Setelah di Spanyol, Muhammadiyah Kembali Tertarik Beli Gereja Bangkrut di Eropa

- Redaksi

Jumat, 14 Juli 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Katedral Katolik Limburg di Hesse, Jerman. l hidupkatolik.com

Katedral Katolik Limburg di Hesse, Jerman. l hidupkatolik.com

sukabumiheadline.com l Muhammadiyah dikabarkan kembali tertarik membeli gereja di Eropa yang ditinggal jemaatnya. Kabar tersebut menyeruak setelah sejumlah gereja di Eropa mengalami pengurangan jumlah jemaat.

Bahkan, banyak gereja yang beralihfungsi jadi kelab malam hingga ada yang mau dibeli Muhammadiyah.

Fenomena ini sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun belakangan di sejumlah negara Eropa, seperti Jerman, Belgia, Belanda, Inggris, Skotlandia, hingga Swedia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Jerman, angka jemaat Katolik yang meninggalkan gereja bahkan mencapai rekor. Berdasarkan data Majelis Pendeta Jerman (DBK), sebanyak 522.821 jemaat meninggalkan gereja Katolik pada 2022.

Diberitakan Deutsche Welle, angka itu melonjak dari tahun sebelumnya, ketika 359.338 jemaat meninggalkan gereja Katolik pada 2021.

Sementara, jumlah jemaat gereja protestan yang menurun drastis juga menjadi sorotan usai Jerman menghadapi “krisis jemaat.”

Umat Protestan merupakan mayoritas di Jerman. Namun, jumlah mereka terus menyusut. Menurut lembaga Evangelische Kirche in Deutschland (KD), jumlah umat Protestan kini hanya berjumlah 19,1 juta anggota atau mewakili 22,7 persen dari total populasi di Jerman.

Terlepas dari itu, jumlah jemaat gereja pernah mencapai angka yang fantastis usai Reformasi Protestan Martin Luther, perombakan aturan dan pemisahan dari Gereja Katolik.

Baca Juga :  Menelisik Asal-usul Masjid di Atas Bukit Gegerbitung Sukabumi

Martin adalah seorang pendeta sekaligus aktivis yang memimpin gerakan penuntutan hak-hak sipil.

Ia juga menentang hierarki gereja dan menolak ajaran Gereja Katolik soal pembenaran atau bagaimana orang diselamatkan melalui indulgensi (konsep pengampunan dosa).

Pada saat itu, indulgensi bisa dibeli dan menjadi sarana eksploitasi ekonomi. Konsep ini menggerogoti orang miskin bagi mereka yang takut hukuman di akhirat.

Reformasi Protestan dimulai pada 1517, saat Luther menancapkan 95 Tesis di pintu Gereja Kastil Wittenberg, Jerman, demikian dikutip New Yorker.

Dokumen itu berisi 95 gagasan soal kekristenan yang mengundang orang untuk debat publik dengan Luther. Ide-ide ini dianggap kontroversial karena secara langsung bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik, demikian dikutip National Geographic.

“Umat Kristen harus diberi pelajaran bahwa dia yang memberi kepada orang miskin atau meminjamkan kepada yang membutuhkan melakukan perbuatan yang lebih baik daripada dia yang membeli indulgensi,” demikian bunyi Tesis ke 43, dikutip New Yorker.

Selain itu, ada pula poin yang lebih provokatif yakni tesis ke-45. Luther memprotes kesalahan doktrin dan eksploitasi sosial imbas ajaran gereja yang dianggap keliru.

Baca Juga :  Masjid Al Munawaroh, Saksi Bisu Penjajahan Belanda di Sukabumi

“Orang Kristen harus diberi pelajaran, dia yang melihat tetangganya dalam kesusahan dan, bagaimanapun, membeli kesenangan bukanlah mengambil bagian dalam pengampunan Paus, tetapi dalam murka Tuhan.”

Ini menjadi tanda lahirnya Protestan, sekaligus pecahnya Gereja Katolik Roma. Namun, beberapa sumber menyebut ini hanya aksi simbolik terkait perlawanan.

Gereja Katolik Roma mematuhi aturan Paus, sementara Gereja Protestan menentang aturan-aturan yang sebelumnya ditetapkan.

Keberatan Luther terhadap sistem indulgensi juga membuka jalan terhadap doktrin Katolik lain di seluruh Eropa. Misalnya, John Calvin di Prancis dan Huldrych Zwingli di Swiss. Mereka mengusulkan hal baru soal praktik Perjamuan Kudus.

Hari-hari setelah itu, Gereja Protestan tumbuh subur. Namun, saat ini kondisinya seolah kembali terbalik, setelah banyak gereja dikabarkan mengalami krisis jemaat.

Fenomena serupa juga terlihat di Spanyol. Muhammadiyah Jawa Timur bahkan ingin membeli salah satu gedung gereja di Spanyol untuk dijadikan masjid.

Diberitakan sukabumiheadline.com sebelumnya, mengutip dari This Week in Asia, Kamis (10/11/2022), gereja Gereja Iglesia Abacial, Spanyol dulunya adalah masjid dan berdiri di atas tanah seluas 3.000 meter persegi.

Gereja tersebut kemudian bangkrut dan dibeli Muhammadiyah. Baca lengkap: Sejarah Gereja Iglesia Abacial Spanyol Dibeli Muhammadiyah untuk Masjid

Berita Terkait

RS Pusat Pasukan Bela Diri Jepang akan rawat warga Gaza yang sakit dan terluka
Pasukan Israel bersumpah kuasai lebih luas wilayah Gaza
Profil Paetongtarn Shinawatra, PM Thailand dekat dengan kelompok Muslim
Kriangkrai Techamong, PRT picu permusuhan berdarah Thailand-Arab Saudi
Fenomena “anak dengan ekor busuk”, petaka baru generasi muda China
RI kalah dari Timor Leste, ini ranking negara paling korup versi TI
Profil Oleg Gorokhovsky, pemilik bank Ukraina galang dana untuk beli senjata nuklir
Bersiap perang besar di Gaza, PM Israel panggil 400.000 tentara cadangan

Berita Terkait

Kamis, 27 Maret 2025 - 18:54 WIB

RS Pusat Pasukan Bela Diri Jepang akan rawat warga Gaza yang sakit dan terluka

Sabtu, 22 Maret 2025 - 05:38 WIB

Pasukan Israel bersumpah kuasai lebih luas wilayah Gaza

Selasa, 18 Maret 2025 - 10:00 WIB

Profil Paetongtarn Shinawatra, PM Thailand dekat dengan kelompok Muslim

Senin, 17 Maret 2025 - 03:00 WIB

Kriangkrai Techamong, PRT picu permusuhan berdarah Thailand-Arab Saudi

Minggu, 16 Maret 2025 - 19:58 WIB

Fenomena “anak dengan ekor busuk”, petaka baru generasi muda China

Berita Terbaru