Melawan kampanye “marriage is scary”, Gen Z Sukabumi malah terbentur tradisi

- Redaksi

Minggu, 12 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi marriage is scary - sukabumiheadline.com

Ilustrasi marriage is scary - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Frasa “marriage is scary” belakangan populer di kalangan Generasi Z (Gen Z). Frasa ini secara harfiah berarti “pernikahan itu menakutkan”. Istilah ini sering digunakan di media sosial untuk menggambarkan rasa takut, cemas, atau ragu seseorang terhadap komitmen seumur hidup dalam pernikahan.

Alhasil, survei menunjukkan terjadinya penurunan angka pernikahan, karena banyak yang memilih menunda atau hidup sendiri untuk menghindari kerumitan pernikahan.

Fenomena ini, menurut psikolog Ghozali Rusyid Affandi, menjadi tren di kalangan generasi muda karena berbagai alasan, antara lain menikah berarti memikul tanggung jawab besar, baik secara finansial maupun emosional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berkaca dari pengalaman orang lain atau trauma keluarga, mereka takut salah memilih pasangan dan bercerai. Belum lagi adanya kekhawatiran mengenai kestabilan finansial dan biaya hidup yang tinggi.

Di sisi lain, banyak Gen Z lebih menikmati hidup sendiri, mengejar karier, dan enggan repot dengan komitmen rumah tangga. Kondisi tersebut diperparah dengan beredarnya narasi “marriage is scary” yang beredar, sehingga meningkatkan kecemasan akan pernikahan.

Bagi yang pernah menikah, kata Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu, ada ketakutan trauma masa lalu, seperti kekhawatiran terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang pernah dialami.

Marriage is scary itu wajar. Rasa takut itu wajar menjelang pernikahan karena semua orang yang akan menikah tetap merasa khawatir terkait dengan kondisi kehidupan ke depannya,” ujar Ghozali, dikutip sukabumiheadline.com dari laman resmi Umsida, Ahad (12/7/2026).

Namun, kata dia, yang tidak wajar adalah ketika ketakutan itu mengganggu kehidupannya dan menjadi permasalahan, maka rasa takut itu akan terus menghantuinya hingga seseorang memutuskan untuk tidak menikah atau mengalami gangguan lain.

“Dalam konsep psikologi ketakutan seseorang terhadap pernikahan itu tidak bisa dipilah secara ketat. Bisa saja dipengaruhi oleh diri sendiri, lingkungan, dan media sosial,” kata Ghozali.

Dari sisi psikologis, Ghozali menjelaskan sejumlah pemicu tren marriage is scary, seperti ketakutan akan kegagalan menikah, mungkin dari trauma masa lalu atau pengalaman orang terdekat

“Contohnya ketika seseorang melihat orangtuanya bercerai, hal itu akan semakin memperkuat ketakutannya untuk menikah. Di sisi, lain pengaruh lingkungan dan media sosial bisa berdampak negatif terhadap pernikahan,” terang Ghozali.

Gen Z Sukabumi melawan tradisi

Ilustrasi menikah secara sederhana - sukabumiheadline.com
Ilustrasi menikah secara sederhana – sukabumiheadline.com

Meskipun terdengar anti-menikah, namun sebenarnya banyak Gen Z sebenarnya tidak menolak, melainkan menunda untuk memastikan kesiapan mental dan finansial.

Seperti bagi Tia Rahayu, gadis asal Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pernikahan bukanlah sesuatu yang menakutkan. Namun, satu hal yang paling ditakutkan setelah menikah, adalah perselingkuhan.

“Soal lain gak ada yang ditakutkan. Paling ya kalau pasangan kita selingkuh,” kata gadis 20 tahun itu kepada sukabumiheadline.com, di Kedai Sukakopi Parungkuda, Sabtu (11/7/2026).

Lebih jauh, keraguan mengenai perlindungan hukum dalam pernikahan dan kestabilan ekonomi di masa depan, diakui Tia, bukan hal yang perlu ditakutkan. Namun, tradisi pesta pernikahan yang membutuhkan biaya besar, jadi masalah tersendiri dan perlu dipikirkan dengan matang.

“Bukan masalah finansial setelah menikah, karena saya juga kerja. Tapi mungkin kalau tradisi di kita kan banyak orang tua menginginkan resepsi pernikahan dilakukan dengan pesta, dan itu pasti membutuhkan biaya besar,” jelasnya.

Kiki Sahputra (23) mengamini pernyataan Tia. Keharusan menggelar pesta pernikahan masalah tersendiri. Karena menurutnya, sebagai pribadi ia mengaku tidak masalah jika pernikahan dilakukan secara sederhana, sehingga uang bisa digunakan untuk hal lebih produktif.

“Saya gak takut menikah, karena dengan menikah justru akan lebih terarah. Termasuk manajemen keuangan juga lebih disiplin di tangan istri,” kata Kiki.

“Jadi kalau saya sih gak masalah nikah sederhana, jadi uang bisa untuk membeli atau membangun rumah,” katanya.

Namun, Kiki berharap istri bisa tetap bekerja. Meskipun nafkah menjadi tanggung jawab suami, namun istri yang bekerja akan bisa memenuhi kebutuhan sendiri di luar yang menjadi kewajiban pokok suami.

“Walaupun tanggung jawab suami, tapi kalau istri punya penghasilan setidaknya ada kebutuhan lebih istri yang bisa dipenuhi sendiri,” urai Kiki.

“Kalau di daerah kita, nikah ya harus pesta, karena kalau nikah sederhana, para orang tua suka takut disangka anaknya hamil duluan, sama tetangga,” kata Tia

Ilustrasi pasangan menikah tidak resmi atau siri - sukabumiheadline.com
Ilustrasi pasangan menikah sederhana – sukabumiheadline.com

Sementara itu, pandangan berbeda diberikan Dini Destiani. Meskipun tradisi pesta pernikahan sudah menjadi “kewajiban” di kalangan masyarakat Sukabumi, namun gadis asal Kecamatan Parungkuda itu mengaku bisa meyakinkan kedua orangtuanya mengenai pentingnya menikah secara sederhana.

Gak takut menikah, dan siap aja,” kata Dini. “Dan saya yakin bisa meyakinkan orang tua agar pernikahan dilakukan secara sederhana,” imbuh berusia 19 tahun itu.

Sementara itu, Rizky Muhammad Ramadhan (19) yakin dengan gaji UMK masih percaya diri menikah, meskipun istri tidak bekerja.

“Yakin cukup. Walaupun istri tidak kerja,” kata dia.

Risiko kehilangan kebebasan 

Ilustrasi nongkrong bareng teman-teman - sukabumiheadline.com
Ilustrasi nongkrong bareng teman-teman – sukabumiheadline.com

Sementara Ghozali juga menjelaskan salah satu yang masalah yang membuat kampanye marriage is scary terpelihara, adalah ketakutan akan kehilangan kebebasan.

“Mereka (Gen Z) takut tak bisa berhubungan dengan orang lain, rasa cemas akan komitmen jangka panjang dan ketidakpastian finansial,” kata dia.

Dosen lulusan magister sains psikologi UGM  itu melanjutkan, “Bagi seseorang yang menginginkan kebebasan menganggap sebuah pernikahan itu sebagai ancaman yang serius. Ia merasa terancam ketika ia memiliki pasangan yang mengikatnya.”

Rasa takut ini sebenarnya wajar, namun bisa diatasi dengan persiapan mental yang matang sebelum menuju jenjang pernikahan. “Adanya kecemasan akan perubahan gaya hidup yang drastis setelah melepas masa lajang,” kata Ghozali.

Namun, Rizky membantah asumsi tersebut. Baginya, kehilangan kebebasan merupakan harga yang harus dibayar ketika seseorang memutuskan untuk menikah. “Saya sih gak masalah. Walaupun harus kehilangan kebebasan,” pungkas Rizky.

Berita Terkait

5 tren wisata Gen Z di Sukabumi, dari eksplorasi niche hingga eco tourism
Memahami istilah “kalcer” yang populer di kalangan Gen Z: Lebih dari sekadar skena
Ahad, 21 Juni Hari Ayah Sedunia, ini sejarah singkatnya
Survei: Pria Sunda paling ganteng di Indonesia
5 tren rambut pendek wanita, dari blunt bob hingga curtain bangs
Tren Mei 2026: Kepatuhan pajak naik, banyak libur hingga desain kamar kos Gen Z
Tampil cantik dan fresh dengan 5 model rambut sebahu, effortless tapi stylish
Ini 10 gaya rambut pria 2026, bikin yang muda jadi kece

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 01:35 WIB

Melawan kampanye “marriage is scary”, Gen Z Sukabumi malah terbentur tradisi

Sabtu, 11 Juli 2026 - 02:30 WIB

5 tren wisata Gen Z di Sukabumi, dari eksplorasi niche hingga eco tourism

Minggu, 5 Juli 2026 - 02:25 WIB

Memahami istilah “kalcer” yang populer di kalangan Gen Z: Lebih dari sekadar skena

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:43 WIB

Ahad, 21 Juni Hari Ayah Sedunia, ini sejarah singkatnya

Selasa, 9 Juni 2026 - 22:44 WIB

Survei: Pria Sunda paling ganteng di Indonesia

Berita Terbaru

Ilustrasi Nyi Roro Kidul yang memiliki nama asli Putri Kandita - sukabumiheadline.com

Kultur

Benarkah keberadaan Nyi Roro Kidul diulas dalam AlQuran?

Minggu, 12 Jul 2026 - 00:01 WIB

Jampidsus Febrie Ardiansyah - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Hukum

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah jadi tersangka korupsi

Sabtu, 11 Jul 2026 - 19:05 WIB