sukabumiheadline.com – Presiden Prabowo Subianto tercatat sudah empat kali menyerang balik para pengkritiknya. Ia meminta pihak-pihak yang berpandangan pesimistis terhadap kondisi Indonesia untuk mencari negara lain apabila merasa masa depan Indonesia suram.
Terbaru, Prabowo menyampaikan hal senada saat berpidato dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Jakarta, Ahad (12/7/2026).
Prabowo mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa bersatu membangun negara daripada terus menyebarkan pesimisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan. Tidak ada yang melarang,” kata Prabowo.
Prabowo juga mengajak masyarakat mengedepankan semangat gotong royong dan meninggalkan budaya saling mencela.
“Mari kita bersatu. Mari kita gotong royong. Mari kita kerja sama. Yang kuat bantu yang lemah. Yang lemah kerja sama yang baik. Insha Allah kita akan bangkit,” ujarnya.
Menurut Prabowo, perbedaan latar belakang politik maupun suku seharusnya tidak menjadi penghalang untuk bekerja bersama membangun Indonesia.
“Kita ini satu keluarga. Apapun latar belakang kita, apapun suku kita, apapun partai kita. Semua partai banyak patriot,” pungkasnya.
Prabowo 3 kali singgung ‘Indonesia Gelap’: Matanya buram
Satu setengah tahun menjabat sebagai Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto sudah tiga kali menyinggung narasi “Indonesia Gelap”, sebelumnya pada April 2026.
Pada awal pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka diwarnai oleh narasi dan gerakan “Indonesia Gelap”, sebagai bentuk protes ketidakpuasan warga, terutama generasi muda dan kaum kelas menengah, terhadap situasi dan kondisi dalam negeri.
Narasi “Indonesia Gelap” pun diikuti narasi pendukung, yakni #KaburAjaDulu yang berisikan ajakan untuk anak muda merantau ke luar negeri saja demi mendapatkan kualitas kehidupan yang lebih baik.
Kedua narasi ini sama-sama ramai diperbincangkan di media sosial. Sebelumnya, narasi “Indonesia Gelap” disentil Prabowo dalam dua kesempatan berbeda.
Yakni, saat menyampaikan pidato di Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Solo, Jawa Tengah, Minggu (20/7/2025) malam dan saat memberikan sambutan di acara Kongres ke-6 Partai Demokrat di Jakarta Pusat, Selasa (25/2/2025).
1. Indonesia gelap, matanya burem

Momen terbaru Prabowo membahas “Indonesia Gelap” adalah saat memberikan pidato dalam peresmian groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Fase II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut hilirisasi adalah bagian dari sejarah panjang Indonesia, dengan adanya penjajahan dan pemberontakan dalam negeri. Saat menyinggung deretan peristiwa pemberontakan di Indonesia, Prabowo lantas menyinggung narasi “Indonesia Gelap.”
Ia tidak terima dengan narasi tersebut. Bahkan, ia menyebut pihak yang menyuarakan Indonesia Gelap memiliki mata buram.
“Jadi, Saudara-saudara, hilirisasi ini adalah hal yang bersejarah. Perjalanan suatu bangsa yang saya katakan lama susah, ibarat long march… Long march satu bangsa. Kita dijajah, kita diadu domba, kita diinfiltrasi, dibikin pemberontakan-pemberontakan-pemberontakan,” kata Prabowo, dikutip dari tayangan di kanal YouTube Sekretariat Presiden.
“DI/TII, Angkatan Perang Ratu Adil, RMS, PGRS/PARAKU, Permesta, terus gerakan ini, gerakan itu. Terus kita dibikin apa lagi… Indonesia Gelap… Matanya burem, Indonesia Gelap!”
Prabowo lantas menegaskan bahwa Indonesia Terang, atau memiliki masa depan yang baik, sehingga ia juga menyindir pihak yang meramaikan narasi “KaburAjaDulu”.
“Indonesia terang. Ada yang mau kabur? Ada yang mau kabur, kabur aja! Kau kabur aja ke sana,” ucap Prabowo.
Ia menantang, warga yang kabur, mau kabur ke mana.
“Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan. Mau kabur ke mana? Hey, orang-orang pinter. Bukalah berita, lihatlah kita ditempatkan di negara yang paling aman di dunia sekarang,” ucapnya.
Lantas, Prabowo juga menyebut, warga yang ingin kabur dipersilakan, karena menurutnya, orang yang menggaungkan narasi “Indonesia Gelap” dan “Kabur Aja Dulu” hanya bikin gaduh.
“Kabur aja deh. Iya kabur aja, biar kita nggak gaduh,” kata Prabowo sembari menunjukkan gestur geleng-geleng kepala sinis.
2. “Indonesia Gelap” hanya bikin gaduh

Dalam pidatonya di Kongres PSI di Edutorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo pada Ahad (20/7/2025) malam, Prabowo telah menyinggung soal “Indonesia Gelap.” Ia pun melempar sindiran kepada orang yang disebutnya sudah menyebar pesimisme lewat narasi “Indonesia Gelap.”
“Ada orang-orang yang berperan sebagai orang pinter tapi yang disebar adalah pesimisme. Indonesia Gelap? Sorry ya. Indonesia cerah, masa depan Indonesia cerah,” kata Prabowo.
“Masa depan Indonesia cerah saya sudah lihat angka-angkanya kekayaan kita luar biasa, tinggal kita bisa mengelola atau tidak, tinggal kita berani atau tidak menjalankan perintah Undang-Undang Dasar,” ujarnya.
Kemudian, Prabowo menyebut ada pihak yang berusaha menggambarkan ekonomi nasional seolah gagal.
“Usaha untuk membuat seolah-olah Indonesia dalam keadaan susah, Indonesia dalam keadaan gelap. Indonesia ekonomi gagal. Itu saudara-saudara, itu adalah upaya menurunkan semangat kita dan itu tidak benar,” tambahnya.
Selain Indonesia Gelap, Ketua Umum Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) ini menyorot soal viralnya tagar #KaburAjaDulu. Dengan sarkasme, Prabowo mempersilakan warga Indonesia yang memilih kabur ke luar negeri, dan mengingatkan bahwa hidup di negeri orang tidak selalu mudah.
“Indonesia gelap, kabur aja deh, yo kabur aja loh, emang gampang elo di situ di luar negeri, di mana elo di situ dikejar-kejar di situ?” kata Prabowo.
Prabowo melanjutkan, sikap pesimis di balik narasi “Indonesia Gelap” dibuat oleh pihak yang ingin Indonesia gaduh.
Bahkan, ia menyebut, demo “Indonesia Gelap” dibiayai koruptor.
“Ternyata memang ini adalah rekayasa ini dibuat-buat, ini dibayar oleh siapa? Oleh mereka-mereka yang ingin Indonesia selalu gaduh, Indonesia selalu miskin, ya koruptor-koruptor itu yang biayai demo-demo itu,” tuturnya.
3. “Yang melihat Indonesia gelap itu siapa?”

Kemudian pada Februari 2025, tak lama setelah aksi “Indonesia Gelap” berlangsung, Prabowo sudah memberikan tanggapannya. Ia heran, mengapa ada ungkapan “Indonesia Gelap”. Padahal menurutnya, dirinya berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Saudara-saudara yang muda-muda, yang melihat Indonesia gelap itu siapa?” tanya Prabowo saat memberikan sambutan di acara Kongres ke-6 Partai Demokrat di Jakarta Pusat, Selasa (25/2/2025).
Prabowo juga mencoba memberikan counter argument dengan menyebut bahwa Indonesia jauh lebih unggul dari sejumlah negara dari sisi prediksi ekonomi.
“Anggaran cukup, dan saya katakan Indonesia akan berhasil menjadi negara makmur. Saudara-saudara, dan yang akan nikmati adalah kalian-kalian,” jelas Prabowo.
Sekilas tentang “Indonesia Gelap”

Adapun narasi “Indonesia Gelap” muncul dalam rangka meminta pertanggungjawaban pemerintah mengenai situasi negara yang dinilai semakin memburuk.
Menurut Ismail Khozen, S.I.A., M.A bertajuk Indonesia Gelap: Ketakutan publik atas negara yang direbut yang terbit di laman fia.ui.ac.id pada 11 Maret 2025, narasi “Indonesia Gelap” dilatarbelakangi beberapa hal.
Seperti efisiensi anggaran oleh Prabowo yang memengaruhi bidang-bidang pendanaan yang krusial, termasuk pendidikan, dan keprihatinan publik terhadap keterlibatan TNI dan Polri dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena dikhawatirkan dapat menandakan kebangkitan kembali Dwifungsi ABRI.
Selain itu, situasi semakin panas ketika adanya polemik Sukatani —sebuah band punk asal Purbalingga, Jawa Tengah— yang muncul lantaran lagu mereka, “Bayar Bayar Bayar” ditarik dari platform digital.
Lagu tersebut mengkritik oknum polisi yang melakukan pungutan liar, tetapi personel band Sukatani justru meminta maaf, sehingga muncul dugaan adanya intimidasi terhadap mereka.
Lebih lanjut, muncul gerakan “Indonesia Gelap” yang berlangsung dalam bentuk demonstrasi damai (offline) di beberapa kota besar, aksi diam dan teatrikal (mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka atas matinya demokrasi), hingga kampanye digital dengan tagar seperti #IndonesiaGelap, #ReformasiDikorupsi, dan lainnya.
Bahkan, tagar ini juga berbuntut pada #KaburAjaDulu di mana isinya berkaitan dengan WNI yang memilih studi dan mencari pekerjaan ke luar negeri demi mendapatkan masa depan dan kualitas kehidupan yang lebih baik.
Adapun aksi dengan narasi “Indonesia Gelap” ini berlangsung secara sporadis di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Solo, Bali, Samarinda, Banjarmasin, hingga Sumatera Selatan, selama beberapa hari, yakni antara 17-21 Februari 2025.
Ada 9 hal yang dituntut oleh massa aksi tersebut, yakni:
- Mengkaji ulang Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 yang berfokus pada efisiensi belanja dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk Tahun Anggaran 2025.
- Transparansi status pembangunan dan pajak rakyat
- Evaluasi program makan bergizi gratis yang digagas oleh Presiden RI.
- Menolak revisi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba), yang menurut BEM SI bermasalah.
- Menolak dwifungsi TNI.
- Mengesahkan Undang-Undang Perampasan Aset.
- Meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan secara nasional.
- Menolak impunitas dan menuntaskan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat.
- Menolak cawe-cawe Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dalam pemerintahan sekarang.









