sukabumiheadline.com – Bagas, seorang bocah asal Sukabumi mendapatkan pujian dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dilihat di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, anak tersebut mengaku masih sekolah di SD.
Dalam video, ia ditemani ibunya menemui Dedi Mulyadi yang tengah mengawasi pekerja kebersihan di sekitar kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Kota Bandung.
“Kenapa?” tanya Dedi Mulyadi sambil menoleh ke anak yang menghampirinya tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mau ketemu mau salim,” jawab ibunya.
“Saya idolakan bapak, Pak,” timpal anak tersebut.
“Oh iya. Di mana sekolahnya?” tanya gubernur yang akrab dipanggil KDM itu.
“SDN 63.”
Kepada KDM, ibu menyebut jika anaknya itu menderita kanker darah stadium 4. Sehingga, saat itu anaknya tidak sekolah karena harus berobat.
“Oh, sekarang nggak sekolah?”
“Lagi kontrol.”
“Oh, sakit apa?”
“Kanker darah.”
“Kanker darah? Kemonnya berapa kali?” tanya KDM kaget.
“Udah beres kemonnya. Udah selesai kemonnya?”
“Selama ini biaya kemonya dari mana?”
“Dari BPJS.”
Kepada KDM, si ibu menyebut suaminya membuka usaha pangkas rambut di Sukabumi. Sedangkan, ia berjualan makanan untuk membantu suaminya membiayai kebutuhan sehari-hari.
“Punya suami? Suaminya kerja apa?$
“Pakas rambut.”
“Pakas rambut di mana?”
Di rumah, di Sukabumi.”
Di Sukabumi, alhamdulillah. Ibu nyisihin uang untuk ongkos ke Bandung?”
“Jualan.”
“Jualan apa?”
“Jajanan anak.”
“Ibu dapet 50?”
Si ibu menjawab dengan menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Tapi cara penampilan ibu bersih, berarti ibu rumahnya bersih. Itu saya lihat kan biasanya rezekinya suka beda, dan ibu tidak ngeluh-ngeluh anaknya mengalami kanker darah.”
“Ini sudah stadium keempat, kata dokternya. Sekarang kankernya sudah ini belum?”
“Oh belum.”
“Tapi kenapa dihentikan?”
“Nggak, nggak berhenti.”
“Karena katanya sudah berakhir sekarang.”
“Maksudnya ini stadium terakhir.”
“Oh, kankernya stadium terakhir.”
“Dokter juga bangga lah gitu ya.”
“Tapi intinya masih hebat ya. Semangat. Keren banget kamu.”
“Kan idolanya, bapak.”
“Apa yang membuat kamu bertahan?
“Makan.”
“Makannya banyak?”
“Iya.”
“Olahraga?”
“Iya.”
“Sudah hebat. Dokter juga udah angkat tangan ya. Soalnya udah gak dikasih obat dari pertama juga. Cuman dia dikasih daun kelor.”
“Tapi kanker itu pada akhirnya bisa sembuh kalau orangnya punya keyakinan, kerja keras bahwa dia akan sembuh. Dia akan membentuk ketahanan tubuhnya sendiri. Imunnya akan tumbuh. Ini imunnya kuat. Kamu lebih hebat dari saya mentalnya. Saya belum tentu punya mental kayak kamu,” tanya KDM.
“Namanya siapa?”
“Bagas.”
“Kenapa kamu begitu percaya diri bahwa kamu bisa melewati ini?”
“Saya nafas, kalau nggak nafas saya mati.”
“Oh iya benar.”
“Kamu langsung lihat saya tadi?”
“Iya. Tadi enggak, cuma lihat orang baju kuning doang ramai.”
“Oh baju kuning ramai, bersih-bersih. Biar kotanya bersih. Semua daerah Jawa Barat harus bersih. Kota Sukabumi bersih enggak?”
“Kalau itu nggak yakin saya, Pak.”
“Kenapa nggak yakin?”
“Banyak sampah.”
“Oh banyak sampah, ya? Harus bersih.”
“Saya mau jadi presiden.”
“Oh, bagus! Kamu cita-cita jadi presiden, hebat. Harus sehat kalau ingin jadi presiden, ya? Harus sehat, pinter, visioner, hebat,” pinta KDM sambil memberikan uang untuk bekal berobat selanjutnya.









