sukabumiheadline.com – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara tengah bersiap untuk memulai pembangunan sejumlah proyek strategis pada 2026. Proyek flagship yang rencananya akan dilakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pada tahun ini, dan ditarget berjalan dari Februari hingga Juni 2026.
Sejumlah proyek tersebut dari mulai pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), kampung haji di Makkah, Arab Saudi, direncanakan dimulai pada kuartal IV/2026. Selain program flagship tersebut, Danantara juga berencana segera memulai pembangunan enam proyek hilirisasi strategis.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani, mengatakan ada enam proyek hilirisasi yang akan groundbreaking atau peletakan batu pertama pada Februari 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Adapun 8 dari 18 proyek tersebut merupakan sektor hilirisasi mineral dan batu bara (minerba), 2 proyek ketahanan energi, 2 proyek transisi energi, 3 proyek hilirisasi kelautan dan perikanan, dan 3 proyek hilirisasi pertanian.
Diberitakan sukabumiheadline.com sebelumnya, salah satu proyek tersebut akan dibangun di Sukabumi, Jawa Barat.
Untuk informasi, flagship adalah produk, layanan, atau toko utama dan paling unggul yang dimiliki oleh sebuah merek atau perusahaan. Produk atau proyek ini dirancang dengan teknologi tercanggih, fitur terbaik, dan kualitas premium untuk menunjukkan kemampuan terbaik perusahaan di pasar. Biasanya, flagship memiliki harga atau nilai proyek tertinggi dibanding produk lainnya.
Daftar proyek Danantara
Sumber: Kementerian ESDM
1. Smelter aluminium dari alumina: Mempawah, Kalimantan Barat US$2,4 miliar
2. Smelter grade alumina dari bauksit (SGAR): Mempawah, Kalimantan Barat US$890 juta
3. Fasilitas produksi bioavtur: Cilacap, Jawa Tengah US$1,1 miliar
4. Fasilitas produksi bioetanol: Banyuwangi, Jawa Timur US$80 juta
5. Proyek hilirisasi kelapa terintegrasi: Morowali, Sulawesi Tengah US$100 juta
6. Budidaya unggas: 5 fasilitas dari 12 titik lokasi (tidak disebutkan) tidak disebutkan
7. Proyek waste-to-energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL): Bekasi, Bogor Raya, Bali, dan Yogyakarta estimasi Rp2 triliun-Rp3 triliun per PSEL
8. Proyek Kampung Haji Makkah: Arab Saudi sekitar US$500 juta (pembelian hotel) US$700 juta-US$800 juta (pembangunan lanjutan)
Daftar Proyek Prioritas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Danantara
1. Industri Smelter Aluminium (bauksit): Mempawah, Kalimantan Barat. Anggaran Rp60 triliun, tenaga kerja 14.700 orang
2. Industri DME (batu bara): 6 lokasi (A) Bulungan, (B) Kutai Timur, (C) Kota Baru, (D) Muara Enim, (E) Pali, (F) Banyuasin. Anggaran Rp164 triliun, tenaga kerja 34.800 orang
3. Industri Aspal (Aspal Buton): Buton, Sulawesi Tenggara. Anggaran 1,49 triliun, tenaga kerja 3.450 orang
4. Industri Mangan Sulfat (Mangan): Kupang, NTT. Anggaran Rp3,05 triliun, tenaga kerja 5.224 orang
5. Industri Stainless Steel Slab (Nikel): Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Anggaran Rp38,4 triliun, tenaga kerja 12.000 orang
6. Industri Copper Rod, Wire & Tube (Katoda Tembaga): Gresik, Jawa Timur. Anggaran Rp19,2 triliun, tenaga kerja 9.700 orang
7. Industri Besi Baja (Pasir Besi): Kabupaten Sarmi, Papua. Anggaran Rp19 triliun, tenaga kerja 18.000 orang
8. Industri Chemical Grade Alumina (Bauksit): Kendawangan, Kalimantan Barat. Anggaran Rp17,3 triliun, tenaga kerja 7.100 orang
9. Industri Oleoresin (Pala): Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Anggaran Rp1,8 triliun, tenaga kerja 1.850 orang
10. Industri Oleofood (Kelapa Sawit): KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan Timur (MBTK). Anggaran Rp3 triliun, tenaga kerja 4.800 orang
11. Industri Nata de Coco, Medium-Chain Triglycerides (MCT), Coconut Flour, Activated Carbon (Kelapa): KI Tenayan, Riau. Anggaran Rp2,3 triliun tenaga kerja 22.100 orang
12. Industri Chlor Alkali Plant (Garam): (A) Aceh, (B) Kalimantan Timur, (C) Jawa Timur, (D) Sumsel (2), (E) Riau, (F) Banten (2), dan (G) NTT (2). Anggaran Rp16 triliun, tenaga kerja 33.000 orang
13. Industri Fillet Tilapia (Ikan Tilapia): (A) Banten, (B) Jawa Barat, (C) Jawa Tengah, (D) Jawa Timur. Anggaran Rp1 triliun, tenaga kerja 27.600 orang
14. Industri Carrageenan (Rumput Laut): Kupang, NTT. Anggaran Rp212 miliar, tenaga kerja 1.700 orang
15. Oil Refinery: (A) Lhokseumawe, (B) Sibolga, (C) Natuna, (D) Cilegon, (E) Sukabumi, (F) Semarang, (G) Surabaya, (H) Sampang, (I) Pontianak, (J) Badung (Bali), (K) Bima, (L) Ende, (M) Makassar, (N) Dongala, (O) Bitung, (P) Ambon, (Q) HalmaheraUtara, (R) Fakfak. Anggaran Rp160 triliun, tenaga kerja 44.000 orang
Berita Terkait: Karakteristik dan 5 kelebihan kilang modular yang akan dibangun di Sukabumi

16. Oil Storage Tanks: (A) Lhokseumawe, (B) Sibolga, (C) Natuna, (D) Cilegon, (E) Sukabumi, (F) Semarang, (G) Surabaya, (H) Sampang, (I) Pontianak, (J) Badung (Bali), (K) Bima, (L) Ende, (M) Makassar, (N) Dongala, (O) Bitung, (P) Ambon, (Q) HalmaheraUtara, (R) Fakfak. Anggaran Rp72 triliun, tenaga 6.960 orang.
Dengan demikian, jika dibagi 18 lokasi, maka dibutuhkan sekira 386 pekerja di masing-masing lokasi. Baca selengkapnya: Mengenal kilang modular yang akan dibangun Danantara di Sukabumi
Baca Juga: Ternyata ini tujuan kilang minyak Sukabumi dibangun
17. Modul Surya Terintegrasi (Bauksit & Silika): KI Batang, Jawa Tengah. Anggaran Rp24 triliun, tenaga kerja 19.500 orang
18. Industri Bioavtur (Used Cooking Oil): (A) KBN Marunda; (B) KI Cikarang; (C) KI Karawang. Anggaran 16 triliun, tenaga kerja 10.152 orang.









