Peneliti ITB kembangkan rumah bambu interlock tahan gempa bumi

- Redaksi

Minggu, 26 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Serba bambu, peneliti ITB kembangkan rumah bambu modular tahan gempa bumi - ITB

Serba bambu, peneliti ITB kembangkan rumah bambu modular tahan gempa bumi - ITB

sukabumiheadline.com – Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan rumah bambu modular dengan sistem bongkar pasang atau knock-down sebagai alternatif hunian permanen yang kuat, fleksibel, dan lebih ramah lingkungan.

Melansir dari laman resmi ITB, inovasi ini memanfaatkan teknologi rekayasa bambu dan sistem sambungan antarkomponen yang menyerupai kepingan lego sehingga bangunan dapat dirakit dengan lebih mudah serta dirancang untuk merespons guncangan gempa. Adapun purwarupa Rumah Bambu Modular yang dikembangkan di Kampus ITB Jatinangor.

Pengembangan tersebut menjawab sejumlah persoalan sekaligus, mulai dari terbatasnya pemanfaatan bambu sebagai bahan bangunan bernilai tinggi, kebutuhan hunian yang aman di wilayah rawan bencana, hingga panjangnya rantai produksi dan distribusi material konstruksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui pendekatan manufaktur vernakular, proses pengolahan bambu dapat dilakukan lebih dekat dengan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan penghasil bambu.

Inovasi ini diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat pemilik dan pengelola lahan bambu, pelaku usaha lokal, serta warga yang membutuhkan hunian layak, termasuk masyarakat terdampak bencana.

Selain membuka peluang ekonomi berbasis sumber daya lokal, rumah bambu modular dapat mendukung penyediaan hunian tetap yang lebih cepat sehingga masyarakat tidak harus terlalu lama tinggal di tempat pengungsian sementara.

Pengembangan ini penting bagi publik karena menghadirkan solusi perumahan yang menggabungkan keselamatan, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Alternatif hunian pascabencana

Sistem modular memberikan potensi pemanfaatan rumah bambu sebagai hunian tetap yang dapat dipersiapkan sebelum bencana terjadi. Komponen bangunan dapat diproduksi dan disimpan sebagai persediaan, kemudian dikirim dan dirakit ketika dibutuhkan.

Pendekatan tersebut dapat membantu mempercepat transisi masyarakat dari tenda pengungsian menuju hunian yang lebih layak. Penyediaan hunian permanen secara lebih cepat juga penting untuk mendukung pemulihan kondisi sosial dan psikologis masyarakat terdampak bencana.

Selain untuk penanganan pascabencana, sistem rumah bambu modular dapat dikembangkan sebagai salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan perumahan nasional. Penggunaan bambu sebagai sumber daya terbarukan turut menawarkan pendekatan konstruksi yang lebih berkelanjutan dibandingkan material yang membutuhkan energi produksi tinggi.

Menuju ekosistem hunian bambu

Tim peneliti menargetkan pengembangan ekosistem hunian berbasis bambu yang tidak hanya mencakup struktur bangunan, tetapi juga berbagai kebutuhan di dalam rumah, seperti tempat tidur, meja makan, dan perlengkapan lainnya.

Pengembangan tersebut memerlukan kolaborasi multidisiplin, mulai dari bidang arsitektur, rekayasa material, kehutanan, desain produk, teknik sipil, manufaktur, hingga ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

Tim juga mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri hingga 100 persen serta pengembangan konsep zero metal housing. Melalui konsep ini, konstruksi diarahkan untuk menggunakan sistem sambungan dan pasak berbahan kayu atau bambu tanpa bergantung pada paku logam.

Melalui rumah bambu modular, ITB menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dan teknologi modern dapat dipadukan untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Bambu tidak hanya diposisikan sebagai material tradisional, tetapi sebagai sumber daya strategis untuk membangun hunian yang aman, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian lokal.

Mengoptimalkan potensi bambu Indonesia

Serba bambu, peneliti ITB kembangkan rumah bambu modular tahan gempa bumi - ITB
Serba bambu, peneliti ITB kembangkan rumah bambu modular tahan gempa bumi – ITB

Rumah Bambu Modular dikembangkan oleh tim lintas disiplin ITB yang dipimpin Permana, S.T., M.T., dari Program Studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB.

Riset bertajuk “Pengembangan Arsitektur Knock-down System pada Desain Rumah Modular Berbasis Teknologi Bamboo Engineering” tersebut turut melibatkan peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.

Pengembangan inovasi ini berangkat dari besarnya potensi bambu di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal. Meskipun Indonesia memiliki beragam jenis bambu, material tersebut masih kerap dipandang sebagai bahan bangunan kelas dua yang identik dengan bangunan sementara atau hunian darurat.

Salah satu tantangan dalam penggunaan bambu adalah bentuk batangnya yang silindris. Karakter tersebut membuat bambu sulit digunakan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan komponen konstruksi dengan ukuran, ketebalan, dan kelebaran tertentu.

Di sisi lain, pengolahan bambu untuk pasar premium dapat membutuhkan biaya tinggi. Kondisi ini mendorong tim ITB mencari metode pengolahan yang tetap menghasilkan material berkualitas, tetapi dapat menggunakan jenis bambu yang lebih beragam dan diproduksi dengan proses yang lebih efisien.

Sistem interlock menyerupai kepingan lego

Untuk mengatasi keterbatasan bentuk bambu, tim peneliti menerapkan teknik laminasi. Batang bambu dipotong menjadi bilah-bilah kecil, kemudian direkatkan hingga mencapai ukuran dan ketebalan yang diperlukan sebagai komponen konstruksi.

Tim mengeksplorasi pemanfaatan berbagai jenis bambu, antara lain bambu surat, bambu tali, bambu ampel, dan bambu mayan. Dengan demikian, produksi material tidak hanya bergantung pada bambu betung yang selama ini banyak digunakan dalam produk bambu rekayasa.

Material hasil laminasi tersebut kemudian dibentuk menjadi komponen profil tertentu dengan variasi panjang 30 dan 60 sentimeter. Komponen-komponen itu dapat dirakit menggunakan sistem knock-down dengan mekanisme saling mengunci atau interlock.

Pemasangan komponen dilakukan secara berselang-seling untuk menghasilkan kuncian horizontal. Sementara itu, hubungan vertikal antarkomponen memanfaatkan gaya gesek. Susunan ruang padat dan kosong pada sistem tersebut menghasilkan struktur yang kuat sekaligus fleksibel dalam menerima pergerakan akibat guncangan.

Konsep modular tersebut membuat proses pembangunan menyerupai penyusunan kepingan Lego. Selain mempermudah perakitan, sistem ini memungkinkan komponen diproduksi secara terpisah, disimpan, dipindahkan, serta dipasang sesuai kebutuhan.

Mendekatkan produksi kepada masyarakat

Rumah Bambu Modular ITB tidak hanya dikembangkan sebagai produk arsitektur, tetapi juga sebagai bagian dari konsep manufaktur vernakular. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses produksi komponen bangunan.

Peneliti SITH ITB, Dr. Rudi Dungani, menjelaskan bahwa proses produksi dapat dibawa lebih dekat ke kawasan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan atau lahan bambu. Pengolahan dilakukan menggunakan mesin manual yang ringan dan tidak bergantung pada listrik.

“Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjual bambu dalam bentuk bahan mentah, tetapi berpeluang mengolahnya menjadi komponen bangunan permanen yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Produksi yang dilakukan di sekitar sumber bahan baku juga dapat menyederhanakan rantai pasok dan menekan biaya pengangkutan,” katanya.

Model ini membuka peluang tumbuhnya kegiatan ekonomi lokal berbasis bambu. Masyarakat dapat terlibat dalam penanaman, pemanenan, pengolahan, pembuatan komponen, hingga perakitan bangunan, sehingga manfaat inovasi tidak hanya dirasakan oleh pengguna rumah, tetapi juga oleh komunitas produsen.

Berita Terkait

Sepeda listrik VW punya radar plus helm dan kacamata ala pilot tempur, harga?
Petani Ciemas Sukabumi kini mampu produksi bahan bakar PLTU Palabuhanratu
Iceler mesin es batu 24 jam untuk UMKM, cek harganya
Harga Xiaomi Mijia Ultra 3HP, AC Floor-Standing hanya butuh 15 detik dinginkan rumah
BRIN kembangkan Rubber Crossing Plate untuk perlintasan KA, lebih kuat dari beton
Usai KF-21 Boromae jalani 1.600 kali tes, pesawat buatan Korsel-RI dapat sertifikat layak tempur
7 produk yang percuma diciptakan
Bunda, ini spesifikasi 5 kompor listrik terbaik mulai Rp170 ribu, efisiensi energi tinggalkan elpiji

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 17:37 WIB

Peneliti ITB kembangkan rumah bambu interlock tahan gempa bumi

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:57 WIB

Sepeda listrik VW punya radar plus helm dan kacamata ala pilot tempur, harga?

Sabtu, 27 Juni 2026 - 16:52 WIB

Petani Ciemas Sukabumi kini mampu produksi bahan bakar PLTU Palabuhanratu

Senin, 22 Juni 2026 - 18:08 WIB

Iceler mesin es batu 24 jam untuk UMKM, cek harganya

Selasa, 2 Juni 2026 - 10:00 WIB

Harga Xiaomi Mijia Ultra 3HP, AC Floor-Standing hanya butuh 15 detik dinginkan rumah

Berita Terbaru

Serba bambu, peneliti ITB kembangkan rumah bambu modular tahan gempa bumi - ITB

Teknologi

Peneliti ITB kembangkan rumah bambu interlock tahan gempa bumi

Minggu, 26 Jul 2026 - 17:37 WIB

Ilustrasi seorang warga miskin menjadi terdakwa di pengadilan - sukabumiheadline.com

Hukum

Hukum di Indonesia seperti golok, Mantan Ketua MK: Suram

Minggu, 26 Jul 2026 - 03:40 WIB

Sukabumi

Kampung Adat Ciptamulya Sukabumi terbakar, 70 rumah ludes

Sabtu, 25 Jul 2026 - 19:58 WIB

Honda F125 - Honda

Otomotif

Intip spesifikasi Honda F125, harga cuma Rp20 jutaan

Sabtu, 25 Jul 2026 - 13:00 WIB