Silsilah Raden Wijaya, Jaka Susuruh dari Pasundan cucu Raja Sunda pendiri Majapahit

- Redaksi

Kamis, 27 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit - Wikimedia Commons

Ilustrasi Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit - Wikimedia Commons

sukabumiheadline.com – Majapahit merupakan salah satu kerajaan Hindu Budha yang terakhir berada di Nusantara dan eksis pada abad sekitar 13 hingga 16. Dalam sejarahnya, Majapahit disebut sebagai salah satu kerjaan terbesar dengan wilayah yang mencakup hampir seluruh Nusantara.

Kerajaan Majapahit didirikan pada 1293 Masehi oleh raja pertamanya, yaitu Raden Wijaya menantu dari Kertanegara yang jadi raja terakhir dari Singasari.

Baca Juga:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Siapakah Raden Wijaya?

Raden Wijaya memiliki nama asli Sang Naraya Snggramawijaya. Ayah dari Raden Wijaya adalah seorang pangeran yang berasal dari Kerajaan Sunda Galuh bernama Rakyan Jayadarma. Sedangkan ibundanya Raden Wijaya adalah Syah Lembu Tal, cucu Ken Arok pendiri Kerajaan Singasari.

Rakyan Jayadarma, ayah dari Raden Wijaya, bukanlah sosok sembarangan, ia seorang putra dari Raja Sunda Galuh yang bernama Prabu Guru Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu. Sebagai seorang putra mahkota Kerajaan Sunda Galuh, Rakyan Jayadarma menetap di Pakuan yang masih wilayah kekuasaan Sunda Galuh.

Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara (Wangsakerta) parwa II sarga 3, Rakyan Jayadarma menikah dengan putri dari Mahisa Campaka asal Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal. Mahisa Campaka sendiri merupakan putra dari Mahisa Wong Ateleng, yang merupakan anak dari Ken Arok dan Ken Dedes dari Kerajaan Singasari.

Rakyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal kemudian memiliki putra bernama Sang Nararya Sanggramawijaya, atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya yang dikatakan lahir di wilayah Pakuan. Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah turunan ke-4 dari Ken Arok dan Ken Dedes.

Namun sayangnya, gelar putra mahkota justru membuat Rakyan Jayadarma harus meninggal dunia dalam usia muda akibat diracun oleh saudara kandungnya sendiri. Alasannya tidak lain adalah demi merebut tampuk kekuasaan Kerajaan Sunda Galuh yang semestinya jatuh ke tangan Rakyan Jayadarma.

Sepeninggal suaminya, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya, ia kembali ke Jawa Timur dengan membawa serta putranya, Raden Wijaya.

Dalam Babad Tanah Jawi Raden Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pasundan. Sebagai keturunan Jayadarma, ia adalah penerus tahta Kerajaan Sunda-Galuh yang sah, apabila ayahnya, Prabu Guru Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu wafat.

Kematian Rakyan Jayadarma membuat kedudukan putra mahkota kosong, karena Raden Wijaya yang sejatinya menjadi pengganti ayahnya yang wafat berada di Jawa Timur bersama ibunya.

Untuk diketahui, dalam versi Negarakertagama, Dyah Lembu Tal disebut berjenis kelamin laki-laki yang merupakan ayah dari Raden Wijaya (bukan ibu). Namun demikian, di kitab ini tidak disebutkan siapa ibu dari Raden Wijaya. Sedangkan dalam Babad Tanah Jawi yang berisi silsilah para raja di tanah Jawa sejak zaman Nabi Adam dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara disebut sebagai perempuan, dan memiliki suami seorang pangeran Sunda bernama Rakyan Jayadarma.

Ada perbedaan pendapat tentang sosok Dyah Lembu Tal. Bagi yang tidak percaya ia seorang laki-laki menilai mustahil ibu seorang Raja Majapahit, istri dari Dyah Lembu Tal, tidak diketahui namanya. Selain itu, Dyah Lembu Tal disebut sebagai gelar, sedangkan nama aslinya adalah Dewi Naramurtti.

Dengan demikian, perdebatan terkait apakah Raden Wijaya memiliki darah Sunda atau tidak, tentunya akan terhenti ketika jenis kelamin Dyah Lembu Tal bisa dipastikan.

Baca Juga: 

Kematian Kartanegara 

Meskipun Raden Wijaya sebenarnya memiliki peluang untuk mewarisi tahta Kerajaan Sunda Galuh. Namun, ia lebih memilih untuk mengabdi di wilayah Jawa Timur asal ibunya, yaitu Kerajaan Singasari pada era pemerintahan Raja Kertanegara.

Pilihan Raden Wijaya untuk mengabdi di Kerajaan Singasari tentu bukan keputusan asal-asalan. Sebab, Raden Wijaya merupakan menantu dari Kertanegara. Kisah asmara dari Raden Wijaya dengan putri dari Raja Kertanegara dituliskan dalam Negarakertagama dan Pararaton.

Dalam Negarakertagama, disebutkan bahwa Raden Wijaya menikah dengan empat putri Raja Kertanegara yaitu Gayatri, Jayendradewi, Nerendraduhita serta Tribhuwaneswari. Permaisuri yang terpilih dari empat putri tersebut adalah Tribuwaneswari sedangkan tiga lainnya adalah selir Raden Wijaya.

Namun dalam Pararaton, disebutkan bahwa Raden Wijaya hanya menikahi dua dari putri Kertanegara. Akan tetapi, Raden Wijaya juga menikahi seorang putri dari Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera bernama Dara Petak. Putri Dara Petak kemudian dibawa oleh Raden Wijaya dalam Ekspedisi Pamalayu di tanah Melayu pada 1275 hingga 1286 M.

Dari pernikahan dengan Dara Petak, Raden Wijaya memiliki soerang putra yang ia beri nama Jayanegara. Akan tetapi menurut Prasasti Sukamerta serta Prasasti Balawi, Jayanegara adalah putra Raden Wijaya dengan permaisuri Tribhuwaneswari.

Sedangkan dari selirnya yang bernama Gayatri, Raden Wijaya memiliki dua putri yaitu Dyah Ditarja atau dikenal pula dengan nama Tribhuwana Wijayatunggadewi serta Dyah Wiyat atau dikenal dengan nama Rajadewi Maharajasa.

Menurut Prasasti Kudadu, pada 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang, Bupati Gelanggelang, terhadap kekuasaan Kerajaan Singasari. Raden Wijaya kemudian ditunjuk oleh Kertanegara untuk menumpas pasukan Gelanggelang yang menyerang dari arah utara Singasari.

Raden Wijaya berhasil memukul mundur musuhnya. Namun, pasukan pemberontak yang lebih besar datang dari arah selatan dan berhasil menewaskan Raja Kertanegara.

Baca lengkap: Intrik dalam Kerajaan Sunda, Raja Galuh Langgar Larangan Nikahi Wanita Jawa

Mendirikan Majapahit

Kerajaan Majapahit berawal dari runtuhnya Kerajaan Singasari akibat pemberontakan Jayakatwang. Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari Singasari, berhasil melarikan diri dari serangan Jayakatwang dan membangun kekuatannya di Madura dengan bantuan Arya Wiraraja, Adipati Madura.

Setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur pada 1293.

Nama Majapahit berasal dari dua kata, yaitu Maja yang berarti buah maja dan rasanya yang pahit. Raden Wijaya menamai kerajaannya dengan nama ini karena merasakan pahitnya pengkhianatan yang dialaminya di masa lalu.

Kemudian Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit pertama. Menurut Kidung Harsa Wijaya, penobatan tersebut terjadi pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka, atau bertepatan dengan 10 November 1293. Raja yang bergelar Sri Narpati Kertarajasa Jayawardhana itu berkuasa hingga 1309.

Kekuasaan Majapahit kemudian dilanjutkan oleh Jayanegara sebagai raja kedua yang memerintah pada 1309-1328. Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan yang ditandai dengan beberapa peristiwa pemberontakan. Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri yang bernama Tanca.

Sedangkan, Tribhuwana Wijayatunggadewi menjadi penguasa ketiga di Majapahit sejak 1328 hingga 1350, hal itu karena Jayanegara tidak memiliki putra. Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan yang berhasil dipadamkan oleh Gajah Mada.

Hayam Wuruk naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun dan mencapai keemasan Kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahannya, Majapahit mencapai puncak kejayaannya dan pengaruhnya sampai ke negara-negara tetangga. Ia berkuasa sejak 1350-1389.

Kemudian, Wikramawardhana (1389-1429). Wikramawardhana sejatinya adalah suami putri mahkota Hayam Wuruk, bernama Kusumawardhani yang naik tahta menggantikan ayahnya. Namun dalam prakteknya, Wikramawardhana yang menjalankan roda pemerintahan.

Adapun Raja-raja Majapahit berikutnya, adalah Suhita/Dyah Ayu Kencana Wungu (1429-1447), Kertawijaya atau Brawijaya I (1447-1451), Rajasawardhana atau Brawijaya II (1451-1453), Purwawisesa atau Girishawardhana atau Brawijaya III (1456-1466), Bhre Pandansalas atau Suraprabhawa atau Brawijaya IV (1466-1468), Bhre Kertabumi atau Brawijaya V (1468 -1478), Girindrawardhana atau Brawijaya VI (1478-1489 M), Patih Udara atau Brawijaya VII (1489-1527).

Masa keemasan Majapahit dan tragedi Bubat 

Masa kejayaan Kerajaan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389) dengan Gajah Mada sebagai Mahapatihnya. Pada masa ini, Majapahit berhasil menguasai wilayah yang sangat luas, bahkan hingga ke Sumatra, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Gajah Mada, dengan Sumpah Palapa-nya, bertekad untuk mempersatukan seluruh Nusantara di bawah panji Majapahit. Berkat kepemimpinannya yang cakap dan strategi yang matang, Gajah Mada berhasil memperluas wilayah Majapahit secara signifikan.

Namun akibat keserakahan Gajah Mada, pamor Majapahit kemudian menurun usai peristiwa Perang Bubat yang menewaskan Raja Sunda Galuh, Prabu Linggabuana dan putrinya, Dyah Pitaloka Citarasemi. Baca lengkap: Gugurnya Dyah Pitaloka Citarasemi di tanah Jawa, harga diri seorang putri Sunda

Berita Terkait

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat
Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan
Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi
Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya
Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi
Hasil rukyatul hilal di Sukabumi, 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin 31 Maret 2025
Mengenang kiprah Wisjnu Mouradhy, jurnalis dan tokoh film nasional asal Sukabumi era 1940
Masih binggung? Jangan abaikan aturan qadha dan fidyah bagi yang batal puasa Ramadhan ini

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 00:01 WIB

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat

Selasa, 1 April 2025 - 20:44 WIB

Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan

Senin, 31 Maret 2025 - 21:56 WIB

Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi

Senin, 31 Maret 2025 - 10:00 WIB

Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya

Minggu, 30 Maret 2025 - 00:01 WIB

Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi

Berita Terbaru