Tinjauan psikologi dan politik mengapa kritik ditanggapi dengan sindiran dan ejekan

- Redaksi

Rabu, 15 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Prabowo Subianto - sukabumiheadline.com

Ilustrasi Prabowo Subianto - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Presiden Prabowo Subianto tercatat sudah empat kali menyerang balik para pengkritiknya. Ia meminta pihak-pihak yang berpandangan pesimistis terhadap kondisi Indonesia untuk mencari negara lain apabila merasa masa depan Indonesia suram.

Terbaru, Prabowo menyampaikan hal senada saat berpidato dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Jakarta, Ahad (12/7/2026).

Prabowo mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa bersatu membangun negara daripada terus menyebarkan pesimisme.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan. Tidak ada yang melarang,” kata Prabowo. Baca selengkapnya: Empat kali serang balik pengkritik, Prabowo: Silakan cari negara lain

Dalam dunia politik, gaya komunikasi menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kepercayaan publik. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat kini tidak hanya menilai kebijakan, tetapi juga cara pejabat publik berbicara dan berinteraksi.

Gaya bicara yang tidak tepat dapat memperlebar jarak antara pemerintah dan rakyat, sedangkan komunikasi yang jujur dan terbuka mampu membangun kedekatan dan kepercayaan.

Gaya komunikasi pejabat yang semakin lepas dari norma dan cenderung kasar memunculkan pertanyaan: apakah ini strategi komunikasi politik spontanitas untuk menarik simpati publik, atau justru berisiko semakin memperlebar jarak antara pemerintah dan rakyatnya?

Mengapa kritik ditanggapi dengan sindiran dan ejekan?

Firman Kurniawan, pengamat budaya dan komunikasi digital di Universitas Indonesia, menilai bahwa penggunaan bahasa informal yang cenderung kasar dalam komunikasi pejabat publik bukan sekadar masalah gaya komunikasi, tetapi juga mencerminkan pola interaksi pemerintah dengan masyarakat.

“Secara teoritis maupun secara praktis, pemerintah, atau mereka yang menjalankan amanat dari rakyat, membutuhkan partisipasi (masyarakat). Ketika dialog (antara pemerintah dan masyarakat) itu kemudian ditutup dengan kata-kata yang tidak pantas, masyarakat akhirnya akan mengambil jarak, sehingga secara teoritis partisipasi publik akan menjadi minim,” terangnya di VOA Indonesia.

Terbiasa pidato di ruang tertutup dan terbatas 

Pernyataan Prabowo yang kerap ceplas-ceplos hingga kasar dengan mengeluarkan umpatan “Ndasmu!“, “Kau yang gelap!” dan lainnya itu, disindir akun Instagram @whatthe.pol. Unggahan akun tersebut juga memberikan alasan psikologis terkait sikap Prabowo tersebut.

“Kenapa prabowo selalu berpidato seenaknya jika tanpa text?” tulis @whatthe.pol dikutip sukabumiheadline.com, Rabu (15/7/2026).

“Prabowo tidak punya pengalaman menjadi kepala daerah yang dipilih
langsung. Muscle memory Prabowo
adalah berpidato di ruang-ruang tertutup yang dipenuhi gebyar semu
para pemujanya,” tambahnya di uanggahan yang sudah mendapatkan puluhan ribu tanggapan itu.

Fenomena pejabat publik yang berbicara kasar dan ceplas-ceplos biasanya merupakan bagian dari strategi komunikasi politik yang disengaja untuk membangun citra sebagai sosok yang tegas, merakyat, dan antikemapanan.

Selain itu, gaya ini juga kerap digunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk mengalihkan perhatian dari substansi masalah atau untuk mendiskreditkan pengkritik.

Mendekatkan diri dengan masyarakat 

Mengutip artikel Bernadetha Kiara Gita Ola yang berjudul Menilik Gaya Koboi ala Purbaya, di laman resmi Universitas Padjajaran (Unpad), pejabat yang doyan bicara ceplas-ceplos adalah upaya mendekatkan diri dengan rakyat.

Bahasa yang ceplas-ceplos dianggap sebagai antitesis dari bahasa birokrasi yang kaku. Hal ini membuat pejabat terkesan lebih egaliter, apa adanya, dan tidak berjarak dengan masyarakat kelas bawah.

“Namun, gaya bicara yang ceplas-ceplos tidak selalu berhasil diterima publik dengan baik. Beberapa politisi lain menerapkan gaya serupa tanpa mempertimbangkan empati dan konteks sosial. Akibatnya, pernyataan mereka sering memicu kontroversi, meremehkan persoalan rakyat, atau bahkan menyinggung kelompok tertentu,” kata Kiara Gita.

“Demo besar pada akhir Agustus hingga awal September 2025 menunjukkan bagaimana pernyataan yang tidak berempati dapat memicu kemarahan publik. Saat politisi menyampaikan pesan tanpa kepekaan, gaya blak-blakan justru berubah menjadi arogansi politik yang memperlebar jarak dengan masyarakat,” lanjut dia.

Mencitrakan ketegasan

Gaya komunikasi pejabat yang ceplas-ceplos untuk mencitrakan ketegasan dan kekuatan. Gaya bicara yang keras sering dipahami oleh sebagian masyarakat sebagai simbol ketegasan, keberanian, dan kemampuan bertindak cepat sering disebut gaya koboi.

Selain Prabowo, gaya komunikasi seperti ini juga kerap dilakukan Kepala Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, hingga Sekretaris Kabinet Tedy Indra Wijaya.

Menghindari disalahkan 

Menurut Agie Nugroho Soegiono dan Muhammad Dzulfikar Al Ghofiqi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya di artikel Mengapa pejabat kerap menjelekkan pengkritiknya, bukan mengevaluasi kebijakan? di Conversation, pejabat ceplas-ceplos sebagai blame avoidance atau menghindari disalahkan.

Alih-alih menjawab kritik publik dengan data atau evaluasi kebijakan, pejabat terkadang menyerang balik pengkritik untuk menutupi kelemahan atau masalah substansial.

Saat menghadapi kritik, pejabat kerap membalas dengan menyerang balik atau mempertanyakan latar belakang pengkritik alih-alih membahas substansi masalah. Taktik ini efektif untuk meredam tekanan publik secara instan tanpa harus mengevaluasi kebijakan.

“Dalam studi kebijakan publik, fenomena ini dapat dipahami melalui dua konsep: blame avoidance dan chilling effect. Keduanya membantu menjelaskan bagaimana cara pejabat merespons kritik tidak hanya berdampak pada debat elite, tetapi juga pada kualitas ruang kebebasan berpendapat secara lebih luas,” katanya.

“Pola semacam ini bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan cermin dari lemahnya budaya akuntabilitas di kalangan pejabat untuk mempertanggungjawabkan substansi kebijakan ke publik.”

Kebutuhan panggung politik 

Masih menurut Conversation, gaya komunikasi ceplas-ceplos juga menjadi kebutuhan panggung politik. Hal itu karena dalam lanskap media sosial dan era informasi cepat, pernyataan kontroversial dan emosional lebih mudah viral dan menarik perhatian publik.

Cara bawahan menyenangkan atasan

Selain itu, budaya birokrasi yes-man. Iklim di mana bawahan terbiasa menyenangkan atasan membuat pejabat terbiasa mendominasi pembicaraan tanpa ada yang berani mengoreksi atau menegur cara bicaranya.

Berita Terkait

Remaja Sukabumi bicara setumpuk masalah Gen Z, dari burn out hingga gaya hidup FOMO
Jangan dibuang! Ini deretan khasiat kulit semangka
Kenali 5 ciri hubungan toxic yang harus segera diakhiri
Jangan anggap remeh rambut rontok, ini daftar ciri perempuan idap autoimun
10 AMDK layak minum hasil uji TDS, rendah senyawa anorganik, garam dan logam berat
Membanding ciri orang dengan frekuensi tinggi dan rendah
Khasiat air kelapa muda: Menjaga kesehatan jantung, cegah batu ginjal, baik untuk diet
5 desain kamar mandi 1,5 x 1,5 m, nyaman, higienis, elegan dan minimalis menurut feng shui

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:50 WIB

Remaja Sukabumi bicara setumpuk masalah Gen Z, dari burn out hingga gaya hidup FOMO

Minggu, 6 September 2026 - 05:33 WIB

Jangan dibuang! Ini deretan khasiat kulit semangka

Selasa, 1 September 2026 - 20:12 WIB

Kenali 5 ciri hubungan toxic yang harus segera diakhiri

Selasa, 1 September 2026 - 15:52 WIB

Jangan anggap remeh rambut rontok, ini daftar ciri perempuan idap autoimun

Jumat, 28 Agustus 2026 - 05:06 WIB

10 AMDK layak minum hasil uji TDS, rendah senyawa anorganik, garam dan logam berat

Berita Terbaru

Makam kuno yang diyakini sebagai makam Raden Purbaya alias Gatotkaca atau Raksabaya - Istimewa

Kultur

Menelusuri cerita Gatotkaca singgah di Purabaya Sukabumi

Kamis, 17 Sep 2026 - 15:53 WIB

Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Sukabumi tentang Pertanggungjawaban APBD 2024 dan Dana Cadangan Pilbup 2029 - Humas Setwan DPRD Kabupaten Sukabumi

Legislatif

DPRD Kabupaten Sukabumi setujui Perubahan APBD 2026

Rabu, 16 Sep 2026 - 21:37 WIB