Rupiah loyo Rp17.600 per Dolar, benarkah penduduk di desa tak terpengaruh?

- Redaksi

Minggu, 17 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kondisi utang Indonesia di era kepemimpinan Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka - sukabumiheadline.com

Ilustrasi kondisi utang Indonesia di era kepemimpinan Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Presiden Prabowo Subianto buka suara mengenai pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang kini telah menyentuh level Rp17.600/US$, terlemah sepanjang sejarah.

Meski nilai tukar rupiah anjlok sangat dalam, Prabowo menepis anggapan negatif terkait perekonomian Indonesia yang diramal suram.

“Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar “Indonesia akan collapse, akan chaos“… Orang rakyat di desa enggak pake Dolar kok,” kata Prabowo saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lantas, benarkah rakyat di desa tidak terpengaruh kurs Rupiah yang terus melemah?

Ilustrasi Dolar AS dan Rupiah - sukabumiheadline.com
Ilustrasi Dolar AS dan Rupiah – sukabumiheadline.com

Kurs dolar yang tinggi (melemahnya rupiah) berdampak ganda bagi petani. Di satu sisi, menguntungkan petani komoditas ekspor (seperti sawit atau karet) karena pendapatan dalam Rupiah meningkat, namun sangat merugikan petani pada umumnya karena melonjaknya biaya produksi akibat mahalnya harga pupuk, obat-obatan, dan benih impor.

Petani yang menjual komoditas berorientasi ekspor (seperti kelapa sawit, kakao, kopi, dan karet) akan menerima pembayaran dalam Dolar yang saat dikonversi menjadi rupiah nilainya jauh lebih besar.

Produk pertanian Indonesia menjadi relatif lebih murah dan lebih kompetitif di pasar internasional, sehingga berpotensi meningkatkan volume permintaan.

Namun di sisi lain, semakin melemahnya nilai tukar Rupiah, bakal menjadi beban berat bagi petani domestik (pangan), karena sebagian besar bahan baku pertanian seperti pupuk nonsubsidi, pestisida, dan benih unggul merupakan barang impor yang harganya dipatok dalam Dolar AS.

Dolar yang tinggi membuat biaya perawatan dan operasional harian membengkak tajam.

Dilansir dari laman resmi Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), dari artikel berjudul Dolar Menguat, Industri Sawit Untung atau Buntung?, sektor industri sawit termasuk yang relatif terdampak dengan menguatnya Dolar AS. Ada dua skenario dampak dari tren tersebut.

Kondisi pertama, anjloknya Rupiah dapat menguntungkan industri sawit. Pada kondisi ini, harga di dalam negeri akan secara otomatis mendongkrak kegiatan ekspor. Karena produk-produk Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan Dolar AS. Dan hal ini membuat produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global.

Adapun skenario kedua bisa dianggap merugikan industri sawit bila pelemahan Rupiah berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Salah satu “kerugian” saat Rupiah loyo, yaitu biaya produksi sawit yang akan naik karena biaya impor pupuk yang dibeli dengan dolar AS juga membumbung. Untuk diketahui, rata-rata pupuk menyedot hingga 20% biaya operasional.

“Kalau Rupiah melemah dalam jangka pendek, harga dalam negeri naik, industri sawit di hulu diuntungkan, termasuk petani. Tetapi kalau berlangsung lama akan menaikkan biaya produksi, utamanya dari komponen impor seperti pupuk,” ujar Eddy Martono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), dikutip sukabumiheadline.com, Ahad (17/5/2026)

Daya beli menurun

Ilustrasi petani menerima pembayaran hasil panen - sukabumiheadline.com
Ilustrasi petani menerima pembayaran hasil panen – sukabumiheadline.com

Meskipun harga jual hasil panen (seperti gabah atau sayuran) terkadang ikut merangkak naik, kenaikannya sering kali tidak sebanding dengan lonjakan biaya produksi yang harus dikeluarkan.

Karenanya, Dolar tinggi dapat memicu kenaikan harga komoditas pangan yang bergantung pada impor (seperti gandum, kedelai, dan daging).

Pada gilirannya, kenaikan harga pangan ini sering kali memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat luas. Akibatnya, permintaan untuk produk pertanian lokal tertentu bisa mengalami penurunan karena konsumen harus mengencangkan ikat pinggang.

Dikutip dari website Universitas Gadjah Mada (UGM), pelemahan nilai tukar Rupiah memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga pangan di dalam negeri.

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Hani Perwitasari, menilai situasi ini perlu dicermati karena berpotensi memberi tekanan pada sistem pangan nasional.

Dari perspektif agribisnis, jelas Hani, fluktuasi nilai tukar memiliki dampak yang bervariasi terhadap harga pangan di pasar domestik. Menurut Hani, besarnya pengaruh sangat bergantung pada jenis komoditas serta kondisi ketersediaan di dalam negeri.

Komoditas dengan pasokan yang cukup cenderung lebih stabil meskipun terjadi tekanan kurs. Sebaliknya, keterbatasan pasokan dapat memperbesar potensi kenaikan harga di tingkat konsumen.

“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujarnya.

Kerentanan terhadap pelemahan Rupiah juga berbeda antar komoditas pangan. Hani menjelaskan, produk yang sulit disubstitusi dan memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan tertentu cenderung lebih sensitif terhadap perubahan kurs.

Dalam kondisi seperti ini, tekanan biaya dapat lebih cepat diteruskan ke harga jual. Dampak tersebut kemudian dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga pangan sehari-hari.

“Komoditas yang paling rentan seperti daging, kemudian telur, susu yang memang sulit untuk disubstitusi, maka dia akan lebih rentan terhadap dampak dari pelemahan rupiah ini,” jelasnya.

Kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari struktur pangan nasional yang masih bergantung pada impor. Ia menuturkan, ketika produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan, impor menjadi pilihan untuk menjaga pasokan.

Namun, ketergantungan ini membuat sistem pangan lebih rentan terhadap gejolak eksternal, termasuk fluktuasi nilai tukar. Semakin besar porsi impor, semakin tinggi pula risiko tekanan terhadap harga domestik.

“Semakin tinggi impornya, maka ini akan sangat rentan terhadap gejolak kurs yang ada,” kata Hani.

Selain memengaruhi harga pangan secara langsung, pelemahan rupiah juga berdampak pada biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan. Menurutnya, sejumlah input produksi masih terkait dengan pasar global sehingga sensitif terhadap perubahan nilai tukar.

Kenaikan biaya input pada akhirnya akan meningkatkan total biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha. Kondisi ini berpotensi mendorong penyesuaian harga di tingkat produsen hingga konsumen.

“Nilai tukar akan mempengaruhi biaya produksi, terutama ketika barang-barang produksi ini merupakan barang tradable, sehingga harganya akan naik dan total biayanya meningkat,” ungkapnya.

Dalam jangka pendek, langkah pengendalian harga menjadi penting untuk meredam dampak pelemahan rupiah. Hani mengatakan pemerintah perlu memastikan ketersediaan data yang akurat terkait produksi dan kebutuhan pangan nasional.

Monitoring yang baik akan membantu dalam menentukan kebijakan yang tepat, termasuk keputusan impor ketika pasokan kurang. Di sisi lain, stabilisasi harga perlu dijaga agar tidak merugikan produsen maupun konsumen.

“Kalau kurang ya perlu impor, kalau tidak kurang ya tidak perlu impor, sehingga kebijakan bisa diambil dengan lebih tepat,” tuturnya.

Upaya jangka pendek tersebut perlu diiringi strategi jangka panjang untuk memperkuat produksi pangan domestik. Hani menambahkan dukungan terhadap petani menjadi kunci agar kapasitas produksi dapat meningkat secara berkelanjutan.

Akses terhadap pembiayaan, subsidi input seperti pupuk dan benih, serta perlindungan melalui asuransi pertanian perlu diperkuat. Stabilitas harga di tingkat petani juga penting agar kegiatan produksi tetap menarik secara ekonomi.

“Peran seluruh pihak termasuk konsumen juga penting, karena memilih produk dalam negeri akan mendorong penguatan produksi pangan nasional,” pungkasnya.

Berita Terkait

Sponsori Persib, SIG bangkitkan Semen Kujang
5 motor terpopuler dan terlaris di Indonesia 2026
CNG 3 kg pengganti LPG uji coba tahap akhir, digulirkan Agustus
Sukabumi juara 3, daftar kota dan kabupaten yang warganya paling kreatif
Harga plastik tak kunjung turun, pelaku UMKM Sukabumi menangis
Libatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, DPR: TNI/Polri bukan aparat penegak pajak
Program Kompor Listrik Gratis mulai uji coba, dibagikan tahun depan
Jumlah kursi dikurangi, naik KA Pangrango Bogor-Sukabumi makin nyaman

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Sponsori Persib, SIG bangkitkan Semen Kujang

Rabu, 5 Agustus 2026 - 02:47 WIB

5 motor terpopuler dan terlaris di Indonesia 2026

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:46 WIB

CNG 3 kg pengganti LPG uji coba tahap akhir, digulirkan Agustus

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:30 WIB

Sukabumi juara 3, daftar kota dan kabupaten yang warganya paling kreatif

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:42 WIB

Harga plastik tak kunjung turun, pelaku UMKM Sukabumi menangis

Berita Terbaru

Semen Kujang sponsori Persib Bandung - Ist

Bisnis

Sponsori Persib, SIG bangkitkan Semen Kujang

Rabu, 5 Agu 2026 - 18:36 WIB

Honda PCX 160 2026 lebih irit BBM, 1 liter untuk 45 KM, cek harganya - Honda

Bisnis

5 motor terpopuler dan terlaris di Indonesia 2026

Rabu, 5 Agu 2026 - 02:47 WIB

Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Sukabumi: Raperda PPT PKSDA dan evaluasi APBD 2026 - Setwan DPRD Kabupaten Sukabumi

Legislatif

DPRD Kabupaten Sukabumi bentuk Pansus perubahan Perumda TJM

Selasa, 4 Agu 2026 - 20:07 WIB