sukabumiheadline.com – PT Perusahan Listrik Negara Indonesia Power (PLN IP) mengembangkan aset karbon dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Pengembangan aset karbon itu setelah dilakukan penandatanganan Second Amendment to Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk proyek Capacity Upgrade of Gunung Salak Geothermal Power Plant Project Indonesia.
Dalam kerja sama ini, PLN Indonesia Power diwakili Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga Julita Indah bersama Specialist, Business Development Sustainable Technologies – SEA South Pole AG Fadri Mokolintad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk informasi, potensi pengurangan emisi dari peningkatan kapasitas pembangkit tersebut akan dikembangkan menjadi aset karbon yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan, kerja sama tersebut melanjutkan kolaborasi PLN IP dengan South Pole AG dalam pengembangan aset karbon dari peningkatan kapasitas PLTP Gunung Salak.
Aset karbon yang berasal dari pengurangan emisi tersebut, jelas dia, selanjutnya dapat dimonetisasi dan diperdagangkan. Dengan demikian, pengembangan aset karbon dapat menjadi sumber nilai ekonomi tambahan dari pembangkit energi bersih.
“Pengembangan energi baru terbarukan tidak hanya berbicara mengenai penyediaan energi yang lebih bersih, tetapi juga bagaimana setiap potensi pengurangan emisi dapat dikelola menjadi nilai tambah yang berkelanjutan,” kata Sudarmanta dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (9/9/2026).
“Melalui pengembangan aset karbon dari PLTP Gunung Salak, kami melihat adanya peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendorong keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia,” lanjut dia.
Menurutnya, pengembangan aset karbon merupakan salah satu skema yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dari pembangkit energi terbarukan.
Melalui monetisasi aset karbon, pengurangan emisi dari proyek energi terbarukan dapat memiliki nilai ekonomi. Skema tersebut juga dapat memberikan tambahan insentif bagi investasi dan pengembangan sektor energi bersih.
PLN Indonesia Power menyebut pengembangan aset karbon PLTP Gunung Salak menjadi salah satu skema untuk memperoleh manfaat ekonomi dari pengurangan emisi sekaligus mengembangkan pembangkit energi panas bumi.
“Geothermal memiliki potensi besar sebagai sumber energi bersih yang andal. Karena itu, kami terus mendorong berbagai inisiatif yang tidak hanya meningkatkan kinerja aset pembangkit, tetapi juga membuka peluang nilai tambah dari aspek lingkungan dan pengurangan emisi,” tambah Sudarmanta.









