sukabumiheadline.com – Malang tak dapat ditentang, derita tak bisa ditolak. Itulah kondisi yang dialami Nurmala, seorang balita asal Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Lahir dari keluarga yang bekerja sebagai buruh serabutan, Nurmala harus melewati hari-harinya dengan derita dan air mata. Tak hanya hidup dalam kondisi keterbatasan ekonomi, tapi juga sebab penyakit yang dideritanya sejak lahir.
Bocah berusia 2 tahun itu diduga menderita atresia ani, kelainan bawaan sejak ia lahir. Kondisi ini lazim disebut untuk orang yang lahir tanpa memiliki anus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengutip halodoc.com, atresia ani atau disebut juga anus imperforata adalah salah satu jenis cacat atau kelainan yang terjadi sejak lahir. Kondisi ini menunjukkan perkembangan janin mengalami gangguan sehingga bentuk rektum (bagian akhir usus besar) sampai lubang anus umumnya tidak terbentuk dengan sempurna.
Selain itu, kelainan satu ini juga bisa terjadi di area tubuh yang lain, seperti pada organ pencernaan, saluran kemih, hingga kelamin.
Kini, kondisi kesehatan Nurmala kian memburuk, dan berat badan balita warga Kampung Sindangpalay RT 004/006, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, itu hanya tinggal 6 kilogram saja.
“Penyakit itu jadi merembet, menyebabkan komplikasi ke yang lain. Makanya anak saya sekarang harus rawat jalan karena jantung. Jadi kata dokter, Nurma juga mengalami kelainan pada jantung,” jelas Suhandi, ayah Nurmala kepada sukabumiheadline.com, Senin (19/8/2024).
“Suka sesak napas, dadanya busung dan suka kejang-kejang. Kadang demam, dan kulitnya berwarna kebiruan,” imbuh Suhandi.
Rekomendasi Redaksi: Alvan Gumilang, Bocah 2 Tahun asal Jampang Tengah Sukabumi Butuh Rp100 Juta untuk Operasi Kebocoran Jantung
Suhandi menambahkan, karena tidak memiliki anus, sejak kecil Nurmala dibuat saluran pembuangan di bagian perut sebelah kiri.
“Kalau gak salah istilahnya kolostomi, jadi kalau buang air kecil atau besar harus menggunakan kantong kolostomi,” kata Suhandi.
“Inginnya segera dioperasi, cuma masalahnya memang menderita kelainan jantung juga,” keluh Suhandi.
Buruh serabutan
Sementara, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Suhandi dan istri mengaku sudah kepayahan. Ia hanya mengandalkan penghasilan dari upah membuat dan menjual kue semprong milik tetangganya.
“Alhamdulillah, sehari kadang dapat 30 ribu sampai 80 ribu. Gak tentu, karena sering juga tidak dagang karena harus nganter Nurma ke rumah sakit,” jelasnya.
“Kalau istri mah enggak kerja karena setiap hari harus ngurus Nurma di rumah,” imbuh Suhandi.
Rekomendasi Redaksi: Siti Malang, Anak Semata Wayang asal Cimanggu Sukabumi Bocor Jantung

Kakak putus sekolah SMP, untuk makan pun sulit
Diketahui, Nurma sendiri adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Namun sayangnya, satu dari kakak Nurma terpaksa harus putus sekolah karena ketiadaan biaya sehari-hari.
“Dua tahun ini saya fokus ke Nurma, jadi kakaknya terpaksa harus mengalah, berhenti sekolah tidak sampai lulus SMP,” keluh Suhandi.
Diakui Suhandi, kadang untuk jajan anak atau makan ia memang harus meminjam kanan-kiri ke tetangga.
“Sering minjam untuk jajan anak, karena untuk makan aja kami susah. Kadang suka ada yang ngasih, tapi kalau sering minta bantuan saya juga malu,” papar Suhandi.
Baca Juga: Masuk Melalui Air Minum, Mikroplastik Menembus Jantung hingga Otak
Alhasil, kini semua aset yang dimiliki Suhandi, dari mulai sepeda motor hingga kulkas dan barang-barang lainnya, kini sudah habis dijual untuk pengobatan Nurmala.
“Sekarang kalau mau ke rumah sakit, sering bingung sendiri karena sudah gak pegang uang sama sekali. Suka minjam ke tetangga, tapi karena sering, jadi suka malu juga,” akunya.
“Pengeluaran rutin ya untuk kantong kolostomi, tisu steril, susu protein tinggi biar berat badan naik, dan ongkos ke rumah sakit,” jelas dia.
Nurmala sendiri, kata Suhandi, sudah mendapatkan rujukan ke RS Harapan Kita Jakarta. “Disuruh datang lagi nanti, Januari 2025, untuk konsultasi apa bisa diambil tindakan operasi atau enggak.”
“Umum, karena saya enggak mampu ikut BPJS Kesehatan,” imbuhnya.
“Satu-satunya ikhtiar kami yang sering hanya berdoa, karena hanya itu yang gratis dan bisa kami lakukan,” pungkas Suhandi.