Kisah Pria Miskin Jujur Jadi Menantu Hakim Kaya Raya

- Redaksi

Selasa, 15 November 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sukabumiheadline.com l Apa jadinya jika seorang konglomerat lebih memilih menantu miskin dan bertampang pas-pasan, sementara ia menolak banyak lelaki kaya raya yang silih berganti melamar putri cantiknya.

Inilah kisah Nuh bin Maryam, seorang hakim dan pemimpin kaya raya, tetapi menjodohkan putrinya dengan seorang budak tak berpunya bernama Mubarak.

Kisah ini disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam At-Tibrul Masbûk fî Nashîhatuil Mulûk saat menjelaskan tips memilih menantu. Simak ceritanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dikisahkan, di sebuah kota bernama Marw, Persia, terdapat seorang pria bernama Nuh bin Maryam. Ia merupakan seorang hakim dan gubernur di kota itu.

Sudah tentu dia juga seorang ulama karena kualifikasi hakim zaman dulu mengharuskan demikian. Ia juga dikenal sebagai sosok yang kaya raya. Nuh memiliki seorang putri berparas cantik dan memiliki karier yang bagus.

Karena putrinya sudah perawan dan memasuki usia untuk menikah, Nuh berencana mulai mencarikannya pasangan. Banyak laki-laki kaya dan berpangkat tinggi datang untuk melamarnya.

Namun, semua itu justru membuat Nuh bingung dan tidak terburu-buru memilih. Hemat dia, jika memilih salah satu lelaki itu, khawatir yang lain akan tersinggung.

“Aku bingung, kalau pilihkan salah satu dari mereka, nanti yang lain akan tersinggung,” keluhnya.

Nuh terus dalam kebingungan, sementara putrinya sudah harus secepatnya dinikahkan karena sudah memasuki usia harus berumah tangga.

Lebih Memilih Menantu Budak

Dikisahkan, Nuh memiliki seorang budak laki-laki yang sangat bertakwa berkebangsaan India bernama Mubarak. Ia adalah pria miskin yang tidak punya apa-apa.

Nuh memiliki kebun yang sangat luas yang ia tanami berbagai macam pohon, buah-buahan, dan aneka tumbuhan. Ia menugasi Mubarak untuk merawatnya.

Hingga satu bulan berlalu, Nuh meminta Mubarak untuk memetikkan segenggam anggur untuknya.

“Wahai Mubarak, petikkan aku segenggam anggur.”

“Baik, Tuan. Segera saya ambilkan,” jawab Mubarak patuh.

Setelah segenggam anggur ia dapatkan, Mubarak memberikan kepada tuannya. Semua anggur yang ia petik ternyata masam. Nuh pun menyuruhnya memetik segenggam lagi.

Namun hal serupa terjadi, semua anggur masam. Nuh heran dan berkata kapada budaknya, “Mubarak, dari anggur sebanyak ini, kenapa kamu tidak bisa membedakan mana yang manis dan mana yang masam?!”

“Maaf, Tuan. Aku benar-benar tidak tahu mana yang manis dan mana yang masam,” jawab Mubarak.

“Kau ini bagaimana?! Sudah satu bulan penuh kau mengurus kebun ini, tapi membedakan jenis anggur saja tidak bisa.”

“Benar, Tuan. Aku memang tidak bisa membedakan rasanya.”

“Kau kan bisa mencicipinya agar tahu mana yang manis dan mana yang masam.”

“Maaf, Tuan. Engkau hanya memerintahkanku untuk menjaganya, bukan mencicipi. Aku tidak ingin mengkhianatimu.”

Mendengar jawaban Mubarak, Nuh tertegun dan tahu bahwa budaknya adalah lelaki yang cerdas dan memiliki moral luhur.

“Wahai anak muda, aku sangat senang dengan prinsipmu. Sekarang aku punya satu perintah untukmu.”

“Apapun perintahnya, akan aku turuti, Tuan.”

“Aku punya putri yang sangat cantik. Sudah banyak laki-laki penting dan kaya raya yang datang untuk melamar, tapi belum juga aku menentukan pilihan. Apakah kamu punya saran untukku?”

Mubarak lalu menjawab begini:  إن الكفار في زمن الجاهلية كانوا يريدون الأصل والنسب والبيت والحسب واليهود والنصارى يطلبون الحسن والجمال وفي عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم كان الناس يطلبون الدين والتقى. أما وفي زماننا هذا فالناس يطلبون المال فاختر من هذه الأربعة ما تريد

Artinya, “Dalam memilih menantu, dulu orang-orang kafir zaman ahiliah melihat siapa orang tuanya, bagaimana reputasinya, seperti apa rumahnya, dan berapa besar kekayaannya. Sementara umat Yahudi dan Nasrani melihat sejauh mana kecantikan dan kemolekannya. Pada zaman Rasulullah sendiri, yang jadi pertimbangan adalah kualitas agama dan ketakwaannya. Pada zaman kita sekarang, kekayaan menjadi prioritas utama. Silakan, tuan pilih di antara empat ini.”

“Wahai pemuda, aku lebih memilih calon menantu yang agamanya kokoh, bertakwa, dan amanah. Sebab itu, aku ingin kau yang menjadi menantuku. Aku sudah menemukan kebiakan dalam dirimu. Agamamu kokoh dan moralmu luar biasa.”

“Tapi, tuan, aku hanya seorang budak India berkulit hitam yang dulu engkau beli. Kenapa sekarang justru tuan ingin mengangkatku sebagai menantu?” jawab Mubarak setengah tidak percaya.

Ia hanya bisa mematuhi kemauan tuannya.  Nuh akhirnya menyampaikan niatnya kepada istri untuk berembug.

“Suamiku, semua keputusan ada di tanganmu. Tetapi, aku akan sampaikan dulu hal ini kepada putri kita. Aku ingin mendengar jawabannya dulu,” kata sang istri.

Setelah mendengar tawaran itu, putri mereka menyerahkan pilihan kedua orang tua.

“Jika hal ini sudah menjadi keputusan ibu dan bapak, aku akan mematuhinya. Aku tidak akan pernah menentang perintah kalian berdua.”

Mubarak pun menikah dengan putri Nuh bin Maryam. Dari kedua pasangan ini kemudian lahir Abdullah bin Mubarak yang kelak menjadi seorang ulama besar. Ia dikenal sebagai seorang ‘alim yang zuhud dan banyak meriwayatkan hadits Nabi. Namanya begitu harum dan sangat familiar dalam dunia intelektual Muslim. (Imam al-Ghazali, At-Tibrul Masbûk fî Nashîhatuil Mulûk, 1988: 122-123).

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Ustadz Muhamad Abror seperti disarikan dari Islam.nu.or.id.

Berita Terkait

102 tahun Sarkem Cicurug Sukabumi dan kisah hidup ulama berdarah menak Sunda
Profil Kumaila Hakimah, alumni ponpes di Sukabumi yang sebut AlQuran sudah kadaluwarsa
Mengenal pondok pesantren yang didirikan Wali Songo, nomor 5 di Jawa Barat
4 foto masa muda kedekatan tokoh asal Sukabumi dengan Prabowo dan Menhan
Profil Mr R Syamsudin: 5 fakta tokoh asal Sukabumi, didukung Kapolri jadi Pahlawan Nasional
Memahami konsep hujan dalam Islam dan ayat-ayat rahasia di baliknya
Daftar tokoh bergelar SH diabadikan jadi nama jalan, nomor 17 asal Sukabumi
Profil dan kisah hidup Tan Boen Soan: jurnalis dan novelis asal Sukabumi, lahir 1905

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 06:49 WIB

Profil Kumaila Hakimah, alumni ponpes di Sukabumi yang sebut AlQuran sudah kadaluwarsa

Jumat, 11 September 2026 - 02:28 WIB

Mengenal pondok pesantren yang didirikan Wali Songo, nomor 5 di Jawa Barat

Kamis, 10 September 2026 - 01:50 WIB

4 foto masa muda kedekatan tokoh asal Sukabumi dengan Prabowo dan Menhan

Rabu, 9 September 2026 - 08:00 WIB

Profil Mr R Syamsudin: 5 fakta tokoh asal Sukabumi, didukung Kapolri jadi Pahlawan Nasional

Senin, 7 September 2026 - 15:02 WIB

Memahami konsep hujan dalam Islam dan ayat-ayat rahasia di baliknya

Berita Terbaru

Ilustrasi vape - sukabumiheadline.com

Regulasi

BNN minta semua jenis vape dilarang

Sabtu, 12 Sep 2026 - 22:21 WIB

Striker Persib Bandung, Balsa Sekulic - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Venue

Persija vs Persib: Maung kalah 2-1

Sabtu, 12 Sep 2026 - 17:32 WIB

Ilustrasi air minum dalam kemasan (AMDK) - sukabumiheadline.com

Bisnis

Daftar AMDK paling digemari Gen Z, bukan AQUA juaranya

Sabtu, 12 Sep 2026 - 15:17 WIB

Menara kembar WTC meledak pada peristiwa New York 11 September - Ist

Internasional

Mengenang serangan menara WTC 9/11, dan trend mualaf yang meningkat

Jumat, 11 Sep 2026 - 23:30 WIB