sukabumiheadline.com – Wilayah Jawa Barat dikenal memiliki pemandangan alam yang menawan. Tak heran jika Jalan Tol Cisuka (Ciawi-Sukabumi) menjadi salah satu jalur tol dengan pemandangan yang indah. Baca selengkapnya: Kena Prank se-Indonesia, Salah Kaprah Jalan Tol Bocimi Warga Sukabumi Wajib Tahu Sejarahnya
Melintasi jalur ini, para penumpang KA disajikan pemandangan alam berupa area persawahan, sungai, gunung dan perkampungan penduduk.
Lantas, bagaimana rasanya jika menikmati perjalan dari Jakarta ke Sukabumi dengan menggunakan Kereta Api (KA) Panoramic? KA dengan rangakaian gerbong yang didesain sebagai KA pariwisata, agar para penumpang bisa memandang ke segala penjuru dengan nyaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Pelesiran dengan KA Panoramic Gambir-Sukabumi
Pada Rabu (11/9/2024), PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) menggelar perjalanan kereta luar biasa (KLB) dari Gambir ke Sukabumi. Kegiatan pelesiran tersebut dilakukan dalam rangka hari jadi ke-15 anak usaha PT KAI tersebut.
Perjalanan menyuguhkan sejumlah pengalaman menarik bagi penumpang. Mulai dari cerita sejarah kereta, karaoke, hingga dining on train.
Menurut Direktur Utama KAI Wisata Hendy Helmy, KAI Wisata sudah berdiri sejak tahun 2009. Selama ini, pihaknya melayani perjalanan wisata untuk individu maupun kelompok yang menggunakan kereta api sebagai transportasi utama.
Layanan tersebut didukung angkutan lanjutan serta penunjang lainnya. Seperti ticketing domestik dan internasional, akomodasi, pengurusan dokumen perjalanan seperti paspor, visa dan asuransi, serta sewa kendaraan perusahaan.
Rekomendasi Redaksi: Dari Bola Api hingga 2 Warga Sukabumi Tewas, Cerita Mistis di Balik Kemegahan Jalan Tol Cisuka

Seperti diketahui, rangkaian gerbong KA Panoramic didesain nyaris terbuka dengan adanya jendela-jendela kaca di bagian atap hingga bagian kanan dan kiri rangkaian untuk mengintip langit dan pemandangan alam selama dalam perjalanan.
Perjalanan kereta dari Gambir dengan tujuan Sukabumi merupakan yang pertama kali dilakukan oleh KA Wisata.
“Ini adalah momen di mana kita mengapresiasi terhadap apa yang telah diberikan kepada masyarakat. Kita berjalan dengan tujuh rangkaian. Satu gerbong dining on train, satu tematik Bali, satu panoramic, dan empat priority,’’ tutur Hendy Helmy dikutip sukabumiheadline.com dari laman resmi perusahaan, Senin (16/9/2024).
Baca Juga:

Hendy mengatakan, jalur Stasiun Gambir menuju Stasiun Sukabumi kini tidak bisa digunakan secara umum, karena hanya bisa ditempuh dengan kereta listrik menuju Bogor. Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan KA Pangrango relasi Bogor–Sukabumi.
’’Kalau saya tidak salah dengar ya perjalanan kereta api awalnya memang dibangun pertama itu dari Jakarta menuju Bandung itu di sini (via Sukabumi – red),’’ ungkapnya.
Namun, setelah beberapa kali terjadi peristiwa tertentu, akhirnya jalur tersebut mulai ditinggalkan. Mengingat sejarahnya, jelas Hendy, melakukan perjalanan dengan menggunakan jalur Gambir–Sukabumi akan terasa istimewa. Baca selengkapnya: Dulu Bernama Ciheulang, 5 Catatan Sejarah Kota Cibadak Sukabumi Sejak Zaman Purba
’’Untuk panorama, sebenarnya bisa menghidupkan kembali jalur Jakarta–Bandung sebagai alternatif jalur melalui Sukabumi. Saya lihat jalur-jalur Sukabumi, ini tidak kalah menarik dengan jalur yang sudah ada saat ini karena lihat pemandangan air dan lain-lainnya cukup bagus untuk kita bisa explore, sebagai tempat tujuan wisata atau perjalanan wisata,’’ harap dia.
Baca Juga:

Sementara, Dirut PT KAI Didiek Hartantyo mengatakan, KAI akan terus melakukan inovasi untuk melakukan transformasi layanan kereta api. Karenanya, ia mengaku pernah mengajak sejumlah pejabat perusahaan kereta api luar negeri ke Indonesia menggunakan Kereta Luar Biasa (KLB).
’’Saat itu kami perlihatkan konektivitas kereta api sekaligus berbagai model kereta atau gerbong. Dari dining on train, panoramic, dan kereta wisata. Mereka mau belajar lho ke KAI,’’ katanya.
Didiek menambahkan, teknologi perkeretaapian di Indonesia secara kualitas tidak kalah dari Eropa. Dari mulai bangunan stasiun, lokomotif dan gerbong, hingga kebersihan. ’’Malahan toilet-toilet kereta di Eropa itu berbayar. Indonesia gratis,’’ sebutnya.
Untuk itu, Didiek berani menargetkan jumlah penumpang kereta pada 2024 mampu mencapai lebih dari 450 juta orang. Hingga saat ini, jumlah penumpang asal mancanegara sudah mencapai lebih dari 450 ribu orang.
Baca Juga:
KA Wisata

Untuk informasi, rangkaian gerbong KA Wisata terdiri dari gerbong Dining on Train, kereta wisata Tematik Bali, Panoramic dan Priority.
Gerbong Dining on Train memiliki kapasitas 16 orang dengan model kursi berbeda dibanding kereta penumpang lainnya. Kursi-kursi penumpang didominasi warna biru dengan ukuran lebih besar layaknya kursi-kursi di Eropa.
Sementara, dinding gerbong terdapat lampu-lampu ala Eropa yang membuat terkesan mewah dan elegan. Selain itu, terdapat meja bar di tengah gerbong. Tata letak itu memudahkan penumpang untuk memesan makanan.
Sedangkan gerbong Tematik Bali, memiliki desain ruangan dan ukiran khas Pulau Dewata. Kursinya didesain semacam sofa. Penumpang pun merasa berada di ruang tamu yang besar. Selain itu, terdapat ruang khusus seperti kereta zaman dulu dengan kapasitas empat orang dan di tengahnya terdapat meja.
Kemudian di Panoramic, gerbong ini memang didesain agar penumpang bisa menikmati pemandangan selama perjalanan kereta api. Dari mulai bagian atap hingga dinding, nyaris full kaca tembus pandang.
Untuk gerbong Piority, memiliki kelebihan dalam hal hiburan, di mana setiap orang menikmati satu layar kecil di hadapannya, layaknya kursi Kelas Bisnis di pesawat terbang. Selain itu, terdapat dua layar besar di setiap ujung gerbong.