sukabumiheadline.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan agar jutaan penderita tuberkulosis (TB) di Indonesia menjadi salah satu kelompok prioritas penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara menurut data terbaru di Kabupaten Sukabumi terungkap jumlah temuan baru TBC atau Tuberkulosis pada 2025. Angka terbaru menunjukkan penemuan baru TBC mencapai lebih dari 10 ribu kasus.
Untuk informasi, TBC adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang umumnya menyerang paru-paru tetapi juga dapat menyebar ke organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, tulang, atau selaput otak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gejala umum tanda-tanda tubuh terinfeksi TBC agar bisa ditangani sedini mungkin, adaah batuk terus-menerus selama dua minggu atau lebih, terkadang disertai dahak atau darah.
Baca Juga: Miris, bocah 11 tahun di Gunungguruh Sukabumi alami gizi buruk dan TBC
Kemudian, demam ringan yang sering muncul pada sore atau malam hari, sering berkeringat di malam hari tanpa melakukan aktivitas fisik, terjadi penurunan berat badan drastis tanpa alasan yang jelas, dan tubuh mudah lemas dan hilangnya nafsu makan.
Penyakit ini sangat rentan menyerang mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah.
Baca Juga: Waspada! Ini daftar 11 penyakit mematikan, ada stroke, sirosis dan TBC

Adapun rincian temuan baru dikutip sukabumiheadline.com dari data Kasus Penyakit dan Jenis Penyakit Menurut Kecamatan di Kabupaten Sukabumi, 2025, Kamis (28/5/2026), ada puluhan ribu temuan baru kasus TBC.
Kecamatan Cicurug, Palabuhanratu, Sukaraja, Parungkuda dan Cisaat, merupakan 5 besar kecamatan dengan temuan baru kasus TBC terbanyak pada 2025. Baca selengkapnya: 10 ribu lebih temuan baru TBC di Kabupaten Sukabumi, Cicurug terbanyak
Dengan demikian, jumlah temuan baru TBC di Kabupaten Sukabumi pada 2025 sebanyak 10.681 kasus baru.
Angka tersebut merupakan temuan baru, dan tidak termasuk jumlah penderita TBC pada 2024 dan 2023. Baca selengkapnya: Cicurug, Cisaat dan Nagrak, kecamatan dengan temuan penderita TBC terbanyak di Sukabumi
Namun demikian upaya penanggulangan juga terus dilakukan, sehingga banyak di antaranya juga sudah sembuh dari TBC.
Berita Terkait: Penderita TBC di Kabupaten Sukabumi naik 300%, Cibadak terbanyak
Menkes mau pasienn TB jadi penerima program MBG

“Orang-orang yang sakit tuberkulosis 1 juta loh di Indonesia setiap tahun. Meninggal 160 ribu, jadi kita ngomong 5 menit meninggal dua orang,” kata Budi usai peluncuran dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Berita Terkait: Cicurug, Cisaat dan Nagrak, kecamatan dengan temuan penderita TBC terbanyak di Sukabumi
Budi mengatakan, usulan tersebut telah disampaikan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang. Menurutnya, pasien TB yang mendapat kombinasi pengobatan dan asupan gizi memadai memiliki peluang sembuh yang lebih besar.
“Kalau kita obati dan gizinya disuplai, ditambah, kemungkinan sembuhnya lebih besar,” ujarnya.
Selain pasien TB, Budi juga meminta program MBG memberikan perhatian lebih kepada tiga kelompok lain yang dinilai krusial dari sisi kesehatan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Budi bilang, ibu hamil perlu mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk menekan risiko berbagai masalah kesehatan pada ibu maupun bayi. Setelah melahirkan, kebutuhan gizi ibu menyusui juga harus terpenuhi agar proses pemberian ASI dapat berjalan optimal, terutama selama dua tahun pertama kehidupan anak.
Sementara itu, balita menjadi kelompok yang tak kalah penting karena berada pada masa emas pertumbuhan atau golden period. Pemenuhan gizi pada periode tersebut dinilai sangat menentukan perkembangan fisik dan kognitif anak di masa depan.
“Jadi ibu hamil, ibu menyusui, yang ketiga balita, dan yang keempat saya titip juga karena program Bapak Presiden itu tuberkulosis,” kata Budi.
Ia mengungkapkan telah menyampaikan usulan tersebut kepada BGN dan mendapat respons positif. Budi mengatakan, skema penerima manfaat MBG ke depan masih dimungkinkan untuk disesuaikan agar menjangkau kelompok-kelompok yang memiliki kebutuhan gizi tinggi dari sisi kesehatan masyarakat.
“Beliau menyukainya. Nanti mungkin akan ubah Perpres sedikit, karena sekarang kan diberikan ke anak-anak sekolah, dan bukan berarti saya menolak yang untuk di sekolah ya,” ujarnya.
Saat ini, lanjut Budi, pemerintah tengah membahas penguatan sasaran program bersama BGN dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Evaluasi dampak MBG nantinya akan dilakukan melalui data pemeriksaan kesehatan dan status gizi sehingga perbaikan program dapat dievaluasi berdasarkan bukti atau evidence based policy.









