman mencicipi. Evaluasi. Perbaikan. Hingga akhirnya lahirlah bubur ayam dengan penyedap jamur, gurih alami, bersih, jujur,” bebernya.

Jamur, bukan micin. Di tengah budaya serba instan, Azis memilih kejujuran rasa. Ia tidak menipu lidah pelanggan. Ia membangun reputasi, bukan sekadar penjualan.

“Ia pernah membuka cabang. Namun ketika diserahkan ke orang lain, ruhnya hilang. Rasa tak sama. Pelayanan tak setulus yang ia harapkan. Ia sadar, membesarkan usaha bukan sekadar memperbanyak titik, tapi menjaga jiwa. Akhirnya ia fokus memperkuat satu lokasi di Jalan Pancasila itu, hingga benar-benar kokoh,” puji Rosadi.

Berita Terkait

21 kecamatan penghasil bawang daun di Sukabumi
Daftar kecamatan penghasil melon Sukabumi
Harga bibit Lele Sangkuriang: Varietas unggul asli Sukabumi solusi cepat untung
9,3 juta batang! Produksi bambu Sukabumi terbesar, ini kecamatan penghasil dan pujian KDM
10 kecamatan penghasil bawang merah di Sukabumi, Kalapanunggal tertinggi
10 kabupaten penghasil daging ayam terbesar: Sukabumi 76 juta kg, tapi harga naik terus
15 tren usaha mikro 2026 di desa, dari AI hingga cuci motor panggilan
Gegerbitung juara! Ini 40 kecamatan penghasil cabai keriting di Sukabumi

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 01:18 WIB

Kisah Azis, pejuang tangguh asal Cisaat, 16 tahun jualan bubur Sukabumi di Kalimantan

Rabu, 18 Februari 2026 - 10:00 WIB

21 kecamatan penghasil bawang daun di Sukabumi

Rabu, 18 Februari 2026 - 03:38 WIB

Daftar kecamatan penghasil melon Sukabumi

Selasa, 17 Februari 2026 - 10:00 WIB

Harga bibit Lele Sangkuriang: Varietas unggul asli Sukabumi solusi cepat untung

Senin, 16 Februari 2026 - 05:18 WIB

9,3 juta batang! Produksi bambu Sukabumi terbesar, ini kecamatan penghasil dan pujian KDM

Berita Terbaru

Ilustrasi pegawai sedang menghitung upah atau gaji - sukabumiheadline.com

Ekonomi

IMF minta pajak penghasilan karyawan di Indonesia naik

Jumat, 20 Feb 2026 - 21:45 WIB

Sukabumi

Anak 12 tahun di Sukabumi dianiaya ibu tiri hingga tewas

Jumat, 20 Feb 2026 - 20:36 WIB


Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/sukaheadline/htdocs/sukabumiheadline.com/wp-includes/functions.php on line 6131