Jurnalis disindir Prabowo “londo ireng”, 4 pejuang RI dari wartawan dan penulis dibuang ke Sukabumi

- Redaksi

Rabu, 29 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sutan Sjahrir - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Sutan Sjahrir - Ilustrasi sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Dalam pidatonya di Puncak Harlah ke-28 PKB, Kamis (23/7/2026), Presiden Prabowo Subianto menyebut Londo Ireng masih ada hingga sekarang. Prabowo menyinggung bahwa Londo Ireng masih ada yang bersembunyi di balik identitas atau pekerjaan tertentu.

“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?” kata Prabowo.

Sebenarnya, apa arti istilah Londo Ireng?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Londo Ireng jika diartikan secara harfiah bisa berarti Belanda hitam. Dulu kaum kolonial khususnya Belanda disebut “Londo”, sedangkan “ireng” dalam bahasa Jawa artinya hitam.

Namun, tahukah Anda, di balik kisah heroik para pahlawan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan, tersimpan sisi lain yang tak kalah mengagumkan, sebagai jurnalis dan penulis.

Para pahlawan dan pejuang yang merupakan jurnalis dan penulis Indonesia ini membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Mereka juga menyalurkan semangat juang lewat kata-kata, membangun kesadaran dan harapan bagi bangsa.

Kita patut menghargai warisan intelektual mereka dan menjadikannya inspirasi dalam menjaga kemerdekaan dan kebebasan berekspresi. Mereka menggunakan pena sebagai alat perjuangan, menyuarakan ketidakadilan, dan menyulut semangat kebangsaan.

Melalui tulisan-tulisan mereka, ide kemerdekaan disebarluaskan, opini publik dibentuk, dan kesadaran kolektif bangsa dibangun.

Dari sekira 10 pahlawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki latar belakang jurnalis dan penulis, 4 di antaranya bahkan pernah diasingkan ke Sukabumi, Jawa Barat.

Pahlawan yang juga jurnalis dan penulis

Sosok Tirto Adhi Soerjo disebut sebagai pelopor pers nasional, Tirto Adhi Soerjo menerbitkan beberapa surat kabar seperti Soenda Berita (1903), Medan Prijaji (1907), dan Putri Hindia (1908). Ia juga mendirikan Serikat Dagang Islam dan dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah pers dan kebangkitan nasional. Tirto resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional pada 2006.

Selanjutnya, ada nama tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Ia mengawali karier sebagai wartawan. Tulisan terkenalnya Als ik een Nederlander was membuat pemerintah kolonial mengasingkannya. Setelah kembali, ia mendirikan Taman Siswa dan menjadi Menteri Pengajaran pertama Republik Indonesia. Kontribusinya dalam pendidikan dan pers menjadikannya sebagai salah satu pahlawan seorang jurnalis dan penulis paling berpengaruh.

Kaum pergerakan juga tentunya mengenal Tokoh revolusioner Tan Malaka. Ia aktif menulis dan menyebarkan ide-ide kemerdekaan serta sosialisme. Bukunya Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) menjadi bacaan penting yang mengajak masyarakat berpikir ilmiah dan logis. Tan Malaka menulis di berbagai media, baik nasional maupun internasional.

Kemudian, kita juga mengenal sosok legendaris asal tanah Minangkabau, yakni Agus Salim. Ia tokoh penting dalam sejarah diplomasi Indonesia. Ia juga aktif menulis, salah satunya Wajib Bergerak (1923). Pemikirannya banyak dituangkan dalam tulisan yang membahas peran Islam, perempuan, dan perjuangan kemerdekaan. Ia juga berperan dalam Panitia Sembilan penyusun dasar negara.

Nama HR Rasuna Said tentunya tidak asing bagi warga Jakarta, karena diabadikan menjadi nama jalan. Ia dikenal sebagai tokoh pejuang hak perempuan dan kemerdekaan. Ia menjadi pemimpin redaksi majalah Raya dan menerbitkan koran mingguan Menara Poeteri. Gagasan-gagasannya tentang kesetaraan dan reformasi sosial disampaikan secara berani melalui media.

Kemudian, ada nama jurnalis perempuan pertama Indonesia, Ruhana Kudus mendirikan surat kabar Sunting Melayu pada 1912. Ia menggunakan media sebagai alat pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Perjuangannya di bidang pers dan pendidikan membuatnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Jurnalis dan penulis dibuang Belanda ke Sukabumi

Buya Hamka

Buya Hamka - Istimewa
Buya Hamka – Ist

Selain sebagai ulama, Buya Hamka dikenal sebagai sastrawan dan jurnalis. Ia menulis banyak karya sastra, termasuk novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Kiprahnya di dunia jurnalistik dan keagamaan membentuk opini publik muslim progresif di masa kemerdekaan.

Hamka yang pernah ditahan selama 15 hari di Sukabumi pada era Orde Lama. Selain Hamka, ayahnya Haji Rasul dan adiknya AWKA juga ternyata pernah diasingkan di Sukabumi pada zaman kolonial Belanda.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka adalah salah satu ulama terbesar yang pernah hidup di Indonesia pasca kemerdekaan. Citra keulamaan mantan ketua MUI ini sedikit saja yang bisa menandingi. Tak hanya itu, Hamka juga nama besar di dunia kesusasteraan ditandai dengan berbagai judul novelnya yang melegenda.

Sementara itu, sikap Hamka yang tegas dan saklek dalam kebenaran membuatnya kerap bersebrangan dengan penguasa. Walhasil, pada 27 Januari 1961, bertepatan dengan awal bulan Ramadhan 1383, kira-kira pukul 11 siang, Hamka dijemput di rumahnya, ditangkap dan dibawa ke Sukabumi. Baca selengkapnya: Kisah Buya Hamka ditahan di Sukabumi, menulis buku Hanya Allah hingga ingin bunuh diri

Cipto Mangunkusumo

Dr. Tjipto Mangunkusumo
Ilustrasi Dr. Tjipto Mangunkusumo – Ist

Sebagai pendiri Nationaal-Indische Partij, Cipto aktif menulis untuk menyuarakan perjuangan pribumi. Karena aktivitas politiknya, ia diasingkan ke Belanda. Tulisannya mencerminkan semangat perubahan dan perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial.

Pada 18 Agustus 1913, Tjipto Mangunkusumo bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Namun, karena alasan kesehatan, setahun kemudian, pada 1914, Tjipto diizinkan pulang kembali ke Jawa.

Sepulang dari Belanda ia memilih bergabung dengan Insulinde. Pada 9 Juni 1919 Insulinde mengubah nama menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP).

Tjipto Mangunkusumo kemudian dipilih sebagai salah seorang anggota Volksraad oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda mewakili tokoh yang kritis. Sebagai anggota Volksraad, sikap Tjipto tidak berubah, hingga kemudian pemerintah Hindia Belanda mengusirnya ke Bandung dan dikenakan tahanan kota.

Pada 1927, Belanda menganggap Tjipto terlibat dalam upaya sabotase sehingga membuangnya ke Bandaneira. Dalam pembuangan, penyakit asmanya kambuh, ia kemudian dipindahkan ke Makassar, lalu ke Sukabumi pada 1940 dengan membawa serta 20 peti buku koleksinya. Baca selengkapnya: Kisah hari-hari terakhir Dr. Tjipto Mangunkusumo, sakit karena hawa dingin di Sukabumi lalu wafat

Sutan Sjahrir

Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir
Sutan Sjahrir (kiri) dan Mohammad Hatta – Des Alwi

Perdana menteri pertama Indonesia ini dikenal sebagai intelektual dan penulis ulung. Karyanya Renungan Indonesia mencerminkan idealisme dan pemikirannya yang dalam terhadap nasib bangsa. Sjahrir adalah contoh nyata pahlawan berprofesi sebagai jurnalis dan penulis yang lebih mengandalkan kekuatan ide daripada kekuatan senjata.

Hatta dan Sjahrir dibuang dan ditempatkan di sebuah rumah di Jl. Bhayangkara No. 156 A, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi.

Sebuah rumah yang menjadi saksi sejarah perjuangan kedua tokoh dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melawan dua kekuatan besar kolonial yaitu Belanda dan Jepang.

Rumah tersebut adalah bekas rumah dinas seorang inspektur Belanda. Pada masanya, rumah tersebut berada di paling ujung kompleks karenanya jalan disebut bernama Jl. Kompleks.

Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan nama dan peruntukan jalan menjadi Jl. Dr. Vogelweg dan digunakan masyarakat luas. Kini, nama jalan tersebut kita kenal dengan nama Jl. Bhayangkara. Baca selengkapnya: Dari Sukabumi Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir Prediksi Kehancuran Hindia Belanda

Mohammad Hatta

Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir
Mohammad Hatta (kiri) dan Sutan Sjahrir – Rosihan Anwar

Walau lebih dikenal sebagai proklamator dan Wakil Presiden pertama, Mohammad Hatta juga seorang penulis produktif. Saat diasingkan ke Boven Digoel dan Banda Neira, ia tetap menulis artikel untuk koran dan majalah. Tulisan-tulisannya mendidik dan menawarkan analisis mendalam, bukan propaganda.

Wakil Presiden pertama Indonesia. Tokoh nasional yang bernama lengkap Drs Mohammad Hatta, lahir di Minangkabau 12 Agustus 1902 itu pernah mendekam di pengasingan Sukabumi.

Pada tahun 1941, tepatnya setelah Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Jepang menguasai sejumlah daerah di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Karena khawatir para tokoh politik yang dibuang pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan oleh Jepang untuk membangun kerja sama, Bung Hatta dan Bung Sjahrir yang saat itu tengah diasingkan di Banda Neira segera dipindahkan ke Sukabumi. Baca selengkapnya: Mengenang syarat Bung Hatta diasingkan ke Sukabumi dan pengorbanan untuk sahabat

Berita Terkait

Artis asal Sukabumi diselimuti duka
Profil Kombes Pol Irvan Prawira Satyaputra asal Sukabumi, selangkah menuju jenderal
A-Z 23 Juli Hari Anak Nasional: Sejarah hingga harapan dan pencabulan anak di Sukabumi
Hari ini 79 tahun lalu: Belanda menyerbu Sukabumi TNI dan pejuang mundur
Biografi dan foto-foto cantik Putri Leonor, pewaris takhta Kerajaan Spanyol
Biografi Lamine Yamal, bocah Muslim miskin asal Spanyol ke panggung juara Piala Dunia 2026
Catatan prestasi Herman Suradiradja: Pria Sukabumi Grandmaster Catur Indonesia pertama
Bagaimana warga Jakarta memandang wanita Sukabumi? Religius, tapi…

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:12 WIB

Jurnalis disindir Prabowo “londo ireng”, 4 pejuang RI dari wartawan dan penulis dibuang ke Sukabumi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 00:14 WIB

Profil Kombes Pol Irvan Prawira Satyaputra asal Sukabumi, selangkah menuju jenderal

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:05 WIB

A-Z 23 Juli Hari Anak Nasional: Sejarah hingga harapan dan pencabulan anak di Sukabumi

Selasa, 21 Juli 2026 - 23:00 WIB

Hari ini 79 tahun lalu: Belanda menyerbu Sukabumi TNI dan pejuang mundur

Selasa, 21 Juli 2026 - 02:12 WIB

Biografi dan foto-foto cantik Putri Leonor, pewaris takhta Kerajaan Spanyol

Berita Terbaru