sukabumiheadline.com – Dino Patti Djalal mengkritik pemerintah RI karena hanya mengurus Duta Besar RI di Tehran, Iran untuk menghadiri pemakaman pemimpin besar revolusi Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Melalui akun @dinopattidjalal, mantan Menteri Luar Negeri RI itu mempertanyakan politik bebas aktif Indonesia. Ia mengaku heran, karena pemerintah RI sudah menerima undangan dari pemerintah Iran, namun memilih tidak mengirim delegasi khusus.
“Bebas aktif yg LUNTUR?,” kata Dino Patti Djalal dikutip sukabumiheadline.com, Senin (6/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah Indonesia tidak memenuhi undangan Iran utk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yg terbunuh dim serangan militer ilegal,” lanjutnya.
“Yg saya dengar, berbagai upaya gigih Iran utk mengundang Pemerintah
Indonesia tidak mendapat tanggapan. (Mereka kan juga punya harga diri – tidak mungkin mengemis-emis kehadiran kita.) Akhirnya, yg hadir hanya Dubes Rl di Teheran – yg dianggap oleh Teheran sbg sikap menyepelekan undangan ini,” tambah Dino.
Sementara itu, kata dia, sebagian besar negara berpenduduk Muslim mengirim delegasi resmi di momen pemakaman Ali Khamenei tersebut.
“Sementara Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Pakistan, Kazakhstan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, Bangladesh dll (ihat daftar) sama sekali tidak ragu mengirim delegasi resmi pada tingkat Menteri, bahkan Pakistan pada tingkat Presiden,” lanjut Dino.
“Indonesia sbg negara berpenduduk
muslim terbesar di dunia satu-satunya yg absen mengirim delegasi. Apakah ini berarti polugri “bebas aktif” kita mulai
LUNTUR krn Indonesia takut/sungkan thdp Amerika? Has “FEAR” become a factor in Indonesian foreign policy?,” Dino mempertanyakan.
“Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan MANAJEMEN sistem politik luar negeri yang bermasalah – sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yg berani mengambil keputusan. Paling tidak Indonesia bisa mengirim Wamenlu urusan dunia lslam Anis Matta – tapi beliau justru sibuk keliling Asia Tengah utk kunjungan yg sifatnya rutin,” jelas dia.
Dino juga mengingatkan bahwa Iran merupakan sahabat lama Indonesia. Karenanya, kehadiran delegasi resmi di pemakaman Ali Khamenei menjadi bukti diplomasi bebas aktif Indonesia.
“Kita seakan melupakan bhw Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dgn hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara. Kehadiran delegasi resmi Indonesia dlm acara penghormatan terakhir Ayatollah Khamenei (yg sayangnya tidak terjadi)
seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif Indonesia, momen persahabatan RI-lran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bhw adalah aksi pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yg melanggar hukum dan norma internasional,” paparnya.
“Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dlm situasi yg sensitif, kita bersembunyi,” imbuhnya.
“Please remember: bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan,” pungkasnya.

Diberitakan sukabumiheadline.com sebelumnya, lebih dari 100 negara diperkirakan akan menghadiri pemakaman kenegaraan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dimulai sejak Jumat (3/7/2026). Demikian informasi dari media penyiaran resmi pemerintah Iran, IRIB.
Prosesi tersebut menjadi salah satu pemakaman publik terbesar dalam sejarah modern, bahkan diperkirakan melampaui pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 yang dihadiri lebih dari 10 juta pelayat.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, yang juga merupakan putra Ali Khamenei, dipastikan tidak menghadiri prosesi pemakaman karena alasan keamanan menyusul ancaman terbaru Israel untuk membunuhnya.
Di sisi lain, Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ali Abdollahi, memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melancarkan serangan terhadap Iran selama berlangsungnya prosesi pemakaman.
Seperti diberitakan sebelumnya, Khamenei tutup usia pada usia 86 tahun pada serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap kompleks kediamannya pada 28 Februari 2026. Hari tersebut bertepatan dengan hari pertama pecahnya perang AS-Israel melawan Iran.
Dikutip AlJazeera, Prosesi pemakaman semula dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026, namun ditunda karena konflik di Iran terus berlanjut.
Rangkaian penghormatan terakhir dimulai di Teheran pada Jumat (3/7) dan berlangsung selama tujuh hari, disertai prosesi pemakaman serta ritual keagamaan di sejumlah kota di Iran dan Irak.
Acara pada Jumat (3/7) diperkirakan menjadi momen yang dihadiri sebagian besar pemimpin dunia. Baca selengkapnya: RI hanya diwakili Dubes di Iran, daftar negara hadiri pemakaman Ali Khamenei









