Gen Z kini pindah ke aplikasi lamban Carrier Pidge dan Roost, WhatsApp dan Telegram ditinggalkan

- Redaksi

Senin, 7 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Roost dan Carrier Pidge - Ist

Roost dan Carrier Pidge - Ist

sukabumiheadline.com – Kalangan muda kini mulai meninggalkan kenyamanan aplikasi chat instan, WhatsApp dan Telegram. Gen Z kini berbondong-bondong beralih ke platform komunikasi yang sengaja memperlambat pengiriman pesan-bahkan dengan risiko hilang di tengah jalan, Roost dan Carrier Pidge.

Lewat Carrier Pidge dan Roost, pesan digital dikirimkan seolah-olah diantar langsung oleh burung merpati pos yang terbang melintasi angkasa, sebagaimana dilaporkan Yahoo Tech, dikutip Senin (7/9/2026).

Tren unik ini perlahan mulai menantang dominasi iMessage di Amerika Serikat maupun WhatsApp yang menguasai belahan dunia lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mekanisme kerjanya dirancang tidak biasa. Alih-alih langsung terkirim seketika, aplikasi akan menerbangkan burung merpati virtual untuk membawa pesan dari pengirim ke penerima dengan kecepatan rata-rata 177 kilometer per jam.

Untuk jarak dekat, pesan mungkin tiba dalam hitungan detik. Namun, jika dikirim antarbenua, penerima harus bersabar menunggu hingga berjam-jam lamanya.

Tak berhenti di situ, pengalaman berkirim pesan ini juga dibumbui elemen kejutan: terdapat peluang sebesar 0,2 persen bagi sang merpati untuk “tersesat” di jalan, membuat pesan tersebut raib dan tidak pernah sampai sama sekali.

Aplikasi besutan pengembang Noah Iarrobino ini sejatinya dirancang hanya dalam kurun waktu sekitar tiga minggu. Bahkan, dalam deskripsinya di toko aplikasi, sang pencipta secara blak-blakan melabeli karyanya sebagai aplikasi yang “tidak berguna” dan “benar-benar tidak praktis.”

Kendati demikian, justru aspek absurd inilah yang membuat Gen Z kepincut. Pengguna seakan diajak bernostalgia ke masa lalu, di mana sebuah pesan bukan sekadar pop-up notifikasi yang lewat begitu saja, melainkan sesuatu yang dinantikan kedatangannya dengan penuh rasa penasaran.

Sensasi Menunggu yang Dirindukan
Saat tombol kirim ditekan, pengguna disuguhkan tampilan peta interaktif yang memvisualisasikan pergerakan merpati melintasi jarak menuju sang penerima. Sensasi antisipasi semacam ini mustahil ditemukan di WhatsApp, Telegram, maupun aplikasi perpesanan konvensional lainnya.

Pada aplikasi konvensional, pesan instan sering kali langsung kehilangan esensinya begitu terkirim dan dibaca sekadarnya. Sebaliknya, sistem merpati virtual ini mengubah proses menunggu menjadi bagian dari pengalaman komunikasi itu sendiri.

Fenomena ini rupanya bukan sekadar keisengan musiman. Aplikasi serupa berjuluk Roost bahkan sukses meraup 300.000 pengguna hanya dalam hitungan minggu setelah resmi meluncur. Angka ini membuktikan bahwa jutaan orang kini secara sadar memilih untuk “mengerem” kecepatan komunikasi digital mereka.

Pergeseran tren ini mencerminkan perubahan psikologis masyarakat dalam memandang interaksi sosial. Selama bertahun-tahun, paradigma komunikasi digital selalu berpatokan pada prinsip “makin cepat, makin baik.”

Namun pada praktiknya, kemudahan yang berlebihan justru menguras energi. Orang terbiasa mengetik tanpa berpikir panjang, membalas seadanya, hingga merasa tertekan mental (burnout) tatkala tuntutan untuk merespons pesan datang tanpa henti.

Dengan sengaja memperlambat laju informasi, beban psikologis untuk membalas seketika otomatis lenyap. Para pengirim dipaksa merangkai kata lebih matang sebelum menekan tombol kirim, sementara penerima memiliki ruang dan waktu bernapas untuk mencerna pesan sebelum menjawab.

Komunikasi akhirnya kembali menemukan makna dan nilainya-bukan sekadar rentetan respons otomatis yang melelahkan.

Berita Terkait

BRIN ciptakan perahu nelayan tenaga surya dari FRP, tak bergantung BBM lagi
Kamera Sony RX10 V solusi sempurna untuk yang gak suka ribet, cek harganya
10 merek kulkas mini terbaik, hemat listrik, dan murah buat kosan
Peneliti ITB kembangkan rumah bambu interlock tahan gempa bumi
Sepeda listrik VW punya radar plus helm dan kacamata ala pilot tempur, harga?
Petani Ciemas Sukabumi kini mampu produksi bahan bakar PLTU Palabuhanratu
Iceler mesin es batu 24 jam untuk UMKM, cek harganya
Harga Xiaomi Mijia Ultra 3HP, AC Floor-Standing hanya butuh 15 detik dinginkan rumah

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 05:54 WIB

Gen Z kini pindah ke aplikasi lamban Carrier Pidge dan Roost, WhatsApp dan Telegram ditinggalkan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 23:55 WIB

BRIN ciptakan perahu nelayan tenaga surya dari FRP, tak bergantung BBM lagi

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 02:58 WIB

Kamera Sony RX10 V solusi sempurna untuk yang gak suka ribet, cek harganya

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 01:02 WIB

10 merek kulkas mini terbaik, hemat listrik, dan murah buat kosan

Minggu, 26 Juli 2026 - 17:37 WIB

Peneliti ITB kembangkan rumah bambu interlock tahan gempa bumi

Berita Terbaru

Ilustrasi sepotong buah semangka - sukabumiheadline.com

Kesehatan

Jangan dibuang! Ini deretan khasiat kulit semangka

Minggu, 6 Sep 2026 - 05:33 WIB