Sorgum: Tanaman kaya gizi pengganti beras, dikembangkan di Sukabumi untuk co-firing

- Redaksi

Kamis, 25 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi tanaman dan buah sorgum matang - sukabumiheadline.com

Ilustrasi tanaman dan buah sorgum matang - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Sorgum atau Sorghum spp. adalah tanaman serealia serbaguna yang bijinya menjadi makanan pokok penting kelima di dunia. Sorgum sangat populer sebagai alternatif pengganti nasi karena kaya protein, tinggi serat, bebas gluten, serta memiliki indeks glikemik rendah yang aman untuk penderita diabetes.

Menurut penelitian, dibandingkan dengan beras putih, sorgum menawarkan profil nutrisi yang sangat baik. Sorgum sangat aman dikonsumsi oleh penderita penyakit celiac atau intoleransi gluten.

Sorgum juga tidak memicu lonjakan gula darah, cocok untuk diet dan penderita diabetes, dan membantu melancarkan pencernaan dan memberikan efek kenyang lebih lama. Selain itu, sorgum juga kaya antioksidan, sehingga baik untuk kesehatan jantung dan membantu menurunkan kolesterol jahat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sorgum sangat fleksibel dan dapat diolah menjadi berbagai macam produk makanan, dengan cara dikupas, lalu dimasak dan dikonsumsi layaknya nasi atau quinoa.

Biji sorgum bisa diolah menjadi brondong (popcorn). Selain itu, sorgum juga bisa digiling untuk dijadikan tepung yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk membuat roti, kue kering, atau pancake.

Untuk diketahui, jauh sebelum mulai populer di Indonesia, tanaman ini berasal dari wilayah Afrika dan Asia Timur, lalu telah ditanam di Indonesia sejak berabad-abad lalu.

Di Indonesia, sorgum juga dikenal dengan berbagai nama lokal, seperti cantel, jagung rote, atau watar hamu.

Sorgum dikenal sangat tangguh dan adaptif, serta mampu tumbuh di lahan kering atau lahan marjinal dengan kebutuhan air yang sedikit dan tahan terhadap hama.

Dikembangkan di Sukabumi 

Sorgum
Sorgum – Ist

Di Kabupaten Sukabumi, sorgum dikembangkan di sejumlah kecamatan, salah satunya di Cilegok, Kecamatan Ciemas. Selain untuk dikonsumsi, sorgum yang dibudidayakan juga diolah menjadi biomassa untuk dijual ke PT PLN Indonesia Power (PLN IP).

Perusahaan milik negara itu telah melakukan pengiriman perdana biomassa jenis sorgum dust yang akan digunakan sebagai bahan bakar pendamping batu bara (co-firing) di PLTU Pelabuhan Ratu.

Pengiriman biomassa perdana ini menjadi tonggak penting dalam program transisi energi dan pengembangan energi hijau yang tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kegiatan panen sorgum di Ciemas digelar Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Jawa Barat 2 Pelabuhan Ratu itu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, perusahaan mitra, hingga kelompok tani setempat pada 18 Juni 2026 lalu.

Program budidaya sorgum sendiri telah dimulai sejak 2025. Setelah melalui proses penanaman dan pengelolaan selama lebih dari satu tahun, tanaman tersebut kini memasuki masa panen dan mulai memberikan manfaat nyata, baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan energi.

Sorgum dipilih karena memiliki nilai manfaat ganda. Selain batang dan daunnya yang dapat diolah menjadi sorgum dust sebagai bahan bakar biomassa untuk program co-firing di PLTU Pelabuhan Ratu, biji sorgum juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif yang mendukung ketahanan pangan nasional.

PLN IP mendorong penggunaan energi yang lebih bersih dengan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara. Di sisi lain, program tersebut juga membuka peluang pendapatan baru bagi petani lokal serta menciptakan keterhubungan antara sektor pertanian dan industri energi.

Keberadaan PLN sebagai pembeli utama biomassa turut memberikan kepastian pasar bagi hasil panen masyarakat. Kondisi ini diharapkan mampu mendukung pengembangan ekonomi sirkular di wilayah sekitar pembangkit sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Inisiatif tersebut menunjukkan sinergi antara sektor energi dan pertanian yang mampu menciptakan manfaat bersama,” kata Direktur Utama PLN IP, Bernadus Sudarmanta.

Berita Terkait

Menaker luncurkan program Tailor Made Training Batch 2 di Sukabumi
Besok becak listrik Prabowo dibagikan gratis di Sukabumi, cek spesifikasi, fitur dan harganya
Harga kakao global melambung, hitung produksi bahan baku cokelat di Sukabumi
Mindshift 5: Kreasi Wargi: IPB University bekali eks TKI Sukabumi hilirisasi budidaya lele
50 UMKM Sukabumi dibantu FEB UI perluas pasar melalui pelatihan digital marketing
Tips & trik A-Z merintis usaha toko pakaian di era belanja online plus konsep promosi dan pemasaran
Dampak Program MBG terhadap produksi 22 jenis sayuran di Sukabumi
Cek keuntungannya, pemerintah: Status driver ojol adalah UMKM, bukan pegawai

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Menaker luncurkan program Tailor Made Training Batch 2 di Sukabumi

Senin, 12 Oktober 2026 - 01:58 WIB

Besok becak listrik Prabowo dibagikan gratis di Sukabumi, cek spesifikasi, fitur dan harganya

Selasa, 29 September 2026 - 04:56 WIB

Harga kakao global melambung, hitung produksi bahan baku cokelat di Sukabumi

Rabu, 16 September 2026 - 22:41 WIB

Mindshift 5: Kreasi Wargi: IPB University bekali eks TKI Sukabumi hilirisasi budidaya lele

Selasa, 8 September 2026 - 19:56 WIB

50 UMKM Sukabumi dibantu FEB UI perluas pasar melalui pelatihan digital marketing

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB