Mengenal Sekolah Anak-anak Pelaku Terorisme di Indonesia yang Dirahasiakan

- Redaksi

Jumat, 4 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bom bunuh diri di Surabaya. l Istimewa

Bom bunuh diri di Surabaya. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINE.com l Ratusan anak dari pelaku terorisme di Indonesia menjalani deradikalisasi di sebuah sekolah yang dirahasiakan.

Diberitakan kompas.com, 11 pelajar berada di sekolah yang dirahasiakan itu. Salah satunya, seorang bocah berusia tujuh tahun, kehilangan ayahnya dalam aksi tembak-menembak dengan polisi kontra-terorisme.

Sedangkan tiga lainnya menjadi yatim piatu ketika sebuah bom yang dirakit ayahnya secara tidak sengaja diledakkan di apartemen mereka di Surabaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para siswa di sekolah terorisme Indonesia dianggap korban, sehingga identitas mereka dirahasiakan, bahkan dari rekan sekelasnya.

Di salah satu ruang kelas, seorang pembuat bom berusia 16 tahun dan seorang yang ingin menjadi pelaku bom bunuh diri, juga berusia 16 tahun, duduk di kelas yang sama dengan petarung jalanan, pencuri, dan pelacur anak-anak.

Anak-anak radikal dianggap sebagai korban di sekolah. Identitas mereka dirahasiakan, bahkan dari teman sekelas mereka. “Mereka akan dilihat oleh anak-anak lain sebagai anak yang bermasalah,” kata kepala fasilitas Neneng Haryani.

Hal itu untuk memastikan keselamatan mereka, agar anak-anak tersebut tumbuh seperti anak-anak lain.

Lokasi sekolah ini dirahasiakan, sehingga tak heran jika beberapa penjaga menyamar berpatroli diperbatasan sekolah, dan jumlah penjaga ini akan ditingkatkan hingga puluhan jika terjadi sebuah insiden.

Sedikitnya sudah 102 anak-anak yang dianggap radikal telah menuntut ilmu di sekolah ini. Sebagian besar dari mereka kini telah kembali ke komunitas mereka, setelah menjalani rehabilitasi.

Di antara mereka, ada anak dari pelaku bom bunuh diri menggunakan sepeda motor di Surabaya. Laras, sebut saja begitu, selamat dari ledakan itu dan sekarang mengikuti sekolah rahasia untuk anak-anak terorisme Indonesia.

“Bahagia sekarang. Dia anak yang pintar,” kata pekerja sosialnya, Sri Musfiah dikutip dari viva.co.id.

Laras bergabung dalam banyak kegiatan, dia punya banyak teman dan rajin menyapa staf dan siswa lainnya.

Laras pertama kali tiba di sekolah tersebut, dimana dia datang masih dalam kondisi dirawat lengannya yang patah akibat pemboman dan menyimpan aspirasi radikal yang ditanamkan oleh orang tuanya.

Sebelumnya, Laras berpikir ayahnya telah menyelamatkan ia dari ledakan itu. “Ketika itu terjadi dia merasa bahwa dia didorong oleh ayahnya. Itu sebabnya dia terlempar dari sepeda,” kata Sri.

Berita Terkait

Sukabumi masuk 10 Kota Toleran di Indonesia versi SETARA Institute
Anggaran Rp68 miliar untuk perbaikan jalan rusak di Sukabumi akhirnya melayang
Dedi Mulyadi ogah tiru Gubernur Jakarta berantas ikan sapu-sapu, ini tips jitu dari KDM
Nyaris 100 ribu! Jawa Barat juara kasus perceraian se-Indonesia, ini kabupaten terbanyak
Profil Letjen TNI Djon Afriandi, Pangkopassus disebut tampar pihak protokol istana
Kemenhan dorong TNI bentuk batalyon baru di semua kabupaten, ini tujuannya
5 prioritas Jabar di Musrenbang RKPD 2027: Sekolah gratis hingga konektivitas wilayah
Menaker: Serikat pekerja bukan lawan perusahaan, tapi penjaga hak karyawan

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 19:21 WIB

Sukabumi masuk 10 Kota Toleran di Indonesia versi SETARA Institute

Kamis, 23 April 2026 - 19:49 WIB

Dedi Mulyadi ogah tiru Gubernur Jakarta berantas ikan sapu-sapu, ini tips jitu dari KDM

Kamis, 23 April 2026 - 17:31 WIB

Nyaris 100 ribu! Jawa Barat juara kasus perceraian se-Indonesia, ini kabupaten terbanyak

Rabu, 22 April 2026 - 16:59 WIB

Profil Letjen TNI Djon Afriandi, Pangkopassus disebut tampar pihak protokol istana

Senin, 20 April 2026 - 15:58 WIB

Kemenhan dorong TNI bentuk batalyon baru di semua kabupaten, ini tujuannya

Berita Terbaru

Stoking berbulu

Teknologi

7 produk yang percuma diciptakan

Sabtu, 25 Apr 2026 - 21:13 WIB

Ilustrasi pemuka agama di Indonesia sedang berdiskusi - sukabumiheadline.com

Khazanah

10 Kota Toleran 2020-2025, Sukabumi absen dua tahun

Sabtu, 25 Apr 2026 - 19:55 WIB