sukabumiheadline.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepertinya tidak terlalu berdampak signifikan pada sektor pertanian di Kabupaten Sukabumi. Hal itu terbukti dari semakin menyusutnya luas panen komoditas pertanian di daerah ini dalam 2 tahun terakhir.
Program MBG digadang-gadang Menteri Pertanian Amran Sulaiman semakin meningkatkan gairah di sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani.
“Sekitar 160 juta petani dan peternak kita mensuplai kebutuhan dapur MBG. Ini adalah program mulia, bukan hanya untuk pemenuhan gizi, tetapi untuk kemaslahatan umat,” tegas Amran dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian RI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun data dua tahun terakhir, 2024 dan 2025, luas panen sejumlah komoditas pertanian di Sukabumi justru menunjukkan anomali.
Luas panen sayuran dan buah di Sukabumi dalam kurun 2024 hingga 2025 mengalami penurunan signifikan. Meskipun sejumlah komoditas mengalami kenaikan luas panen, namun mayoritas mengalami penyusutan.
Dikutip sukabumiheadline.com, Jumat (3/7/2026), dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Statistik Pertanian Hortikultura (SPH), berikut adalah Luas Panen Tanaman Sayuran dan Buah-buahan Semusim Menurut Jenis Tanaman di Kabupaten Sukabumi (ha), 2022–2025:

Untuk bawang daun, luas panen pada 2024 adalah 560,50 hektare, dan hanya menyisakan 437,75 hektare (2025). Demikian pula dengan bawang merah, dari semula 119,10 hektare (2024), anjlok hanya tinggal 55,08 hektare saja (2025).
Nasib sama dialami jamur tiram, dari 163.747,94 hektare (2024), anjlok menjadi 64.562 hektare (2025).

Luas panen sayuran bayam juga mengalami penyusutan luas panen, dari 53,95 hektare (2024), anjlok menyisakan 42,65 hektare (2025).
Selanjutnya sayuran buncis, dari awal punya luas panen 577,40 hektare (2024), susut menjadi hanya 526,85 hektare (2025).

Luas panen cabai besar, dari semula 543 hektare (2024), turun menjadi 495,30 hektare (2025). Lalu cabai keriting, dari 1.540,40 hektare (2024), turun hingga 1.071,10 hektare (2025)
Nasib sama dialami petani cabai rawit, pada 2024, lus panennya seluas 2.096,40 hektare (2024). Namun anjlok pada setahun berikutnya menjadi hanya 1.051,40 hektare (2025).

Kacang panjang, dari 787 hektare (2024), anjlok menjadi hanya 670,90 hektare (2025). Lalu luas panen sayuran kangkung, dari 135,50 hektare (2024), anjlok tinggal 99 hektare saja (2025).
Namun terobati dengan ketimun, dari luas panen 914,35 (2024), naik menjadi 929,35 hektare (2025). Demikian pula dengan labu siam, dari 130,70 hektare (2024), naik jadi 139,60 hektare (2025). Kemudian untuk jenis petsai, dari 1.270 hektare (2024), bertambah luas menjadi 1.381,70 hektare (2025).
Kabar baik juga datang dari kubis, luas panen sayuran ini mengalami kenaikan ppada tahun lalu. Dari 606,50 hektare (2024), namun naik menjadi 737 hektare (2025).

Namun sayangnya tidak demikian dengan kembang kol. Luas panen sayuran ini 69 hektare (2022), turun menjadi 20 hektare (2023), hingga kemudian tak ada lagi petani yang menanamnya dalam dua tahun terakhir.
Demikian pula untuk terung, dari 515,40 hektare (2024), terakhir hanya menyisakan 460,80 hektare (2025).
Selanjutnya tomat, luas panen jenis sayuran ini tergolong paling signifikan mengalami penurunan. Pada 2024, luas panen tomat adalah 869,80 hektare, namun pada 2025 hanya menyisakan 685,40 hektare saja.

Dan terakhir, sayuran jenis wortel juga terus mengalami penurunan luas panen setiap tahunnya. Tercatat pada 2024, luas panen wortel seluas 117,92 hektare (2024), dan pada 2025 luas panennya naik menjadi 124,73 hektare.
Buah–buahan

Baca selengkapnya: Pernah jadi raja di Jabar, kini produksi melon dan semangka di Sukabumi anjlok
Tak hanya untuk komoditas sayuran, luas panen buah semangka dan melon juga terus mengalami penurunan signifikan.
Untuk semangka, luas panen pada 2022 adalah 30 hektare. Meskipun luasnya sempat bertambah menjadi 56 hektare pada 2023, namun kembali turun signifikan pada 2024 menjadi 34 hektare. Tren penurunan kembali terjadi pada tahun lalu menjadi hanya 20,50 hektare saja.
Demikian halnya melon, luas panen mencapai 21 hektare (2022), lalu naik jadi 26 hektare (2023), kemudian turun signifikan pada 2024 menyisakan 14,50 hektare. Pada tahun lalu (2025), luas panen melon kembali naik menjadi 22 hektare.









