sukabumiheadline.com – Mungkin tidak banyak warga Kota dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang mengetahui bahwa salah seorang tokoh besar nasional pernah dibuang ke kota ini, akibat dinilai terlalu kritis kepada penguasa saat itu, Pemerintah Kolonial Belanda.
Namun alih-alih tersiksa secara mental, selama diasingkan ke Sukabumi tokoh-tokoh masa perjuangan malah mampu melahirkan karya-karya besar. Dari mulai ide-ide perlawanan hingga tulisan yang kemudian dibukukan. Baca selengkapnya: Kisah Buya Hamka ditahan di Sukabumi, menulis buku Hanya Allah hingga ingin bunuh diri
Selain Tjipto Mangunkusumo, tokoh nasional yang pernah dibuang ke Sukabumi, antara lain ulama besar Buya Hamka hingga Wakil Presiden RI Pertama, Muhammad Hatta, dan Sutan Sjahrir. Baca selengkapnya: Mengenal Cagar Budaya Rumah Tahanan Bung Hatta-Sjahrir di Sukabumi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dr. Tjipto Mangunkusumo yang dikenal kritis
Dr. Tjipto Mangunkusumo tokoh pergerakan nasional yang cukup terkenal pada masanya, ia lulusan STOVIA (sekolah kedokteran) yang rajin membuat tulisan-tulisan pedas mengkritik pemerintah Hindia Belanda di harian De Locomotive dan Bataviaasch Nieuwsblad, sejak 1907.
Setelah lulus dari STOVIA, ia bekerja sebagai dokter pemerintah Hindia Belanda dan ditugaskan di Demak, Jawa Tengah. Sikapnya yang tetap kritis melalui berbagai tulisan membuatnya harus rela kehilangan pekerjaannya.
Karena sikap kerasnya itu, Ruslan Abdulgani menyebutnya het is noemens van ons tjip (itulah Tjipto, begitulah sifatnya – red).
Tjipto kemudian bergabung dengan Budi Utomo dan mendirikan RA. Kartini Klub yang bertujuan memperbaiki nasib rakyat. Setelah bertemu Douwes Dekker, bersama Suwardi Suryaningrat mendirikan Indische Partij pada 1912.
Tjipto dan Suwardi mendirikan Komite Bumiputera sebagai reaksi atas rencana Belanda merayakan 100 tahun kemenangan Belanda di Indonesia.pada 19 Juli 1913.
Ketika harian De Express menerbitkan artikel Suwardi Suryaningrat yang berjudul “Als Ik Nederlander Was” (Andaikan saya seorang Belanda). Tjipto kemudian menulis artikel yang mendukung Suwardi keesokan harinya. Akibatnya, 30 Juli 1913, Tjipto dan Suwardi dipenjara.
Baca Juga: Film Buya Hamka Dibintangi Artis Sukabumi, Vino Ungkap “Kedekatan” dengan Sang Ulama
Dibuang ke Belanda, lalu ke Sukabumi
Pada 18 Agustus 1913, Tjipto Mangunkusumo bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Namun, karena alasan kesehatan, setahun kemudian, pada 1914, Tjipto diizinkan pulang kembali ke Jawa.
Sepulang dari Belanda ia memilih bergabung dengan Insulinde. Pada 9 Juni 1919 Insulinde mengubah nama menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP).
Tjipto Mangunkusumo kemudian dipilih sebagai salah seorang anggota Volksraad oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda mewakili tokoh yang kritis. Sebagai anggota Volksraad, sikap Tjipto tidak berubah, hingga kemudian pemerintah Hindia Belanda mengusirnya ke Bandung dan dikenakan tahanan kota.
Pada 1927, Belanda menganggap Tjipto terlibat dalam upaya sabotase sehingga membuangnya ke Bandaneira. Dalam pembuangan, penyakit asmanya kambuh, ia kemudian dipindahkan ke Makassar, lalu ke Sukabumi pada 1940 dengan membawa serta 20 peti buku koleksinya.
Dalam perjalanan ke Sukabumi, ia ditempatkan di kereta kelas ekonomi. Saat transit di Surabaya, ia meminta penghubungnya menghubungi Kepala Polisi Surabaya untuk menyediakan tiket kelas satu karena janji pemerintah akan memberangkatkannya ke Sukabumi dengan layanan kelas satu.
Saat menghubungi kepala polisi, ia memberi ancaman dengan kata-kata: “Seekor musang bisa kehilangan bulunya, tapi tidak akan kehilangan akalnya.” Hal ini membuat Kepala Polisi Surabaya ketakutan dan segera menyediakan tiket kelas satu untuknya.
Baca Juga: Perjalanan hidup AWKA, adik Buya Hamka ditahan di Sukabumi lalu murtad dan jadi pendeta
Hari-hari Tjipto Mangunkusumo di Sukabumi
Tiba di Sukabumi, ia ditempatkan di Selabintana weg 30 bersama keluarganya. Selama di Sukabumi, ia juga sempat bertemu Hatta dan Sjahrir dan membantu mereka saat pertamakali datang di kota ini. Baca selengkapnya: Dari Sukabumi Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir Prediksi Kehancuran Hindia Belanda
Saat bertemu Hatta dan Sjahrir, ia menemukan kedua sahabatnya itu terlunta-lunta akibat belum menerima toelage atau uang saku. Tjipto-pun memberikan uangnya semberi berpesan, “Kalian harusnya tahu bagaimana berhadapan dengan pihak kolonial.”
Namun, hawa Sukabumi yang dingin ternyata tidak baik bagi kesehatannya, sehingga tidak lama kemudian ia dipindahkan lagi ke Jakarta, dan wafat pada 8 Maret 1943. Baca selengkapnya: #Part1: Pahlawan dan pejuang pernah dibuang ke Sukabumi selain Hatta dan Sjahrir