Harga plastik tak kunjung turun, pelaku UMKM Sukabumi menangis

- Redaksi

Jumat, 31 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kantong kresek - sukabumiheadline.com

Ilustrasi kantong kresek - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Harga plastik yang tak kunjung turun, tak hanya dikeluhkan pengrajin tempe di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tetapi juga pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Sukabumi lainnya.

Nenah Komariah, seorang pedagang gorengan turut mengeluhkan harga kantong kresek yang bertengger Rp8 ribu hingga Rp10 ribu, dari semula yang hanya Rp5 ribu hingga Rp7 ribu.

“Kalau kresek tergantung merek dan jumlah isinya. Tapi sekarang sama aja, naik semua dan gak turun-turun,” kata perempuan 55 tahun itu kepada sukabumiheadline.com, Jumat (31/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sebelumnya kan ada yang lima ribu sama tujuh ribu Rupiah, kalau sekarang nyampai delapan ribu dan sepuluh ribu Rupiah,” imbuhnya.

Baca Juga: Untuk tahu/tempe 70% masih impor, segini kebutuhan dan produksi kedelai di Sukabumi

Menurutnya, dagang gorengan sekarang memang sedang tidak mudah. Menurutnya, tidak mungkin menaikan harga karena kemungkinan penjualan bakal menurun. Namun di sisi lain, harga-harga bahan pokok dan plastik naik semua.

“Kresek itu kan termasuk bahan pokok aja, karena yang beli hampir semua pegawai. Jadi mereka beli untuk dibawa, jadi walaupun beli dua, tetap aja harus pakai kresek,” keluhnya.

“Kalau harga jual naik, pasti pembeli gak mau. Sekarang aja sering dagang sampai siang, padahal sebelumnya sampai jam sembilan sudah habis,” pungkas Nenah.

Tempe buatan perajin di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi - sukabumiheadline.com
Tempe buatan perajin di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi – sukabumiheadline.com

Diberitakan sebelumnya, kenaikan harga plastik juga dikeluhkan pengrajin tempe di Parungkuda.

Ditemui di kediamannya, salah seorang perajin tempe di Kampung Gawir Luhur, Desa Sundawenang, Tarmuzi, mengaku industri kecil tempe miliknya dan sejumlah perajin lain di kawasan tersebut, sangat terdampak kenaikan harga kedelai yang terjadi setiap hari seiring kenaikan nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah.

“Ya sangat terdampak. Sebelumnya kan hanya 9 ribu Rupiah per kilogram, sekarang sudah sampai 10.700 per kilogram di lokasi. Kalau dihitung, setiap harinya ada kenaikan sekira 100 Rupiah,” ungkap pria 56 tahun itu kepada sukabumiheadline.com, Kamis (4/6/2026).

“Perajin di sini menjerit semua. Di seluruh Indonesia mungkin sama,” imbuhnya.

Ayah tiga anak itu menampakkan, selain kedelai, kenaikan harga plastik untuk kemasan tempe paling terasa.

“Plastik itu sebelumnya kan cuma 30 ribu Rupiah per kilogram, tapi sekarang sudah 55 ribu Rupiah per kilogram. Sedangkan produksi tempe kan juga memerlukan bahan-bahan lain. Itu, belum termasuk gas elpiji ya,” jelas Tarmuzi.

Ia berharap pemerintah bisa mengembalikan harga kedelai seperti pada awal ia merintis usaha tersebut. Tarmuzi menyebut, jika harga kedelai terus naik. Baca selengkapnya: Jerit perajin tempe di Sukabumi dipicu Rupiah jeblok

Berita Terkait

Tips & trik A-Z merintis usaha toko pakaian di era belanja online plus konsep promosi dan pemasaran
Dampak Program MBG terhadap produksi 22 jenis sayuran di Sukabumi
Cek keuntungannya, pemerintah: Status driver ojol adalah UMKM, bukan pegawai
Sukabumi juara 3, daftar kota dan kabupaten yang warganya paling kreatif
Amran ingin penghasilan petani kopi setara menteri, berapa produksi di Sukabumi?
1 tahun program MBG: Menghitung produksi sayuran dan buah di Sukabumi
Pria asal Sukabumi ini raup omzet Rp3 miliar per bulan hanya dari gula semut
Membanding produksi jahe Sukabumi, Jawa Barat dan Indonesia, jutaan ton!

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:43 WIB

Tips & trik A-Z merintis usaha toko pakaian di era belanja online plus konsep promosi dan pemasaran

Rabu, 12 Agustus 2026 - 01:13 WIB

Dampak Program MBG terhadap produksi 22 jenis sayuran di Sukabumi

Selasa, 11 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Cek keuntungannya, pemerintah: Status driver ojol adalah UMKM, bukan pegawai

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:30 WIB

Sukabumi juara 3, daftar kota dan kabupaten yang warganya paling kreatif

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:42 WIB

Harga plastik tak kunjung turun, pelaku UMKM Sukabumi menangis

Berita Terbaru

Nasional

Menteri PAN-RB buka pendaftaran PNS bagi PPPK, cek jadwalnya

Rabu, 19 Agu 2026 - 23:30 WIB