sukabumiheadline.com – Hari ini, Selasa, 27 Oktober ada tiga hari penting diperingati di Indonesia dan dunia, dari mulai Hari Listrik Nasional (HLN), Hari Penerbangan Nasional (HPN) hingga World Day for Audiovisual Heritage atau Hari Warisan Audiovisual Sedunia.
Mengapa ketiga hari tersebut penting diperingati?
Berikut ulasannya, dirangkum sukabumiheadline.com, Selasa (27/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari Penerbangan Nasional
Memperingati sejarah penerbangan Indonesia, termasuk momen bersejarah penerbangan pesawat Cureng berbendera Merah Putih pada 27 Oktober 1945.
Hari Penerbangan Nasional di Indonesia diperingati setiap tanggal 27 Oktober. Peringatan ini merujuk pada peristiwa tanggal 27 Oktober 1945, ketika Komodor Udara Agustinus Adisutjipto berhasil menerbangkan pesawat latih jenis Cureng beridentitas Merah Putih di Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.
Hari Penerbangan Nasional sempat diperingati tiap 9 April (periode 1962–1974), namun kemudian dikembalikan ke tanggal 27 Oktober karena memiliki kaitan sejarah yang lebih kuat dengan penerbangan perdana paska-kemerdekaan. Selanjutnya, 9 April dikhususkan sebagai Hari Jadi TNI Angkatan Udara.
Beberapa tokoh penting dalam sejarah kedirgantaraan nasional meliputi Agustinus Adisutjipto, Abdulrahman Saleh, dan Iswahjudi.
Hari Listrik Nasional

Hari Listrik Nasional ke-81 diperingati pada 27 Oktober 2026. Hari ini dikenang karena pembentukan Jawatan Listrik dan Gas pada 27 Oktober 1945 berdasarkan Penetapan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1945.
Peringatan Hari Listrik Nasional tahun ini dipilih tema “Energi untuk Semua, Kemandirian bagi Indonesia”.
Meskipun ditetapkan sejak 1945, namun pembangunan infrastruktur kelistrikan di Indonesia sudah ada sejak puluhan tahun sebelumnya.
Hari Warisan Audiovisual Sedunia

Hari Warisan Audiovisual Sedunia (World Day for Audiovisual Heritage) diperingati setiap 27 Oktober.
Peringatan global ini diinisiasi oleh UNESCO untuk meningkatkan kesadaran masyarakat internasional mengenai pentingnya menjaga, merawat, dan melestarikan dokumen suara serta gambar bergerak (seperti film, video, rekaman suara, serta program radio dan televisi) sebagai bagian dari memori kolektif umat manusia.
Gagasan peringatan ini lahir pada 2005 dalam sidang Konferensi Umum ke-33 UNESCO lewat Resolusi 33 C/53. Tanggal 27 Oktober dipilih untuk memperingati momen diadopsinya Rekomendasi untuk Pemeliharaan dan Pelestarian Gambar Bergerak oleh UNESCO pada tahun 1980, yang menjadi tonggak awal pengakuan internasional atas nilai sejarah dan budaya arsip audiovisual.
Pada 2026, UNESCO mengusung tema “Your Window to the World” (Jendela Anda ke Dunia). Tema ini menekankan peran vital dokumen audiovisual sebagai media yang menghubungkan lintas generasi dan budaya, membantu masyarakat memahami sejarah, serta melihat pengalaman kehidupan dari berbagai belahan dunia masa lalu.
Mengapa pelestarian ini penting?
Rekaman suara tokoh bangsa, film dokumenter perjuangan, hingga siaran berita lama menyimpan detail peristiwa yang kerap kali tidak tertulis di buku sejarah.
Berbeda dengan dokumen kertas, pita kaset, seluloid film, dan piringan hitam sangat rentan rusak karena faktor usia, kelembapan, bencana, hingga punahnya alat pemutar (teknologi usang).
Melalui program seperti Memory of the World, para pengarsip di seluruh dunia berlomba melakukan restorasi dan migrasi format digital agar dokumen-dokumen berharga ini tidak hilang selamanya.









