Marak Aksi Geng Motor di Kota Sukabumi, Aktivis, Akademisi hingga Ulama Bicara

- Redaksi

Kamis, 25 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto diunggah akun twitter. l @txtdarisukabumi

Foto diunggah akun twitter. l @txtdarisukabumi

sukabumiheadline.com l SUKABUMI – Maraknya informasi aksi teror geng motor di Sukabumi membuat warga resah. Aksi-aksi mereka di wilayah hukum Kota Sukabumi menjadi perbincangan publik setelah beredar di berbagai platform media sosial. Mereka menamakan dirinya Sukabumi All Star.

Karena terus terjadi, sebagian warga menyebut aksi geng motor sebagai ada yang menggerakkan. Tidak ketinggalan, aktivis, kalangan akademisi, tokoh ulama dan pemuda di Kota Sukabumi mengungkapkan pendapat dan keresahannya.

Warga Kabandungan, Kota Sukabumi, Dede Al Waka (30) menyampaikan keresahannya terkait aksi berandalan yang marak di wilayahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Terkait maraknya aksi berandalan bermotor, saya selaku warga Kabandungan meminta kepada pihak Kepolisian setempat agar senantiasa aktif berpatroli terutama di jalan Kabandungan, biasanya titik kumpul berandalan bermotor ini berada tepat di depan perumahan Royal Regency,” ujarnya kepada sukabumiheadline.com, Kamis (25/11/2021).

Ia menambahkan, aksi berandalan bermotor ini membuat warga resah dan was-was bila melakukan aktivitas pada malam hari, untuk itu kepada pihak kepolisian untuk terus menggiatkan patroli.

“Kami warga meminta para pihak agar bisa menanggapi keluhan kami selaku warga masyarakat,” cetusnya.

Sementara itu menurut Abi kholil Asubki pimpinan Majelis Pengajian Arifa’iyyah Kota Sukabumi mengatakan, berandalan bermotor yang kerap melakukan kriminalitas karena lemahnya iman para remaja. Kurangnya waktu orang tua dengan anak karena sibuk dengan urusan duniawi, menjadi penyebab lain. Perilaku para remaja brutal itu karena kurang kasih sayang orang tua.

“Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua, dan faktor lainnya, dipicu pengaruh minuman keras dan obat terlarang yang mudah didapatkan,” terangnya.

Hal senada diungkapkan oleh salah seorang aktivis Sukabumi Doni Maulana, pria yang biasa disapa Mang Odon, warga Cibunarmuara Kecamatan Kadudampit, menuturkan bahwa selalu pulang kerja malam dan biasa melewati Jalan Lingkar Selatan.

“Sangat resah dan menyayangkan, kejadian ini terus berulang, berarti belum ada efek jera dan belum ada langkah kongkrit yang menyentuh akar permasalahan,” cetusnya.

Odon menambahkan, anak muda sekarang minim ruang ekspresi. Mereka butuh tempat dan sarana untuk menunjukan eksistensi, seperti melalui olahraga, seni budaya, dan kegiatan-kegiatan lain.

“Kalau gak di fasilitasi dan dibina, ya gak beres-beres. Cuma seremonial damai, lalu berulang seperti ritual,” tuturnya bernada sinis.

Hal lain diungkapkan oleh salah seorang dosen di politeknik yang ada di Kota Sukabumi, Ganjar Praputra (47) dirinya turut mengungkapkan keprihatinannya atas maraknya aksi berandalan bermotor ini.

“Terlalu dini kalau menerka-nerka ini ada yang menggerakkan untuk hal tersebut dijadikan kesimpulan. Banyak faktor memicu tindakan tersebut, kita harus melihat akar permasalahan dan mencari solusi agar tidak terjadi lagi aksi geng motor yang meresahkan masyarakat,” ujarnya.

Lanjut Ganjar, usia beranjak dewasa pada setiap orang tentunya ingin mencari identitas diri, ingin diakui oleh pihak lain, maka peran pemerintah, lingkungan dan keluarga sangatlah penting.

Disaat peran itu tidak didapat maka memungkinkan ada pihak yang mungkin akan “merangkul” mereka untuk berbagai kepentingan.

“Saya yakin tidak ada orang yang di atas nalar normal ingin berbuat yang berdampak merugikan orang lain dan diri sendiri. Dengan terbentuknya satu komunitas dan pada komunitas tersebut tidak mendapat ‘pengakuan’ dari berbagai pihak, maka dapat tercipta berbagai prilaku, dapat berupa tindakan positif atau negatif” ungkapnya.

Ia menyebutkan, peran berbagai pihak yang diharapkan dapat merangkul dan mengarahkan untuk hal yang positif dan menciptakan mereka menjadi manusia yang merasa punya arti dan diakui jati dirinya. Hal itu disebut Ganjar sebagai tidak mudah, tapi merupakan kewajiban pemerintah.

“Saya rasa salah satu indikator suksesnya pemerintah adalah dengan membuat daerahnya aman dan nyaman,” terangnya.

Aktivis Sukabumi lainnya, Robi Sanana (26) menyebutkan, sangat ironis dengan adanya kasus tersebut.

Tak hanya menyalahkan para pelaku, Robi Sanana yang juga fokus dalam kajian pemenuhan perlindungan hak anak, menyesalkan sikap Kepolisian lantaran tak bisa mendeteksi aksi-aksi geng motor di Sukabumi.

“Seperti tidak ada strategi yang masif. Bahkan, khusus untuk menyelesaikan polemik geng motor pun dari kasus-kasus yang sudah terjadi, justru membuat hasrat remaja menjadi bagian dari geng motor semakin menjadi,” tuturnya.

Robi pun akan mendesak pemerintah dan DPR untuk mengkaji dan mengimplementasikan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, menurut ia inti dari UU itu adalah penanganan hukum yang harus diperberat untuk menimbulkan efek jera.

“Misalnya dengan menghadirkan orang tua mereka selama proses hukum, atau disuruh kerja paksa atau kerja sosial sebagai pelengkap sanksi pidana,” pungkasnya.

Informasi dihimpun sukabumiheadlines.com sampai dini hari tadi, terjadi ulah geng motor di Kampung Nyangkokot, Desa Sudajaya Girang Kecamatan/Kabupaten Sukabumi hingga membuat jatuhnya korban. Hal tersebut diduga menjadi korban penyerangan geng motor.

Berita Terkait

12 anak di bawah umur di Sukabumi dicabuli lansia 72 tahun, imbalan Rp2 ribu
Wafa dan Kania, dua perempuan pelajar Sukabumi tewas tenggelam di pantai
Mahasiswa KKN keluhkan jalan hancur di Cibitung Sukabumi
Pacaran sama maling asal Medan, Wanita Sukabumi dianiaya dan diintimidasi hingga trauma
DPRD Kabupaten Sukabumi: Syukuran Nelayan Desa Ciwaru aset budaya
Berawal dari rekaman CCTV, pria Sukabumi ini tewas dikeroyok
Evi Mentari, pahlawan devisa asal Kota Sukabumi meninggal dunia di Arab Saudi
Warga Sukabumi jarang piknik, ini top 5 daerah asal wisnus di Jawa Barat

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:42 WIB

12 anak di bawah umur di Sukabumi dicabuli lansia 72 tahun, imbalan Rp2 ribu

Minggu, 19 Juli 2026 - 19:24 WIB

Wafa dan Kania, dua perempuan pelajar Sukabumi tewas tenggelam di pantai

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:37 WIB

Mahasiswa KKN keluhkan jalan hancur di Cibitung Sukabumi

Jumat, 17 Juli 2026 - 00:57 WIB

Pacaran sama maling asal Medan, Wanita Sukabumi dianiaya dan diintimidasi hingga trauma

Kamis, 16 Juli 2026 - 03:35 WIB

DPRD Kabupaten Sukabumi: Syukuran Nelayan Desa Ciwaru aset budaya

Berita Terbaru

Penduduk Tepi Barat Palestina - Ist

Internasional

Israel larang warga Palestina punya kamar mandi sendiri

Rabu, 22 Jul 2026 - 14:50 WIB

Ilustrasi Bhabinkamtibmas dan Babinsa dilibatkan menagih pajak - sukabumiheadline.com

Regulasi

TNI dan polisi dilibatkan tagih pajak ke warga

Rabu, 22 Jul 2026 - 00:39 WIB