SUKABUMIHEADLINE.com l NAGRAK – Bermodal yakin, setiap kesulitan selalu menemukan jalan keluarnya. Seperti kata pepatah, di mana ada kemauan, di situlah ada jalan.
Bermodal mau dan yakin itulah, sekelompok pemuda Kampung Jelegong RT 01/03, Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berhasil meraup untung meskipun hanya bermodalkan begadang.

Di sebuah gang sempit, Jimi Lesmana (30) bersama sekira 10 orang temannya menjual batu akik hiasan yang sudah diukir dalam berbagai macam bentuk menarik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nampak di lokasi, beberapa di antara mereka asyik memotret satu per satu batu batu hias yang akan diunggah di media sosial (medsos). Sementara, sebagian lainnya terlihat asyik memainkan gadget-nya, menjawab berbagai komentar dan pertanyaan dari pembeli di kolom komentar.

“Kita di sini hanya memasarkan aja, kalau batunya milik Galih,” ungkap Jimi kepada sukabumiheadline.com, Ahad (25/12/2022) dinihari pukul 02.00 WIB.
“Jadi modalnya cuma begadang ditemani handphone dan akun media sosial, Facebook dan Instagram aja. Nyaris tanpa modal karena di sini disediakan wifi,” tambah Jimi.
Setiap malam, diakui Jimi, ia bersama teman-teman lainnya menjadi marketing batu-batu hias milik Galih Gunawan (25). Mereka menjualnya dengan cara memposting foto-foto batu akik di akun media sosial mereka.

Berbagai jenis batu hias di Crystals Shop milik Galih, dijual mulai dari 3,5 dolar hingga 200 dolar. Sementara, Jimi dan teman-temannya menawarkan suka-suka mereka.
“Kita biasanya posting di akun pribadi atau grup. Ada grup para penjual dan pembeli batu hiasan, kebanyakan anggotanya dari luar negeri,” jelas Jimi seraya menyeruput kopi yang terhidang.
Diakui Jimi, dalam sebulan, ia bisa meraup hingga Rp5 juta. Namun, diakuinya, keuntungan tersebut memang tidak sekaligus diterimanya.
“Ya sebulan nyampai lah lima juta Rupiah mah, cuma gak sekaligus aja karena transaksinya kan gak sekaligus,” aku Jimi.

Soal keuntungan atau mengambil selisih penjualan untuk di bawa pulang ke rumah, tambah Jimi, pintar-pintar ia dan marketing yang lain menawarkan ke konsumen.
Ditambahkannya, berjualan batu menjadi pilihan ketika banyak pabrik bangkrut dan sulit mencari pekerjaan.
“Dulu mah kerja di pabrik, di Muara Tunggal. Setelah bangkrut, ya daripada nganggur mending jualan batu, dan hasilnya alhamdulillah,” pungkas Jimi.