sukabumiheadline.com – Pedagang di Pasar Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengungkap sejumlah persoalan yang dihadapi. Dari mulai kondisi pasar dan fasilitas pendukungnya, hingga dipaksa bersaing dengan pemodal besar.
Diah (55) salah seorang pedagang pakaian menceritakan beratnya jadi pedagang di pasar tersebut. Ia dan pedagang lainnya dipaksa bersaing dengan mini mal yang berdiri di samping Pasar Cicurug.
“Kios yang paling fatal terdampak yang buka jahitan, toko seragam, toko sepatu. Kalau saya kios pakaian,” kata Diah kepada sukabumiheadline.com, Rabu (20/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa hari lalu, Diah juga mengungkapkan kekesalannya akibat munculnya luapan air dari bawah keramik hingga membanjiri semua kios di blok pakaian.
“Banjir itu sudah hampir 8 bulan kita laporan, nggak ditanggapin terus. Bahkan, pernah saat banjir sampai baju daster dagangan saya satu gawang basah semua, karena air masuk ke dalam,” lanjut Diah.
“Karena lama gak ada tanggapan, akhirnya saya posting di TikTok sambil singgung nama pa Dedi (Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi – red), alhamdulillah sekarang udah di per baiki walau katanya sementara,” ungkapnya.
Diah juga menceritakan, pada 2025 lalu pernah ada tiga pembeli di pasar yang jatuh di tangga. Dua korban merupakan pria dewasa dan mengalami luka akibat tertusuk besi pegangan pagar. Sementara, satu korban lainnya meninggal dunia.
“Yang dua korban, bapak-bapak. Pas jatuh saat pegangan ke besi, besinya udah rusak akhirnya sampai ketusuk besi tangannya. Akhirnya harus dijahit luar dalam. Kita sudah laporan, tapi sampai saat ini belum di betulin,” sesal Diah.
Bahkan, Diah menceritakan peristiwa lebih tragis, ketika seorang anak yang hendak turun tangga di arah toko Berkah, lalu pegangan ke besi-besinya. Namun karena besi sudah rapuh, anak tersebut jatuh hingga tertimpa besi tersebut.
“Jatuh, dan anak nya ikut jatuh tertimpa besi. Langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhakti Medicare, tapi keburu meninggal dunia di jalan,” ungkap Diah.
Bersaing dengan pemodal besar
Selain itu, Diah juga menyoal keberadaan mini mal yang berdiri tepat di samping pasar.
“Kami warga pasar berharap aturan diterapkan di Cicurug bahwa minimal (mini mal) harus berjarak 2000 meter, karena kondisi pedagang pasar di sini sudah menghawatirkan. Sudah banyak toko yang tutup,” keluhnya.
“Karena dampak mini mal yang ada di bibir pintu masuk pasar. Kalau di Cibadak kan ada jarak ya, nah kalau di Cicurug kan di bibir pasar banget,” sesal Diah.
“Waktu kami datang ke gubernur, tahun 2025 sehabis Lebaran, waktu itu pak gubernur langsung telpon bupati, tapi sampai sekarang nggak ada respon dari bupati,” ungkap Diah.
Lebih jauh, Diah berharap ada perbaikan fasilitas, terutama besi pegangan tangan di setiap tangga.
“Maunya besi di setiap tangga cepat diganti biar nggak ada lagi korban, dan yang paling kami harapkan aturan terkait mini mall diterapkan agar kami pedagang kecil tidak terdampak karena harus bersaing dengan pemilik modal besar,” pungkas Diah.









