Ajengan Amang, Darah Biru Menak Sunda dan Sejarah Sarkem Cicurug Sukabumi

- Redaksi

Kamis, 23 Februari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KH R Amang Muhammad. l Istimewa

KH R Amang Muhammad. l Istimewa

sukabumiheadline.com l CICURUG – Kabar duka menyelimuti umat Muslim Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Rabu (22/2/2023) pagi sekira pukul 07.30 WIB, ulama sekaligus pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hasaniyyah, KH R Amang Muhammad di Kampung Kaum Kaler, Kelurahan/Kecamatan Cicurug, KH R Amang Muhammad, meninggal dunia.

Ucapan duka mengalir atas wafatnya ulama yang juga populer dipanggil Ajengan Amang itu, terutama dari para pejabat dan ponpes di Kota maupun Kabupaten Sukabumi.

Profil Ajengan Amang

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KH R Amang Muhammad, dalam tubuhnya mengalir darah biru menak Sunda pada era pra kemerdekaan RI. Ia merupakan putra KH Mukhsin Baidlowi bin KH Muhammad Hasan Basri bin H Abdillah bin Sumapraja atau dikenal dengan sebutan Ajengan Bintang.

Untuk informasi, KH Muhammad Hasan Basri merupakan keturunan kelima dari seorang menak Sunda, Dalem Aria Wiara Tanu Datar, seorang ulama yang sepanjang hidupnya juga menyebarkan Islam.

Raden Aria Wira Tanu Datar atau Kanjeng Dalem Cikundul atau juga Pangeran Panji Natakusumah atau Pangeran Jayalalana atau Raden Ngabehi Jayasasana adalah bupati pertama yang juga seorang penyebar agama Islam di daerah Cianjur.

Mendedikasikan Hidupnya untuk Dakwah Islam

KH Muhammad Hasan Basri, kakek dari Ajengan Amang, wafat pada 1948. Dakwah sang kakek kemudian dilanjutkan oleh KH R Amang Muhammad, setelah sebelumnya oleh Mama Ajengan KH Muhsin (ayah dari Ajengan Amang).

Adapun, dakwah dan ceramah Ajengan Amang melanjutkan kajian Tafsir Jalalayn yang sebelumnya dilakukan sang kakek di Masjid Bintang, Cicurug.

Ajengan Amang sendiri dikenal sosok istiqamah dalam berdakwah, sehingga majelis yang dimulai sejak 1924 tersebut tetap bertahan hingga hampir satu abad lamanya.

Pada setiap Kamis pagi hingga menjelang Dzuhur, majelisnya banyak didatangi para kiai dan santri yang ingin memperdalam ilmu agama.

Pengajian Tafsir Jalalayn ini berlangsung di Masjid Bintang oleh ulama besar KH Muhammad Hasan Basri bin H Abdillah bin Sumapraja.

“Amanat Mama Bintang, pengajian Tafsir Jalalayn harus terus dilanjutkan anak-cucunya,” kata Ajengan Amang.

Mengenal Tafsir Jalalayn

Menurut Ajengan Amang yang juga menjabat Mustasyar PCNU Kabupaten Sukabumi itu, Tafsir Jalalayn merupakan tafsir yang cocok untuk kalangan umum.

Hal itu pula yang menjadi alasan kenapa leluhurnya tetap menggunakan tafsir tersebut. Meski demikian, dalam menyampaikan pengajarannya, ia kerap memperkaya dengan tafsir-tafsir lainnya.

Ajengan Amang dan Pemberdayaan Ekonomi Umat 

Selain itu, keramaian jamaah majelis juga mampu mengungkit perekonomian terus berputar dengan kehadiran banyak para pedagang kecil saat pengajian berlangsung.

Bahkan, tak mengherankan jika dari mulai kalangan ibu ibu hingga bocah kecil, terutama di wilayah Cicurug dan sekitarnya, hingga hari ini cukup familiar dengan Sarkem alias Pasar Kemisan.

Saking populernya, keberadaan Sarkem tak pelak mengundang keingintahuan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengunjunginya pada Kamis, 20 Oktober 2022 lalu.

Masjid Kaum Berdiri di Atas Tanah Wakaf Keluarga Ajengan Amang

Tidak banyak warga Cicurug, Kabupaten Sukabumi yang mengetahui sejarah berdirinya Masjid Al-Hurriyyah yang beralamat di Kampung Kaum Kidul RT 02/03, Kelurahan Cicurug, Kecamatan Cicurug, Jawa Barat. Sebagian warga hanya percaya masjid tersebut terbilang berusia tua, semenjak pertama kali didirikan.

Alun-alun dan Masjid Al Hurriyyah yang sudah menjadi ikon Kecamatan Cicurug, ini dibangun pada tahun 1940 dan berdiri di atas tanah wakaf dari juragan tanah setempat bernama Raden Mahrom. Baca lengkap: Wakaf dari Juragan Tanah, Sejarah Masjid Al Hurriyyah Cicurug Sukabumi Menurut Kyai Amang

Berita Terkait

Daftar pejabat kapolri, pertama era kolonial hingga Suyudi Ario Seto
Hari Perumahan Nasional: Potret buram rumah layak huni Kota Sukabumi di bawah 40%
UU Pengaturan Reforma Agraria disahkan, SPI Sukabumi: Kado Hari Tani, jangan militeristik
7 kronologi pelecehan seksual PNS Dishub Kabupaten Sukabumi terhadap 3 siswi PKL
7 penampakan Jembatan Cipamatutan Sukabumi: Lapuk, kumuh dan rawan ambruk
Yongjin dan Yakjin masuk, ini daftar pabrik garmen tertua di Sukabumi
Intip kapasitas, profil dan pemilik saham Star Energy Geothermal Salak Sukabumi
Membanding panjang garis pantai Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia, dan dunia

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Daftar pejabat kapolri, pertama era kolonial hingga Suyudi Ario Seto

Senin, 28 September 2026 - 12:00 WIB

Hari Perumahan Nasional: Potret buram rumah layak huni Kota Sukabumi di bawah 40%

Rabu, 23 September 2026 - 17:23 WIB

UU Pengaturan Reforma Agraria disahkan, SPI Sukabumi: Kado Hari Tani, jangan militeristik

Rabu, 23 September 2026 - 16:39 WIB

7 kronologi pelecehan seksual PNS Dishub Kabupaten Sukabumi terhadap 3 siswi PKL

Senin, 21 September 2026 - 01:30 WIB

7 penampakan Jembatan Cipamatutan Sukabumi: Lapuk, kumuh dan rawan ambruk

Berita Terbaru

Ilustrasi musim kemarau ekstrem - sukabumiheadline.com

Sains

Masa peralihan dan puncak musim hujan di Sukabumi

Sabtu, 3 Okt 2026 - 17:52 WIB

Ilustrasi pelaku UMKM sedang menjahit pakaian - sukabumiheadline.com

Jawa Barat

Sukabumi masuk Top 10 IID versi BSKDN

Sabtu, 3 Okt 2026 - 14:00 WIB