Wanita Sukabumi diintai ancaman dan tantangan kultural, stereotip hingga kekerasan

- Redaksi

Selasa, 27 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi perempuan sedang berdebat dengan lima orang pria - sukabumiheadline.com

Ilustrasi perempuan sedang berdebat dengan lima orang pria - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Perempuan Sunda dikenal gigih dan mandiri. Namun demikian, bukan berarti mereka terbebas dari ancaman dan berbagai macam tantangan.

Dikutip sukabumiheadline.com dari berbagai jurnal, seperti Celebrating Art, How Sundanese Women Wiwitan Kuningan Participate in the Fight to Defend Land and Traditions di laman INFID, dan dari Jurnal Perempuan berjudul Perempuan Sunda, Selasa (27/1/2026), perempuan Sunda saat ini menghadapi berbagai tantangan dan ancaman yang kompleks.

Tantangan dan ancaman dimaksud berakar dari kombinasi budaya patriarki, stereotip media, hingga perubahan sosial-ekonomi. Meskipun secara historis perempuan Sunda digambarkan cerdas dan mandiri, tantangan struktural dan kultural masih nyata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara umum, tantangan dan ancaman tersebut terjadi di seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat. Di Sukabumi, wanita menghadapi beragam ancaman di lingkup domestik, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kerentanan ekonomi, dan lain sebagainya.

Sementara itu, tantangan di ruang publik, terutama di tempat kerja, tidak kalah mengancam. Dari mulai budaya patriarki yang mengakar, stereotip negatif, hingga kekerasan berbasis gender.

Sedangkan di sisi lain, banyak di antaranya berperan ganda, sebagai ibu sekaligus ayah yang setiap hari diperas tenaganya untuk mencari nafkah akibat perceraian. Baca selengkapnya: Membanding angka perceraian Kota dan Kabupaten Sukabumi dua tahun terakhir, pengertian dan prosedur

Untuk informasi, INFID atau International NGO Forum on Indonesian Development) adalah organisasi masyarakat sipil (OMS) berbasis anggota di Indonesia yang fokus pada isu demokrasi, kesetaraan, keadilan sosial, dan hak asasi manusia (HAM), bertujuan mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan, serta aktif mengadvokasi kebijakan nasional dan global sejak 1985.

Berikut adalah beberapa tantangan dan ancaman utama terhadap wanita Sukabumi dan perempuan Sunda pada umumnya:

1. Tantangan Kultural dan Struktural

Ilustrasi buruh sedang menjahit di pabrik garmen - sukabumiheadline.com
Ilustrasi buruh sedang menjahit di pabrik garmen – sukabumiheadline.com
  • Budaya Patriarki yang Mengakar: Meskipun masyarakat Sunda mengenal sistem kekerabatan parental (sejajar), percampuran budaya dan penafsiran nilai tertentu sering kali menempatkan laki-laki sebagai pengambil keputusan utama, sementara perempuan dibatasi pada peran domestik (istri/ibu).
  • Marginalisasi dalam Ruang Publik: Terdapat kecenderungan peminggiran perempuan dari peran strategis atau pekerjaan formal, membatasi partisipasi mereka dalam sektor publik dan politik. Baca selengkapnya: Lalitya: Wali Kota Sukabumi Turut Andil Memelihara Stereotip Gender, Dapur Sumur, Kasur
  • Beban Ganda (Double Burden): Perempuan Sunda sering kali dituntut untuk produktif (bekerja/membantu ekonomi keluarga) sekaligus bertanggung jawab penuh atas seluruh pekerjaan rumah tangga. Baca selengkapnya: 45% Wanita di Kota Sukabumi Memilih Bekerja, 20% Pria Menganggur

2. Ancaman Stereotip dan Representasi Media

Ilustrasi ekspresi diri perempuan - sukabumiheadline.com
Ilustrasi ekspresi diri perempuan – sukabumiheadline.com

3. Tantangan Sosial-Ekonomi dan Pendidikan

Ilustrasi peringatan Hari Perempuan Internasional. l Istimewa
Ilustrasi peringatan perempuan – Ist
  • Ketimpangan Gender di Jawa Barat: Data Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Provinsi Jawa Barat menunjukkan tantangan yang masih tinggi dalam hal kesetaraan pendidikan, tenaga kerja, dan partisipasi politik. Baca selengkapnya: Puluhan ribu pria di Kabupaten Sukabumi urus rumah tangga, 500 ribu lebih wanita bekerja
  • Kerentanan dalam Ekonomi: Marginalisasi ekonomi sering kali membatasi akses perempuan terhadap pekerjaan dengan upah layak. Baca selengkapnya: Setengah juta lebih wanita Sukabumi memilih bekerja
  • Kurangnya Representasi di Sastra dan Akademik: Adanya pengamatan bahwasanya saat ini, meskipun populasi Jawa Barat tinggi, peran perempuan Sunda dalam ranah sastra atau akademik masih terbilang jarang mencolok.

4. Ancaman Kekerasan dan Lingkungan

  • Kekerasan Berbasis Gender: Perempuan Sunda, seperti perempuan di wilayah lain, masih rentan terhadap kekerasan seksual, pelecehan di tempat kerja, dan kekerasan domestik. Baca selengkapnya: Ratusan wanita dan anak Kota Sukabumi jadi korban kekerasan selama 2024
  • Dampak Bencana dan Konflik: Dalam situasi bencana (yang sering terjadi di Jawa Barat), peran reproduktif perempuan membuat mereka lebih rentan, terutama dengan minimnya perwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait manajemen pascabencana. Baca selengkapnya: Ditemukan tewas berpelukan, ibu dan anak korban banjir Sukabumi
  • Strategi Pertahanan (Resistensi):
    Perempuan Sunda juga berupaya melawan narasi patriarkal melalui solidaritas (sisterhood), pendidikan, dan aktif dalam gerakan sosial atau pelestarian budaya.

Berita Terkait

Sepak terjang Andrie Yunus, Pembela HAM alumni SMAN 1 Cicurug Sukabumi disiram air keras
BPS: Warga Kabupaten Sukabumi hanya belanjakan Rp41 ribu untuk pakaian per orang
Penduduk Sukabumi bertambah 23,3 ribu jiwa pada 2026, kota naik 4,9 ribu
Update jumlah penduduk miskin menurut kabupaten/kota di Jawa Barat, Bogor terbanyak
Menghitung belanja hibah Pemkab Sukabumi, naik jelang Pilkada 2024 lalu turun lagi
5 target ambisius Rp815 M Pemkab Sukabumi di tengah defisit APBD, apa kata BPKP?
Fungsi, manfaat dan tips berkendara aman di Jalan Lingkar Selatan Sukabumi
Indeks Daya Saing Daerah Sukabumi jeblok meski punya jalan tol

Berita Terkait

Jumat, 20 Maret 2026 - 00:32 WIB

Sepak terjang Andrie Yunus, Pembela HAM alumni SMAN 1 Cicurug Sukabumi disiram air keras

Kamis, 19 Maret 2026 - 00:40 WIB

BPS: Warga Kabupaten Sukabumi hanya belanjakan Rp41 ribu untuk pakaian per orang

Senin, 16 Maret 2026 - 23:43 WIB

Penduduk Sukabumi bertambah 23,3 ribu jiwa pada 2026, kota naik 4,9 ribu

Senin, 16 Maret 2026 - 01:07 WIB

Update jumlah penduduk miskin menurut kabupaten/kota di Jawa Barat, Bogor terbanyak

Sabtu, 14 Maret 2026 - 04:21 WIB

Menghitung belanja hibah Pemkab Sukabumi, naik jelang Pilkada 2024 lalu turun lagi

Berita Terbaru

Ilustrasi gerbang Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi - sukabumiheadline.com

Khazanah

Hari jadi ke-60, mengenang 5 periode Setukpa Polri Sukabumi

Minggu, 29 Mar 2026 - 20:00 WIB