sukabumiheadline.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan kekesalannya saat menengok korban bencana banjir di Kampung Babakan Cisarua RT 002/015 Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan. Ia mengatakan, terkesan Jawa Barat hanya berkutat masalah di Kabupaten Sukabumi, Cianjur, dan Garut saja.
“Tapi ceuk urang (kata orang – red) Jawa Barat ya, Jawa Barat hanya Sukabumi ya. Ya mohon maaf, yang ramai itu Sukabumi, Cianjur, Garut,” sesal dia dalam videonya dibakun media sosial pribadinya, dikutip sukabumiheadline.com, Senin (7/9/2026).
Dedi mempertanyakan, kenapa hal itu bisa terus terjadi. Karenanya, ia meminta aparat di bawahnya ikut mengurus korban bencana banjir pada Desember 2024 tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kunaon? Arurus atuh ku pengurus di handapna (kenapa? Urus dong sama aparat di bawah – red),” lanjut dia.

Ia mencontohkan, ketika Kasepuhan Ciptamulya mengalami bencana kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah. Ia menyebut pihaknya langsung terjun ke lapangan membantu membiayai rekonstruksi kampung adat tersebut.
“Kan gini, kalau yang cepet mah kemarin kayak kebakaran, karena saya lihat langsung kan, ya kan, Ciptamulya, ya saya langsung, besok beresin. Ya kalau saya tidak tahu gimana, bu?” katanya.
“Yang ibu mah postingan, saya tidak tahu. Kan ini mah Ciptamulya, lalu pesantren di Canjur, kebakaran. Sekarang lagi di Tasik, sama pesantren,” katanya menceritakan korban bencana yang sedang ditangani pemerintah provinsi.
Berita Terkait:
- Disentil KDM, Pemkab Sukabumi satset verval korban bencana di Simpenan
- Momen Bupati Sukabumi dipuji setinggi langit oleh KDM, sebelumnya sempat dikritik
Gubernur yang akrab dipanggil KDM itu juga menjelaskan bahwa bantuan diberikan atas dasar permohonan dari pemerintah kabupaten.
“Ya, artinya gini, apalagi kan dasar kita, membantu, harus ada surat-suratnya itu. Surat permohonan dari bupati ke provinsinya, ada nggak?” katanya.
Sementara itu, salah seorang warga mengaku memutuskan membuat video yang diunggah di media sosial, karena tidak memiliki akses langsung ke pejabat berwenang.
“Kita hanya sebagai orang biasa, nggak punya akses, ya nggak tau ke siapa,” kata salah seorang perempuan korban bencana.
KDM lalu berharap ke depan jangan sampai ada kesan, ia membantu korban bencana di luar daerah, sementara warganya sendiri tidak diurus.
“Jadi jangan sampai ada persepsi seolah-olah orang Jawa Baru itu tidak diurus oleh gubernurnya. Padahal, bukan tidak diurus oleh Gubernurnya, yang diurus semuanya selesai. Yang tidak selesai itu yang tidak diajukan, gitu lho,” kata dia.
Selanjutnya, ia menjanjikan bantuan Rp40 juta per rumah. Namun, bantuan hanya dapat dicairkan jika tanah untuk pembangunan rumah barunya sudah tersedia.
“Nah sekarang gini, kan kita mau nurunin bantuan masing-masing 40 juta Rupiah per rumah. Tanahnya sudah ada belum? Saya kita pastikan yang dibantuin tanahnya sudah ada, karena kalau tanahnya belum ada, uangnya tidak bisa dicairkan sebelum ada penjelasan keterangan tanahnya siap,” jelas KDM.
“Jadi uangnya diturunkan 40 juta Rupiah sekarang per orang, per kepala keluarga di rekening BJB. Tapi tidak bisa dicairkan (kalau tanah belum tersedia), kan perjanjiannya gubernur bantu rumah, Pemda (Sukabumi) nyiapin tanah,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, di sela kunjungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu korban bencana gempa bumi, beredar unggahan video warga di Kabupaten Sukabumi, menyampaikan nestapa yang dialami terkait penanganan rumah warga terdampak bencana sejak 2025 lalu.
Dalam video tersebut muncul tulisan “JAUH DI JUGJUG ANGGANG DI ANTEP”, yang berarti jauh didatangi tetapi yang dekat justru diabaikan. Baca selengkapnya: Nestapa korban bencana Cidadap, Bupati Sukabumi kurang paham, KDM ke NTT
Warganet mempertanyakan perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terhadap kondisi masyarakat Sukabumi, terutama di tengah sorotan bahwa Dedi kerap turun langsung ke daerah lain.

Di antara korban terdampak bencana adalah puluhan warga Kampung Babakan Cisarua RT 002/015 Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan. Mereka berharap segera ada solusi dari pemerintah. Baca selengkapnya: Batu numpuk dalam rumah, warga korban bencana Sukabumi nangis tak ada perhatian
Keluhan tersebut disampaikan melalui video, berkaitan dengan kondisi sejumlah rumah milik 46 KK tersisa di wilayah Desa Cidadap, Babakan Cisarua, Kecamatan Simpenan, yang mengalami kerusakan akibat longsor dan banjir sejak 2025. Baca selengkapnya: 500 korban bencana minta kepastian, KDM ingin Pemkab Sukabumi ajukan ke pemprov
“Kepada pak Dedi Mulyadi, kami selaku warga Desa Cidadap, Kampung Babakan Cisarua RW 015. Sim kuring katitipan carios korban bencana taun 2025 anu seueurna 46 KK, nu mana anjeuna selama hampir dua tahun terlunta-lunta (saya dititipi pesan oleh korban bencana tahun 2025 sebanyak 46 KK, yang hampir dua tahun ini hidup terlunta-lunta – red),” kata warga, dikutip sukabumiheadline.com, Senin (24/8/2026).









