Sultanah Nahrasyiah, penguasa Nusantara dan pelopor emansipasi wanita abad ke-15

- Redaksi

Selasa, 9 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sultanah Nahrasyiah - Istimewa

Sultanah Nahrasyiah - Istimewa

sukabumiheadline.com – Sultanah Nahrasyiah (Narasyiya/Nahrisyah) adalah seorang putri keturunan Sultan Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash-Shahih (Sultan Malik As-Saleh). Ia merupakan raja perempuan (sultanah) pertama serta satu-satunya yang pernah memimpin Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Ia wafat pada 17 Zulhijah 832 atau 27 September 1428.

Selama masa kepemimpinannya sejak tahun 1405-1428 M (23 tahun), Kerajaan Samudera Pasai mengalami masa kejayaan dimana emansipasi semakin berkembang dan kaum wanita turut serta menyebarkan agama Islam.

Ia dikenal memiliki sifat keibuan dan penuh kasih sayang, serta selalu memuliakan harkat dan martabat perempuan. Ia mendapatkan gelar Malikah Muazzamah (Ratu Dipertuankan Agung) dan Ra-Baghsa Khadiyu (Penguasa yang Pemurah).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Catatan tentang itu dapat ditemukan pada batu nisannya yang ada di Kompleks II (Kuta Karang) di wilayah Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara (18 km di timur Kota Lhokseumawe) dan terletak tidak jauh dari makam Sultan Malikussaleh yang terletak di Kompleks I makam Raja-Raja Samudera Pasai.

Dalam catatan sejarah

Selain keterangan yang ada di makam, catatan sejarah mengenai Ratu Nahrisyah juga terdapat pada sejarah Cina, yakni kronik Ying-yai sheng-lan. Dalam naskah tersebut terdapat laporan umum mengenai pantai-pantai Sumatra waktu itu serta menyebutkan raja-raja yang berkuasa.

Dalam kronik dinasti Ming (1368-1643) buku 32 diceritakan, Sekandar (Iskandar) keponakan suami kedua Ratu bersama ribuan pengikutnya menyerang armada Cheng Ho yang sedang melakukan ekspedisi ke Nusantara.

Tapi, serdadu-serdadu Cina berhasil mengalahkan penyerang tersebut hingga kemudian Sekandar ditangkap dan dibawa sebagai tawanan Istana Maharaja Cina. Di sana, Sekandar dijatuhi hukuman mati.

Menurut Ibrahim, Ratu yang dimaksud dalam cerita Cina tersebut adalah Ratu Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin atau dalam literatur Cina sebagai Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki.

Sejarawan lain yang menulis kebesaran Ratu Nahrisyah adalah JP Moquette.Dia menulis buku De Grafsteenen Te Pase En Grissee Verge Liken Met Dergelijke Mo Menten Uit Hindoestan, diterbitkan dalam Tijdschrift Voor Indishe Taal Land-en Volkenkunde, Deel LIV, 1921. Menurut JP Moquette Ratu Nahrisiyah meninggal pada 27 September 1428 M.

Sultanah Nahrisiyah dikenal sebagai Malikah Muazzamah, yang memiliki arti ratu yang dipertuan agung. Epitaf pada makamnya menyebutkan bahwa Ratu Nahrasiyah bergelar Ra-Baghsa Khadiyu (Penguasa yang Pemurah). Kata dalam gelar tersebut seperti dari bangsa Persia.

T. Ibrahim dan beberapa sejawarawan lain mencatat Ratu Nahrasiyah adalah sosok pemimpin besar yang disegani. Menurut keterangan juru kunci makam dan sesepuh yang ada di sekitarnya, pada era kemepimpinan Ratu Nahrisyah Samodra Pasai menjadi kerajaan yang mampu mengendalikan ekonomi di Kawasan Asia Tenggara.

Pada saat itu beredar enam mata uang asing di Pasai, selain dinar yang menjadi mata uang kerajaan Pasai yang waktu itu berbentuk koin emas. Meskipun Ratu Nahrisyah merupakan pemimpin kerajaan yang masyur namun namanya tidak dicantumkan dalam mata uang dinar yang beredar saat itu.

Padahal, pencantuman nama sultan di mata uang emas merupakan kebiasaan. Justru nama Salahuddin yang tertera dalam mata uang tersebut dengan gelar Sulthan al Adillah. Salahudin adalah suami Ratu Nahrisiyah yang kedua. Dia kawin dengan Salahudin setelah suami pertamanya wafat.

Tentang Sultanah Nahrasiyah juga ditulis dan dikaji oleh JP Moquette dalam buku De Grafsteenen Te Pase En Grissee Verge Liken Met Dergelijke Mo Menten Uit Hindoestan,diterbitkan dalam Tijdschrift Voor Indishe Taal Land-en Volkenkunde, Deel LIV, 1921.

JP Moquette menghitung meninggalnya Sultanah Nahrasiyah dalam tahun masehi. Menurutnya, mendiang Ratu Nahrasiyah meninggal pada 27 September 1428 M. Sultanah Nahrasiyah adalah salah seorang Ratu Pasai keturunan Malik As-Shalih.

Kondisi makam Sultanah Nahrasyiah

Sultanah Nahrasyiah
Malam Sultanah Nahrasyiah – Aceh Tourism

Berdasarkan penuturan dari Prof. Dr. Christiaan Snouck Hurgronje dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar di Rijksuniversiteit Leiden pada tanggal 23 Januari 1907, makam Sultanah Nahrasyiah yang terletak tidak jauh dari Kompleks I malam raja-raja Samudera Pasai ini mungkin adalah makam terindah di Asia Tenggara karena terbuat dari batu pualam yang didatangkan langsung dari Gujarat, India, memiliki jirat yang tinggi dan bersatu dengan bagian nisannya, serta bagian dindingnya dihiasi dengan pahatan ukiran-ukiran kaligrafi Al-Quran yang berbahasa Arab.

Di wilayah makam Sultanah Nahrasyiah terdapat ukiran-ukiran kaligrafi berbahasa Arab yang jika diterjemahkan berbunyi, “Inilah kubur wanita yang bercahaya, yang suci, ratu yang terhormat, almarhumah yang diampunkan dosanya, Nahrasiyah, sulthanah putri Sulthan Zainal Abidin putra Sulthan Ahmad putra Sulthan Muhammad putra Sulthan Al Malikul Salih. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampuni dosanya meninggal dunia dengan rahmat Allah pada Senin, 17 Dzulhijah 832”.

Pada sisi lain dinding makam juga terdapat ukiran kaligrafi ayat-ayat Al-Quran, seperti Surat Yasin, Surat Al-Baqarah ayat 285 dan 298, serta Surat Ali-Imran ayat 18 dan 19.

Berita Terkait

Presiden Suriah keturunan Nabi SAW sang pembebas, Imam Mahdi dan tanda kiamat
Jejak sejarah 1 April, dari April Mop, Hari Jadi Kota Sukabumi dan Blitar hingga Okinawa
Profil dan perjalanan karier Fitria Yusuf, bos jalan tol mualaf karena ayah rajin sedekah
Jadwal jemaah haji 2026 berangkat ke Tanah Suci, di tengah kecamuk perang Timur Tengah
Hari jadi ke-60, mengenang 5 periode Setukpa Polri Sukabumi
Tahun Baru Kristen, sejarah 25 Maret Hari Kabar Gembira bagi pemeluk Kristiani
Membaca pesan di Prasasti Sukabumi 25 Maret 804, kenapa ada di Kediri?
Rasulullah SAW anjurkan perempuan haid sekalipun tetap hadir shalat Id di lapangan

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 04:22 WIB

Presiden Suriah keturunan Nabi SAW sang pembebas, Imam Mahdi dan tanda kiamat

Rabu, 1 April 2026 - 19:29 WIB

Jejak sejarah 1 April, dari April Mop, Hari Jadi Kota Sukabumi dan Blitar hingga Okinawa

Selasa, 31 Maret 2026 - 09:00 WIB

Profil dan perjalanan karier Fitria Yusuf, bos jalan tol mualaf karena ayah rajin sedekah

Selasa, 31 Maret 2026 - 02:40 WIB

Jadwal jemaah haji 2026 berangkat ke Tanah Suci, di tengah kecamuk perang Timur Tengah

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:00 WIB

Hari jadi ke-60, mengenang 5 periode Setukpa Polri Sukabumi

Berita Terbaru

Honda HRD 125 - Honda

Otomotif

Ini spesifikasi Honda HRD 125, skutik petualang seharga Beat

Selasa, 7 Apr 2026 - 04:30 WIB

Ilustrasi WhatsApp - sukabumiheadline.com

Teknologi

Nikmati fitur penterjemah WhatsApp otomatis ke 20 bahasa

Selasa, 7 Apr 2026 - 02:19 WIB