Ada Jipeng dan Dogdog Lojor, Ini 5 Kearifan Lokal Khas Sukabumi yang Masih Lestari

- Redaksi

Senin, 30 Oktober 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perayaan Hari Nelayan di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. l Istimewa

Perayaan Hari Nelayan di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. l Istimewa

sukabumiheadline.com l Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat terkenal memiliki banyak destinasi wisata alam dan kuliner yang beragam. Padahal, Sukabumi juga dikenal karena kebudayaan dan kearifan lokalnya.

Bahkan, sejumlah kesenian dan kebudayaan tersebut hingga saat ini masih lestari.

Berikut adalah 5 Kearifan Lokal khas Sukabumi yang masih terjaga dan dilestarikan sampai saat ini, dirangkum sukabumiheadline.com dari berbagai sumber.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Syukuran Nelayan

Dalam syukuran nelayan ini ada beragam kesenian Helaran (arak-arakan) seperti angklung, buncis hingga sisingaan untuk dipertontonkan. Puncak acara ini adalah pemberian saji atau sesajen yang dilarung ke laut sebagai bentuk rasa syukur nelayan atas hasil tangkapan ikan yang melimpah.

Baca Juga:

Pesta Syukuran Nelayan, Goliath Tampil di Cisolok Sukabumi

Juara Tahfidz Quran, Ini Profil dan Biodata Elsa Nuryani Putri Nelayan Palabuhanratu 2023

Di Kabupaten Sukabumi, hari nelayan tidak hanya terpusat di Palabuhanratu saja, tapi juga dilakukan di sejumlah kawasan perkampungan nelayan seperti di Cisolok dan beberapa kawasan nelayan lainnya. Baca lengkap: Dua Tahun Hilang, Begini Kemeriahan Hari Nelayan 2022 di Palabuhanratu Sukabumi

2. Kampung Adat

Sebagian besar orang mungkin akan menyangka kampung yang terletak di daerah terpencil ini tidak pernah terjamah arus modernisasi. Hal itu dikarenakan stigma masyarakat mengenai sebuah kampung adat terpencil yang tertutup dan konservatif.

Baca Juga :  Merawat Tradisi, Warga Kampung di Sukabumi Ini Selalu Pindah-pindah Tempat Tinggal

Berbeda halnya dengan sebuah kampung yang berada di tengah-tengah pegunungan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kampung ini dikelilingi perbukitan dengan landscape berupa lahan terasering yang dijadikan area untuk menanam padi huma. Hal itu karena padi merupakan komoditas utama bagi Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar. Baca Lengkap: Smart City dari Sukabumi Tanpa Seremoni Ala Pemda, Kampung Ini Punya Stasiun TV dan Radio Berlisensi

Berita Terkait: Bukan Kampung Adat, Ternyata Ada Kampung di Hutan Belantara Sukabumi Dihuni Warga yang Nekad

3. Upacara Seren Taun

Dikutip dari buku destinasi pariwisata Kabupaten Sukabumi, seren sendiri berarti seserahan atau menyerahkan, taun berarti tahun. Seren Taun dimaknai warga sebagai upacara penyerahan sedekah (tatali) hasil panen padi selama setahun serta memohon berkah kepada Tuhan agar hasil panen tahun mendatang lebih meningkat

Seren Tahun diselenggarakan di tiga kasepuhan adat Banten Kidul, yaitu Kasepuhan Adat Ciptagelar, Kasepuhan Adat Sinarresmi dan Kasepuhan Adat Cipta Mulya.

Berita Terkait: Seren Taun, Musisi Anji akan datang ke Sukabumi Catat Tanggalnya

4. Dogdog Lojor

Baca Juga :  5 Fakta Jipeng, Seni Kolaboratif Bertahan Karena Bagian Tradisi Kasepuhan Ciptagelar Sukabumi

Dog Dog Lojor adalah kesenian yang berada di Kampung Adat Ciptarasa, Kecamatan Cisolok. Kesenian ini menggunakan alat Dog Dog yang panjang yang terbuat dari bambu besar ditambah dengan angklung besar. Seni ini merupakan seni “helaran” (arak-arakan) yang secara tradisi biasa digunakan untuk mengiringi kegiatan mengangkut padi dari lantaian ke lumbung padi.

Baca Juga: 5 Tempat Wisata Alam Memesona Mata di Sukabumi

5. Jipeng

Masyarakat Sunda yang mayoritas tinggal di Jawa Barat memiliki banyak seni tradisional, terutama tarian. Selain seni tari murni khas Jawa Barat, beberapa di antaranya merupakan kreasi kolaboratif antara tarian Sunda dengan non-Sunda.

Di antara jenis tarian kolaboratif adalah Jaipong dan Jipeng. Jaipong merupakan seni kolaboratif Tari Banjet, Tari Pencak Silat, Tari Ketuk Tilu, Tari Wayang Golek, dan Tari Topeng.

Sedangkan, Jipeng merupakan salah satu kesenian tradisional di Provinsi Jawa Barat yang diciptakan dengan mengambil tiga unsur seni, yaitu tanji/tanjidor, ketuk tilu/kliningan, dan topeng (Sandiwara Sunda).

Berikut adalah 5 fakta Jipeng disarikan sukabumiheadline.com dari skripsi Ujang Sasmita, Institut Seni Budaya (ISBI) Bandung (2018) yang berjudul: ”Deskripsi Pertunjukan Jipeng Grup Satia Kulun di Kasepuhan Ciptagelar Kabupaten Sukabumi”, dan catatan Dani Daniar (danikancil), 2012. “Jipeng (Tanji Topeng) Kasepuhan Ciptagelar”. Baca lengkap: 5 Fakta Jipeng, Seni Kolaboratif Bertahan Karena Bagian Tradisi Kasepuhan Ciptagelar Sukabumi

Berita Terkait

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat
Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan
Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi
Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya
Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi
Hasil rukyatul hilal di Sukabumi, 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin 31 Maret 2025
Mengenang kiprah Wisjnu Mouradhy, jurnalis dan tokoh film nasional asal Sukabumi era 1940
Masih binggung? Jangan abaikan aturan qadha dan fidyah bagi yang batal puasa Ramadhan ini

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 00:01 WIB

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat

Selasa, 1 April 2025 - 20:44 WIB

Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan

Senin, 31 Maret 2025 - 21:56 WIB

Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi

Senin, 31 Maret 2025 - 10:00 WIB

Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya

Minggu, 30 Maret 2025 - 00:01 WIB

Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi

Berita Terbaru