Hukum di Indonesia seperti golok, Mantan Ketua MK: Suram

- Redaksi

Minggu, 26 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi seorang warga miskin menjadi terdakwa di pengadilan - sukabumiheadline.com

Ilustrasi seorang warga miskin menjadi terdakwa di pengadilan - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Arief Hidayat menyebut Indonesia saat ini masih dalam kondisi suram. Dari sisi hukum, warga negara sama di depan hukum, tapi tidak bersamaan kedudukannya di depan aparat penegak hukum.

Kondisi penegakkan hukum di Indonesia yang seperti golok, tumpul ke atas dan tajam ke bawah, tersebut, disampaikan Arief dalam Simposium Nasional Peringatan 99 Tahun Partai Nasional Indonesia (PNI) bertema Refleksi Historis dan Meneguhkan Marhaenisme untuk Kedaulatan Rakyat yang digelar di Aula Kantor DPP Persatuan Alumni GMNI, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

“Di depan hukum, di depan konstitusi, warga negara semua itu sama di depan hukum, tapi tidak bersamaan kedudukannya di depan aparat penegak hukum. Hukum sangat tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama berani mengatakan yang benar adalah benar, yang salah adalah salah,” ujar Arief.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut pria yang juga mantan Ketua Umum DPP Persatuan Alumni GMNI itu, setelah pensiun dari MK, dia sering memakai pakaian hitam karena Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Indonesia masih dalam keadaan suram, hanya saja dia tidak mau pindah dari negara tercintanya itu.

“Saya dalam beberapa saat setelah purna dari Mahkamah Konstitusi selalu memakai pakaian hitam, itu karena Indonesia sedang tidak baik-baik saja, jadi saya mengatakan Indonesia masih dalam keadaan suram. Tapi saya tidak mau pergi pindah dari Indonesia, karena bagaimanapun saya meskipun dicoba sudah diusir, tapi saya tetap di Indonesia karena saya mencintai Indonesia yang luar biasa ini,” paparnya.

Hakim Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat. l Istimewa
Arief Hidayat – Ist

Arief menerangkan, para pendiri negara memberikan warisan luar biasa untuk bernegara, yakni sistem yang menganut paham sosialisme religius, sistem demokratis, sistem berhukum secara berkarakter sendiri, bukan hukum berkarakter meniru bangsa Barat. Sebabnya, Indonesia berhukum berdasarkan atau berkarakter Pancasila.

“Namun, kita lihat sekarang sistem hukum kita telah berbelok panjang, saya merasa Pasal 28 mengatakan setiap warga negara bersamaan kedudukannya di depan hukum dan pemerintahan. Tapi secara hukum setiap warga negara tidak bersamaannya di depan aparat penegakan hukum,” jelasnya

Dijelaskan Arief, saat ini sistem hukum berbelok sebagaimana mestinya karena di depan hukum dan konstitusi, warga negara sama di depan hukum, tapi tidak bersamaan kedudukannya di depan aparat penegak hukum.

Padahal, warisan The Founding Fathers sangat luar biasa, tapi proses implementasinya justru kerap terjadi kesalahan.

Dia lantas menceritakan, saat masih menjadi hakim konstitusi, dia pernah menghadiri pertemuan di Kongres MK Sedunia di Madrid. Dia kala itu berdiskusi dengan rekan dari Skandinavia, yang 98 persen penduduknya Ateis, tapi di negara itu tidak ada korupsi, kolusi, nepotisme, pelanggaran hukum, hingga abuse of power.

“Dia menjawab, urusan dunia diselesaikan sebaik-baiknya di dunia, mereka tidak percaya ada surga, tidak ada neraka, tapi di dunia harus diselesaikan secara sebaik-baiknya di dunia. Saya sangat terpukul mendapat penjelasan itu,” ujarnya.

Berita Terkait

Duka Bobotoh, Arif Rahman meninggal dunia usai nonton Garudayaksa FC vs Persib
Catut nama dan jabatan profesor asal Sukabumi, pelaku penipuan dilaporkan ke polisi
Ojol di Sukabumi ditembak dari jarak 7 meter
Januari-Oktober 2026, ini daftar 14 kepala daerah ditangkap KPK
Prabowo setujui usulan Luhut ubah definisi korupsi
MK: Prajurit TNI terlibat pidana umum harus diadili di peradilan umum
Soal penyerangan bus tim EPA Persib, Erick Thohir: Kriminal, kurangi poin
KPK serahkan hasil rampasan korupsi ke Pemkab Sukabumi senilai Rp1.94 miliar

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Duka Bobotoh, Arif Rahman meninggal dunia usai nonton Garudayaksa FC vs Persib

Senin, 26 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Catut nama dan jabatan profesor asal Sukabumi, pelaku penipuan dilaporkan ke polisi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 18:05 WIB

Ojol di Sukabumi ditembak dari jarak 7 meter

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Januari-Oktober 2026, ini daftar 14 kepala daerah ditangkap KPK

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:30 WIB

Prabowo setujui usulan Luhut ubah definisi korupsi

Berita Terbaru

Ilustrasi dukun di Indonesia - sukabumiheadline.com

Kultur

5 cerita dan cap hitam teluh Jampang Sukabumi

Minggu, 1 Nov 2026 - 01:00 WIB

Le Minerale sponsori Persib Bandung - Ist

Nasional

Muncul seruan boikot Le Minerale dipicu video aksi

Sabtu, 31 Okt 2026 - 17:00 WIB