SUKABUMIHEADLINES.com I BELANDA – Euthanasia telah disahkan dan masuk undang-undang (UU) Belanda sejak tahun 2001. Undang-undang tersebut berlaku efektif setahun berikutnya, dan menjadikan Belanda sebagai bangsa paling progresif terhadap hak manusia mengakhiri hidupnya bila mengidap penyakit berat.
Sebelum UU itu berlaku, pada 1996, Philip Nitschke menjadi dokter pertama yang diizinkan pemerintah melaksanakan suntik mati untuk salah satu pasiennya. Dalam debat internasional seputar topik euthanasia, Nitschke adalah langganan pembicara paling terkenal dan kontroversial.
Nitschke kerap dijuluki “Dokter Kematian”, sebutan lain untuknya adalah “guru euthanasia”. Julukan tersebut bukanlah hiperbola. Dia adalah pendiri yayasan Exit International, organisasi yang mempromosikan euthanasia secara sukarela.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia juga menulis buku panduan bunuh diri The Peaceful Pill. Awalnya, Nitschke hanya mau membahas hak euthanasia bagi orang yang sakit parah. Tapi dia sudah berubah pikiran. Dia sekarang percaya euthanasia tidak seharusnya dibatasi oleh kondisi dan kriteria medis, melainkan hak setiap manusia.
Beberapa tahun terakhir, Nitschke menghabiskan waktunya merancang Sarco, mesin bunuh diri yang bisa dicetak 3D, yang menurutnya akan memungkinkan seseorang meninggal tanpa rasa sakit dalam waktu singkat.
Berkat penemuan terbaru ini, Nitschke dan gagasannya lagi-lagi mendapat banyak sorotan dunia internasional.
“Saya menjadi yakin bahwa kematian harus menjadi hak bagi semua manusia waras. Orang tidak tahu alternatifnya, mereka hanya tahu bagaimana metode mengakhiri hidup pakai tali. Karena tali selalu tersedia,“ kata dia dilansir vice.com.
Nitschke mengaku hanya ingin membantu orang-orang seperti itu dengan cara lain.
“Tepatnya, saya mengatakan manusia seharusnya harus bisa mati dengan tenang, baik itu dibantu oleh obat-obatan atau Sarco,“ jelas Nitschke.