18 C
Sukabumi
Senin, Juli 15, 2024

Sudah direstui keluarga, Sule pastikan Mahalini mualaf sebelum dinikahi Rizky Febian

sukabumiheadline.com - Kepastian siapa yang berpindah keyakinan...

Yakin Wanita Sukabumi Tak Minat Beli Yamaha QBIX 125? Intip Spesifikasi dan Harganya

sukabumiheadline.com l Yamaha QBIX 125 telah mengaspal...

Honda AMAX 160, skutik futuristik performa unggul jadi penantang Yamaha Aerox

sukabumiheadline.com - Honda kembali menggebrak pasar skutik...

5 Cerita Tentang Teluh Jampang Sukabumi dan Cap Seram Dunia Hitam

LIPSUS5 Cerita Tentang Teluh Jampang Sukabumi dan Cap Seram Dunia Hitam

SUKABUMIHEADLINE.com l Jika kita googling, banyak kisah kelam dan cap hitam dialamatkan ke wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan catatan ihwal dunia hitam yang mengaitkannya dengan wilayah Pajampangan, seperti Surade, Jampang Kulon, Ciracap, Ciemas, hingga Warungkiara, Sagaranten dan Palabuhanratu.

Tak cuma sihir, teluh atau santet, hingga mantra, ajian pelet, pesugihan, jimat, primbon, rajah, dan ilmu tenaga dalam, serta segudang ilmu kesaktian, selalu identik dengan wilayah Pajampangan.

Cerita dari mulut ke mulut ini sudah berusia ratusan tahun. Entah siapa memulai, yang jelas, wilayah Jampang identik dengan dunia hitam, sudah hal lumrah dibicarakan warga di luar Sukabumi.

Walaupun kini wilayah Pajampangan semakin maju karena memiliki destinasi wisata dunia sekelas Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, tetap saja cap negatif kerap dialamatkan orang dari luar Jampang. Sulitnya menghapus persepsi negatif ini, terutama karena aksi kekerasan terhadap orang yang dicurigai sebagai dukun santet terus terjadi.

Terakhir, pada Maret 2018 lalu, seorang wanita bernama Atikah (40), warga Kampung Babakankubang RT 04/02 , Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas, dianiaya di rumahnya karena dituduh sebagai dukun santet. Akibatnya, ia harus menjalani perawatan tim medis RSUD Jampang Kulon.

Masih banyak lagi kejadian-kejadian penyiksaan terhadap orang yang diduga mempunyai ilmu santet. Padahal kini sudah zaman modern, di mana orang semakin berpikir rasional.

Redaksi sukabumiheadline.com merangkum lima cerita terkait wilayah Pajampangan dan citra negatifnya sebagai gudang praktik ilmu mistis. Redaksi tidak menyaring kebenaran semua cerita, tetapi tingkat viral cerita-cerita tersebut dinilai redaksi sangat memengaruhi persepsi negatif warga luar Pajampangan hingga kini.

Dari lima kisah di bawah, rasanya cukup alasan mengapa wilayah selatan Kabupaten Sukabumi identik dengan cap seram dunia hitam.

1. Mak Mitah tak mempan dibakar

Alkisah, seorang wanita diduga dukun santet, Mak Mitah, diburu warga satu desa dan berhasil lolos, padahal semua saksi mata melihatnya masuk ke dalam rumah. Setelah diobrak-abrik seisi rumah, Mak Mitah luput dari kejaran warga. Karena kesal, wargapun membakar rumahnya.

Seorang saksi mata mengaku baru saja berpapasan dengan Mak Mitah sedang berlari ketakuan di tengah sawah. Serentak semua warga mengejarnya dengan mengendarai sepeda motor hingga Tanjakan Godebag, perbatasan Sagarateun dengan Jampang Kulon.

Wargapun berhasil membekuk si emak di sebuah perkebunan karet pada sekira jam 15.00 WIB. Mak Mitah yang saat itu mengenakan sarung batik dan baju kebaya, bibirnya nampak memerah karena tengah mengunyah sirih. Giginya hitam, kuku tangan panjang. Tak ayal, warga yang marah segera mengikat kaki Mak Mitah dan ditarik mengunakan sepeda motor sambil diarak keliling desa.

Saktinya, konon Mak MItah tidak nampak terluka sedikit pun. Hari menjelang Maghrib, sehingga beberapa warga yang kadung kesal berteriak, “Bakar!” Si emak pun akhirnya disiram dengan bensin masih dalam keadaan terikat. “Burrrr“, api pun berkobar.

Warga pun seperti dibuat bingung dan ciut nyali manakala menyaksikan tubuh Mak Mitah nampak masih utuh. Jangankan kulit tubuhnya, bahkan bajunya sekalipun, tidak tersentuh api. Ia tertawa, sehingga membuat ciut nyali warga.

Awas ku aing diteluh sia. Rasakeun mun aing bisa kabur, da moal aya nu bisa modaran aing maneh kabeh ge,” teriak Mak Mitah sambi terkekeh.

Warga yang tadinya mulai ciut nyali, akhirnya merasa penasaran. Seorang warga menyampaikan ide kepada tetua kampung, “Pukul pakai daun keladi.”

Tanpa membiarkan kaki si emak menginjak tanah, tubuhnya ditarik menggunakan tambang menuju Jembatan Cikaso, Kecamatan Ciracap. Tiba di tengah jembatan, tubuh wanita tua itu ditutupi daun keladi, seraya dipukul-pukul dengan daun keladi.

Mak Mitah mejerit dan meminta ampun. Namun, warga yang sudah kadung marah memutuskan memenggal kepalanya hingga jatuh ke Sungai Cikaso dan terawa arus.

Konon, selama 40 malam suasana kampung tempat tinggal Mak Mitah mirip kuburan. Sebagian warga mengaku ada yang menyaksikan tubuh berjalan tanpa kepala sambil berkata, “Mana hulu aing? Kadieukeun hulu aing.”

2. Tidak jadi dipalak

Seorang warga Jakarta mengaku jika temannya mengalami kejadian lucu saat tengah berada di parkiran salah satu tempat perbelanjaan, di wilayah Pasar Tanah Abang. Selesai berbelanja dan hendak mengambil motor, ia dimintai uang oleh orang tak dikenal yang mengaku sebagai tukang parkir.

Dengan hati kesal, KTP pun diperlihatkan seraya menyerahkan uang sebesar Rp10 ribu. Lucunya, si tukang parkir malah menolak sambil meminta maaf. Usut punya usut, ternyata si korban palak ber-KTP Surade. Dari pengakuan si tukang parkir, ternyata a memiliki teman yang mati mendadak karena disantet orang Surade.

Kisah di atas dengan mudah kalian temui dan dengar jika berbicara dengan warga ibu kota. Orang Jampang di Jakarta memang sudah lama dikenal sebagai sakti dan memiliki ilmu santet.

Nah, ibarat pepatah, orang lain makan nangkanya kita yang kena getahnya. Sebab kisah-kisah di atas, hingga kini waga Pajampangan dicap sebagai jago santet semuanya.

3. Karena pengakuan Imas, Juned tewas

Ipong ketakutan, perempuan itu ngeri menerima ancaman, lehernya bakal digorok. Tapi, dia pasrah. Warga Kampung Citangkil, Desa Limusnunggal, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi itu, telah kehilangan suami. Juned suaminya, terbunuh karena diduga dukun santet.

Peristiwa mengerikan itu bermula dari pengakuan Imas, perempuan muda itu kesurupan pada malam pertama Lebaran dan menyebut-nyebut nama Juned, 27 Desember 2001 silam. Kedua orang tua Imas segera memanggil Juned. Semula Juned menolak membantu mereka. Tapi, akhirnya Juned mengiyakan permohonan Oman dan isterinya. Laki-laki tersebut bersedia menolong Imas keesokan harinya.

Berita cepat menyebar. Massa pun berkumpul. Mereka menyerang Juned. Aparat keamanan desa tak dapat berbuat apa-apa. Mereka tak bisa mengendalikan kecurigaan masyarakat yang telah mengkristal. Sebab, isu dukun santet telah menelan beberapa korban sebelumnya. Kebencian massa kian memuncak. Meski dalam keadaan luka parah, Juned terus saja diberi bogem mentah. Akhirnya, Juned tewas.

4. Khoer tewas di malam Lebaran

Masih di Sukabumi, 26 Desember 2001 silam, seorang lelaki warga Desa Sukamaju Kecamatan Jampang Kulon, tewas akibat tebasan benda tajam di leher dan kepalannya. Bahkan, kepalanya nyaris berpisah dari tubuhnya. Korban bernama Herman alias Khoer.

Kala itu, Khoer pamit pada istrinya untuk merayakan kemeriahan malam takbiran. Maemunah isterinya tak pernah menyangka, itulah perpisahan terakhir dirinya dengan sang suami. Sebab, keesokan harinya, Khoer ditemukan tergeletak tak bernyawa di kebun. Terang saja Maemunah terpukul. Dia juga tak bisa menerima tudingan bahwa pasangan hidupnya adalah dukun santet. Maemunah pun tak habis pikir asal muasal isu itu bersumber. Warga desa tempat pasangan tersebut juga meragukan tuduhan tersebut.

Begitu juga dengan Supandi, Pejabat Sementara Kepala Desa Sukamaju mengaku tak pernah mengetahui Khoer berprofesi sebagai dukun santet. Ia malah mencurigai isu dukun santet sengaja dilemparkan dengan maksud-maksud tertentu.

Memang, tambah Supandi, dalam kurun waktu setahun, telah terjadi tiga kali aksi pembantaian massa di Desa Sukamaju. Sebelumnya, dua orang merenggang nyawa dihakimi massa. Tapi, menurut Supandi, kejadian tragis yang menimpa Khoer benar-benar membingungkan. Pelakunya tak jelas.

Bahkan, papar dia, malah menghembuskan isu dukun santet. Tapi, masyarakat justru menolak mentah-mentah desas desus tersebut. Lantaran itu, Supandi menilai, pelaku sengaja menyebarkan isu tersebut untuk mengelabui petugas keamanan dan masyarakat.

5. Baedi tewas usai shalat Jumat

Tiga hari berselang, Jumat (29 Desember 2001), Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, geger. Isu dukun santet kembali membawa korban. Kali ini, seorang polisi pamong praja bernama Baedi. Nyawa korban melayang usai salat Jumat di masjid dekat rumahnya. Aksi pembantaian dijalankan ketika Baedi sedang menunaikan shalat Muadah.

Anehnya, tak ada satu pun jamaah yang mengetahui aksi kekerasan tersebut. Padahal, tak sedikit yang melaksanakan ibadah di tempat sembahyang tersebut. Tak jelas alasan aksi tutup mulut mereka: karena benar-benar tak tahu atau takut. Tengok saja ucapan Wawan Suwanda. Ia mengaku berada di barisan paling depan ketika salat. Namun, ia tak mendengar kegaduhan yang mencurigakan.

Wawan baru mengetahui Baedi tewas seusai salat. Lebih aneh lagi, tak ada yang bergerak untuk melaporkan kejadian tersebut pada polisi. Tapi, seorang sesepuh desa menegaskan, para jemaah tak mendapat ancaman dari pelaku. Menurut dia, memang mereka tak mengetahui pelaku pembunuhan sadis itu.

Warga lain yang mengetahui kabar tersebut tak urung menggeleng-geleng kepala. Maklum, selama ini, Baedi tak dikenal memiliki ciri sebagai dukun santet. Bahkan, keluarganya mengenal Baedi sebagai ayah yang taat beribadah. Sementara, sejumlah warga desa tak menerima isu tersebut. Mereka juga tak melihat alasan tindakan mencabut nyawa itu lantaran dendam. Karena, Baedi dinilai cukup baik di lingkungan teman-teman sekantor maupun di desannya.

Summary:

Nah Gaess, dari lima kasus di atas, ternyata isu dukun santet bisa menjadi alasan mujarab untuk menghabisi seseorang. Bahkan, di mata kriminolog Dr Muhammad Mustofa, MA, santet menjadi pemicu paling ampuh untuk mengerahkan amuk massa.

Sangat sulit membuktikan kasus tersebut. Bahkan, Rancangan Undang-undang Pidana yang baru, tidak menyebut secara khusus tentang perkara santet.

Bisa jadi, celah tersebut dipakai pelaku dan menjadi kecenderungan baru dalam melakukan tindak kriminal tanpa melalui proses hukum. Pelaku dengan enteng meniupkan isu dukun santet ketika masyarakat menemukan mayat tewas dalam kondisi menyedihkan. Akibatnya, aparat keamanan kewalahan melacak kasus tersebut.

Ketika masyarakat kebingungngan dan aparat kepolisian kewalahan, mungkin saja sang pelaku justru sedang bergembira, menyesal, atau malah bergentayang mencari mangsa baru.

Sumber Tulisan: sukabumixyz.com

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer