Sarapan dengan telur dadar atau ceplok? Ternyata cara masak berdampak beda bagi tubuh

- Redaksi

Sabtu, 18 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi telur dadar dan telur ceplok - sukabumiheadline.com

Ilustrasi telur dadar dan telur ceplok - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Sarapan dengan telur dadar atau ceplok? Ternyata cara masak bisa mengubah kandungan gizinya lho. Padahal, memilih telur ceplok atau telur dadar sering kali menjadi perdebatan, terutama bagi masyarakat yang ingin menjaga pola makan sehat.

Menjadi Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani, secara umum telur ceplok dan telur dadar memiliki kandungan gizi yang hampir sama.

Perbedaan utamanya terletak pada jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan selama proses pengolahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar,” ujarnya dikutip sukabumiheadline.com dari laman resmi kampus, Sabtu (18/6/2026).

“Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak,” lanjut Karina.

Ditambahkan Karina, telur dadar berpotensi memiliki kandungan kalori dan lemak yang lebih tinggi karena cenderung menyerap lebih banyak minyak. Selain itu, penambahan bahan seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang juga dapat meningkatkan nilai energi pada hidangan tersebut.

Lebih lanjut, Karina menerangkan bahwa proses memasak justru memberikan manfaat terhadap kualitas protein telur. Menurutnya, pemanasan menyebabkan protein mengalami denaturasi sehingga lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.

“Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen,” ungkapnya.

Meski demikian, Karina mengingatkan agar telur tidak dimasak pada suhu yang terlalu tinggi dalam waktu lama. Suhu memasak yang dianjurkan berkisar 60–80 derajat Celsius, sedangkan pemanasan di atas 150–160 derajat Celsius berpotensi merusak sebagian asam amino dan menurunkan kualitas gizinya.

Bagi masyarakat yang sedang menjaga berat badan, Karina menyarankan metode memasak tanpa minyak, seperti merebus, membuat poached egg, atau mengukus.

Namun, ia menegaskan bahwa telur ceplok maupun telur dadar tetap dapat menjadi pilihan selama penggunaan minyak dibatasi, misalnya dengan memanfaatkan wajan anti lengket atau minyak semprot.

Selain itu, Karina meluruskan anggapan bahwa kuning telur sebaiknya dihindari karena kandungan kolesterolnya.

Ia menjelaskan bahwa kuning telur justru kaya akan vitamin dan mineral penting. Berdasarkan berbagai penelitian terbaru, konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung.

Menurutnya, peningkatan kolesterol darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi pangan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber kolesterol.

Karena itu, Karina mengimbau agar masyarakat tidak ragu mengonsumsi telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang dengan tetap memperhatikan cara pengolahannya.

Berita Terkait

86 RS kerjasama dengan Pemprov Jabar, 6 RSUD Sukabumi, 14 RS di Jakarta dan Bandung
Berapa lama simpan sisa makanan dalam kulkas tetap sehat dikonsumsi?
Remaja Sukabumi bicara setumpuk masalah Gen Z, dari burn out hingga gaya hidup FOMO
Jangan dibuang! Ini deretan khasiat kulit semangka
Kenali 5 ciri hubungan toxic yang harus segera diakhiri
Jangan anggap remeh rambut rontok, ini daftar ciri perempuan idap autoimun
10 AMDK layak minum hasil uji TDS, rendah senyawa anorganik, garam dan logam berat
Membanding ciri orang dengan frekuensi tinggi dan rendah

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:00 WIB

86 RS kerjasama dengan Pemprov Jabar, 6 RSUD Sukabumi, 14 RS di Jakarta dan Bandung

Minggu, 27 September 2026 - 23:00 WIB

Berapa lama simpan sisa makanan dalam kulkas tetap sehat dikonsumsi?

Minggu, 13 September 2026 - 02:50 WIB

Remaja Sukabumi bicara setumpuk masalah Gen Z, dari burn out hingga gaya hidup FOMO

Minggu, 6 September 2026 - 05:33 WIB

Jangan dibuang! Ini deretan khasiat kulit semangka

Selasa, 1 September 2026 - 20:12 WIB

Kenali 5 ciri hubungan toxic yang harus segera diakhiri

Berita Terbaru