sukabumiheadline.com – Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Rabu (20/5/2026) menyentuh Rp17.657,00 per Dolar. Pergerakan kurs Rupiah kembali menjadi sorotan publik setelah nilainya terus menjauh dari asumsi pemerintah dalam target nilai tukar 2026 sebesar Rp16.500 per Dolar AS.
Angka tersebut menjadi rekor nilai tukar Rupiah terendah sepanjang sejarah RI. Seperti diketahui sebelumnya, pada 28 tahun silam, Dolar AS pernah begitu perkasa di depan Rupiah, yakni Rp16.800 pada 1998 lalu.
Bahkan pada masa itu tekanan yang terjadi jauh lebih berat karena lonjakan kurs berlangsung sangat cepat dan kemudian menjalar menjadi gejolak politik nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Krisis tersebut pada akhirnya mengakhiri lebih dari tiga dekade pemerintahan Presiden Soeharto. Meski terjadi pergantian kepemimpinan ke BJ Habibie, pelaku pasar saat itu belum langsung percaya kondisi ekonomi bisa segera pulih karena muncul keraguan terhadap kemampuan pemerintah baru dalam menangani krisis.
Dia bukan ekonom, hanya teknokrat pembuat pesawat yang dianggap kritikus Orde Baru sebagai kebijakan buang-buang uang. Apalagi, saat itu dia juga masih dianggap bagian dari rezim Orde Baru. Bahkan, Presiden Singapura Lee Kuan Yew juga menganggap naiknya Habibie jadi orang nomor satu bisa membuat rupiah makin tak berdaya.
Namun faktanya Habibie berhasil menaklukan dolar lewat 3 cara, yakni restrukturisasi perbankan, kebijakan moneter yang ketat dan mengendalikan harga kebutuhan pokok.
Sebagai catatan, pada masa Orde Baru pendirian bank dipermudah oleh pemerintah berkat kebijakan Paket Oktober 1988. Sayang, kemudahan pendirian bank ini tak dibarengi oleh kemampuan perbankan yang baik. Alhasil, saat terjadi krisis, banyak bank-bank bertumbangan. Nasabah lantas melakukan penarikan dana besar-besaran.
Permasalahan ini jadi fokus utama. Habibie melakukan restrukturisasi perbankan seraya berharap Bank Indonesia makin kuat. Salah satu caranya mencabut aturan tersebut dan mempraktikan langsung pada bank pemerintah. Empat bank milik pemerintah digabung menjadi satu bank bernama Bank Mandiri. Selain itu, dia juga memisahkan BI dari pemerintah lewat UU Nomor 23 tahun 1999.
Dalam otobiografinya, BJ Habibie: Detik-detik yang Menentukan (2006), Habibie mengatakan kebijakan itu jadi langkah terbaik menguatkan rupiah. BI harus independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik.
Selain itu, kebijakan moneter ala Habibie dalam mengatasi krisis melalui penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI diterbitkan dengan bunga tinggi dengan tujuan agar bank-bank kembali dipercaya masyarakat. Jika ini terjadi, maka masyarakat akan kembali menabung, sehingga menurunkan peredaran uang di masyarakat.
Berkat SBI, suku bunga dari 60% turun menjadi belasan persen. Kepercayaan terhadap bank pun kembali meningkat.
Jurus pamungkas pria berdarah Gorontalo itu, memilih mempertahankan harga listrik dan BBM subsidi agar tidak naik, sehingga harga bahan pokok tetap terjangkau di tengah krisis.
Ketiga cara tersebut sukses membuat kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia meningkat. Aliran dana investor kembali masuk. Dan yang terpenting dolar AS kembali menguat dan terkendali ke level Rp6.550.
Di sisi lain, kebijakan ini menuai kontroversi sebab Habibie mengeluarkan pernyataan nyelenah. Dalam salah satu pidatonya, dia pernah meminta rakyat berpuasa di kala krisis supaya lebih hemat dengan menganjurkan rakyat untuk melakukan puasa Senin-Kamis.









