Guru Honorer di Pelosok Sukabumi, Pergi Mengajar Lewati Perkebunan, Bukit dan Jalan Rusak

- Redaksi

Senin, 3 Januari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Edwar Gumilar berangkat ke sekolah. l Istimewa

Edwar Gumilar berangkat ke sekolah. l Istimewa

sukabumiheadline.com – Bagi mereka yang hidup di pelosok sekaligus wilayah perbatasan, menjadi tenaga didik butuh perjuangan dan tekad yang kuat untuk mendedikasikan diri demi kemajuan sektor pendidikan. Fasilitas serba minim dan jumlah guru terbatas, pun sebagian besar berstatus honorer.

Ada banyak kisah perjuangan guru-guru honorer berjuang di wilayah perbatasan. Edwar Gumilar salah satunya, seorang guru honorer di tempat terpencil yang diapit tiga kecamatan, yakni Warungkiara, Jampang Tengah, dan Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi.

“Saya mengajar di SDN Kutaluhur di Kampung  Cijangkar, Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara. Sebuah perkampungan terpencil di antara tiga kecamatan, Warungkiara, Jampang Tengah, dan Lengkong,” ungkap laki-laki 34 tahun itu kepada sukabuniheadlines.com, Senin (3/1/2022).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kecintaan Edwar terhadap dunia pendidikan diajarkan ayahnya sejak kecil, membuatnya bertahan menjadi tenaga pendidik non pegawai negeri sipil (PNS) hingga saat ini.

“Saya menjadi guru honorer karena kecintaan terhadap dunia pendidikan yang diajarkan ayah sejak kecil,” ujar Gumilar.

Kini, 13 tahun sudah ia mengabdikan diri, dimulai sejak 2008 hingga sekarang, ia rela mendedikasikan diri untuk masa depan pendidikan generasi penerus bangsa di Sukabumi.

“Masa bakti saya menjadi guru dimulai semenjak 2008 sampai sekarang. Waktu pertama menjadi guru honorer saya masih menggunakan ijazah SMA karena masih kuliah. Saya mendapatkan ijazah S1 tahun 2010, jadi saya menjadi guru honorer dari semenjak kuliah,” kata lulusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini.

Meskipun dengan gaji terbilang jauh dari mencukupi, ayah satu anak ini tetap ikhlas dan bertahan karena menurutnya, pendidikan bukan hanya hak warga perkotaan.

“Gaji saya sekarang di SDN Kutaluhur Rp800 ribu. Dibilang jauh dari kata cukup, tapi saya jalani semuanya karena hati. Saya bertahan menjadi guru honorer karena kekurangan guru di sini. Pendidikan tidak hanya untuk anak-anak di perkotaan saja. Di SDN Kutaluhur Guru PNS cuma satu orang, itupun asli orang setempat. Guru berstatus PNS jarang yang mau mengajar di tempat terpencil,” terangnya.

Untuk menutupi kekurangan penghasilan dari seorang guru honorer, Edwar bekerja serabutan. “Ya mungkin ini cerita hidup saya, harus berjuang terlebih dahulu. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus bekerja di luar profesi saya sebagai pengajar dengan menjadi pekerja serabutan,” terang Edwar.

Kesedihan lainnya yang ia rasakan adalah, jarak yang harus ditempuh untuk sampai sekolah tempatnya mengajar, harus melewati perkebunan dan perbukitan. Tak hanya itu, kondisi jalan masih bebatuan bercampur tanah.

“Inilah jarak yang saya tempuh menuju SDN Kutaluhur dari tempat tinggal saya memakan waktu 2,5 jam untuk sampai ke sekolah, perjalanannya melewati  dua kecamatan yaitu Kecamatan Cikembar dan Jampang Tengah. Dari Desa Bojongjengkol, Jampang Tengah, masuk ke area perkebunan Citalahab dengan kondisi jalan berbatu dan tanah. Melewati bukit-bukit yang disuguhi pemandangan indah, tapi kalau musim penghujan kondisi jalanan menjadi lumayan menantang karena masih tanah. Harus sabar,” paparnya.

Namun, meskipun lebih banyak dukanya, ada satu hal yang membuatnya tetap bersemangat mengabdikan diri.

“Sukanya adalah saat melihat senyum bahagia dan keceriaan anak-anak di pelosok terpencil bisa  mengenyam pendidikan. Dari yang tadinya tidak bersekolah menjadi bisa sekolah. Kalau dukanya, itu tadi, jarak tempuh sangat jauh dengan kondisi jalan terjal dan tanah. Kdang itu membuat putus asa, lelah, capek, rindu kepada keluarga karena saya pulang ke rumah seminggu sekali. Tidak cukup biaya untuk pulang pergi dengan honor terbatas. Namun, semua saya jalani dengan ikhlas dan ridha,” ungkapnya.

Edwar Gumilar bersama anak didik - Istimewa
Edwar Gumilar bersama anak didik – Istimewa

Harapan Gumilar tidak besar, ia hanya ingin diperhatikan oleh pemerintah dari segi pendapatan. Sebuah harapan yang entah kapan akan terwujud.

“Harapan saya tidak besar, tidak apa saya tidak diangkat menjadi PNS, tapi tolong perhatikan kesejahteraan kami. Minimal kami guru honorer mendapatkan setara UMK (upah minimum kabupaten/kota-re),” tuturnya.

Edwar Gumilar juga mengungkapan permintaannya terhadap pemerintah untuk segera mengembalikan metode pebelajaran daring ke metode semula, tatap muka, karena pembelajaran dengan metode daring tidak akan efektif, terlebih di daerah terpencil seperti tempatnya mengajar

“Tolong pemerintah untuk segera mengubah kembali metode pembelajaran seperti semula karena pembelajaran dengan mode daring tidak akan efektif. Sebabnya apa, di daerah terpencil, kami banyak dihadapkan pada faktor fasilitas yang serba tidak mendukung, dari mulai kesulitan mendapatkan signal hingga banyak warga yang tidak memiliki smartphone,” pungkasnya.

Berita Terkait

Kades Babakanjaya Parungkuda dikabarkan dipecat Bupati Sukabumi
Korban proyek pembangunan Jalan Tol Bocimi Seksi 3 berjatuhan, lecet hingga kepala bocor
Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi: Syukuran Nelayan Ujunggenteng aset budaya daerah
Mengenal 5 kecamatan terluas dan tersempit di Kabupaten Sukabumi
DPRD Kabupaten Sukabumi komentari capaian Opini WTP ke-12
DPRD Kabupaten Sukabumi sepakati dua Raperda
Perempuan asal Sukabumi terancam penjara 12 tahun di Mataram, NTB
Daftar nama lulus seleksi calon pimpinan Baznas Kota Sukabumi 2026-2031

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 21:01 WIB

Kades Babakanjaya Parungkuda dikabarkan dipecat Bupati Sukabumi

Rabu, 17 Juni 2026 - 18:27 WIB

Korban proyek pembangunan Jalan Tol Bocimi Seksi 3 berjatuhan, lecet hingga kepala bocor

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:00 WIB

Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi: Syukuran Nelayan Ujunggenteng aset budaya daerah

Jumat, 12 Juni 2026 - 04:58 WIB

Mengenal 5 kecamatan terluas dan tersempit di Kabupaten Sukabumi

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:57 WIB

DPRD Kabupaten Sukabumi komentari capaian Opini WTP ke-12

Berita Terbaru

Laptop Augmented Reality (AR) - Ist

Bisnis

10 produk Israel dan yang dijual di Indonesia, kenali yuk!

Kamis, 18 Jun 2026 - 08:00 WIB

Ilustrasi pelajar SMA dan SMK - sukabumiheadline.com

Pendidikan

Satu di Sukabumi, daftar 17 SMA dan SMK baru di Jawa Barat 2026

Kamis, 18 Jun 2026 - 07:11 WIB