Revisi UU Desa, Kades Sundawenang Sukabumi: Desa tetap saja jadi subordinasi birokrasi

- Redaksi

Senin, 1 April 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelaksanaan Pilkades Serentak di Kabupaten Sukabumi. - Istimewa

Pelaksanaan Pilkades Serentak di Kabupaten Sukabumi. - Istimewa

sukabumiheadline.com – Pengesahan revisi Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjadi UU, dinilai beragam oleh kepala desa (Kades) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kades Sundawenang, Wahid, menilai UU Desa hasil revisi tidak menyentuh substansi persoalan di desa yang sesungguhnya.

“Buat sebagian kepala desa mungkin senang dengan tambah masa jabatan 8 tahun, tapi buat saya pribadi itu bukan substansi kalau orientasinya untuk menjadikan desa yang maju kuat mandiri dan demokratis,” kata Wahid kepada sukabumiheadline.com, Senin (1/4/1024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, yang paling substansi untuk pembangunan desa itu bukan perubahan masa jabatan jadi 8 tahun karena itu hanya sekadar perubahan perhitungan jumlah masa jabatan saja.

“Prinsipnya sama, baik 8 tahun ataupun 6 tahun, sama saja. Kalau 8 tahun bisa 2 periode, kalau 6 tahun bisa 3 periode. Intinya bagi saya bukan substansi lah,” kata dia.

“Yang substansi bagi desa itu adalah mengembalikan kedaulatan kewenangan desa sebagaimana asas rekognisi dan subsideritas dalam penyelenggaraan desa termasuk dalam pengelolaan dana desa,” yakin Wahid.

Wahid menilai, asas rekognisi dan subsideritas itu merupakan ruh, sekaligus menjadi jati diri desa.

“Kalau desa kehilangan ruhnya maka kembali ke zaman dulu, di mana desa menjadi subordinasi dari birokrasi pemerintah pusat dan daerah. Contoh riil nya ada konsep pengelolaan dana desa earmark (penggunaannya ditentukan pusat),” jelas wahid.

Hanya kalkulasi politik 

Wahid menambahkan, revisi UU Desa hanya kalkulasi politik saja bukan kalkulasi progresif. Terkait transfer anggaran langsung ke kas desa …

“Padahal, penyelenggaraan desa itu menurut UU desa no 6 tahun 2014, didasarkan pada asas rekognisi dan subsideritas yang memberikan kewenangan kepada desa untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat masyarakat setempat. Itu substansinya,” jelas dia.

“Makanya para akademisi mengatakan, desa itu memiliki otonomi asli. Artinya, otonomi desa bukan otonomi pemberian dari pemerintah pusat sebagaimana otonomi daerah. Tapi otonomi pengakuan (yang diakui) oleh pemerintah,” imbuh Wahid.

Wahid juga menilai bahwa selama ini pemerintah desa masih dikangkangi. Menurutnya, hal itu kontraproduktif dengan definisi desa itu sendiri, di mana desa seharusnya diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat masyarakat setempat.

“Prakteknya dikangkangi. Meskipun saya juga menyadari pemerintah pusat gak akan begitu mudahnya menggelontorkan Dana Desa tanpa pengaturan, tapi pengaturan pengelolaan dana desa saat ini bertolak belakang dengan dia prinsip tadi,” sesalnya.

Hal itu, menurut Wahid, menimbulkan berbagai tafsir yang berbeda baik di level pusat maupun daerah sebagai dasar pembenaran.

“Contoh dana kategori earmark padat karya tunai desa, di mana 50 persen harus bayar upah kerja,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, DPR RI secara resmi telah mensahkan revisi Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjadi UU melalui rapat paripurna, Kamis (28/3/2024).

Salah satu perubahan yang disahkan oleh DPR RI adalah masa jabatan kepada desa menjadi 8 tahun dan dapat dipilih paling banyak 2 kali masa jabatan. Sebelumnya masa jabatan kades selama 6 tahun per periode dan dapat dipilih kembali hingga 3 kali masa jabatan. Baca lengkap: Sah, masa jabatan kades kini jadi 8 tahun per periode, Dana Desa ditambah

Dengan disahkannya revisi UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa tersebut, maka secara politis kades-kades yang menjabat hasil Pilkades Serentak 2023 dan yang habis masa jabatannya pada Februari 2024 lalu, diperpanjang selama dua tahun hingga 2026.

Hal itu, mengutip UU Desa, Pasal 118, poin a hingga f, secara politis kades-kades yang saat ini sedang menjabat, pun diuntungkan. Berikut isi poin a hingga f: Baca lengkap: Kades di Sukabumi sudah satu dan 2 periode diuntungkan Revisi UU Desa, ini penjelasannya

Berita Terkait

Air mancur dadakan di Cibadak Sukabumi, warga: Seharusnya ada tindakan
Jaringan penyuplai narkoba ke AKBP Didik Putra Kuncoro kabur ke Sukabumi ajak wanita
10 Perda baru disahkan DPRD Kabupaten Sukabumi, perubahan BPR hingga penataan mal
Jembatan gantung Tegalbuleud Sukabumi nyaris putus, pemotor jatuh ke sungai
Dendi, wisatawan asal Depok ditemukan mengambang tak bernyawa di pantai Sukabumi
Silaturahim dengan KDM, Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi: Kunci hadapi tantangan ke depan
Korban berjatuhan, truk sumbu tiga kompak langgar aturan di Sukabumi tak takut polisi
Tak bisa berenang, pemancing asal Cisaat Sukabumi tewas tenggelam di laut

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 14:52 WIB

Air mancur dadakan di Cibadak Sukabumi, warga: Seharusnya ada tindakan

Sabtu, 4 April 2026 - 01:40 WIB

Jaringan penyuplai narkoba ke AKBP Didik Putra Kuncoro kabur ke Sukabumi ajak wanita

Jumat, 3 April 2026 - 03:21 WIB

10 Perda baru disahkan DPRD Kabupaten Sukabumi, perubahan BPR hingga penataan mal

Kamis, 2 April 2026 - 14:38 WIB

Jembatan gantung Tegalbuleud Sukabumi nyaris putus, pemotor jatuh ke sungai

Selasa, 31 Maret 2026 - 19:47 WIB

Dendi, wisatawan asal Depok ditemukan mengambang tak bernyawa di pantai Sukabumi

Berita Terbaru

Honda HRD 125 - Honda

Otomotif

Ini spesifikasi Honda HRD 125, skutik petualang seharga Beat

Selasa, 7 Apr 2026 - 04:30 WIB

Ilustrasi WhatsApp - sukabumiheadline.com

Teknologi

Nikmati fitur penterjemah WhatsApp otomatis ke 20 bahasa

Selasa, 7 Apr 2026 - 02:19 WIB