sukabumiheadline.com – Komoditas daging sapi sedang didorong Kementerian Pertanian agar dapat swasembada tanpa mengandalkan impor daging. Berbagai langkah dilakukan dengan mengembangkan peternakan sapi, termasuk mendatangkan indukan dari negara lain.
Namun, sebenarnya Indonesia memiliki sapi lokal yang dapat diandalkan, seperti Sapi Pasundan merupakan sapi lokal Jawa Barat.
Sapi Pasundan berasal dari hasil persilangan antara Bos sundaicus/ banteng/Sapi byali, dengan Sapi Jawa, Sapi Madura dan Sapi Sumba Ongole, dan telah beradaptasi lebih dari 10 (sepuluh) generasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal ini diketahui karena terdapat gen khas Sapi Bali, Sumba Ongole, dan Madura pada Sapi Pasundan. Sapi ini memiliki sebaran asli geografis di wilayah Provinsi Jawa Barat meliputi Kabupaten Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Ciamis, Kuningan, Majalengka, Sumedang, Indramayu dan Purwakarta, hingga Sukabumi.
Sapi Pasundan merupakan salah satu sumber daya genetik ternak lokal asli Jawa Barat yang menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2026.
Dikutip sukabumiheadline.com dari Jurnal Produksi Ternak Terapan, Universitas Padjadjaran, karya Haifa Farras Izdihar, Johar Arifin dan Nena Hilmia, berjudul Eksistensi Populasi Sapi Pasundan Berdasarkan Nilai Tekanan Inbreeding di Kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Sapi Pasundan di sini lebih dari 80 persen adalah betina.
“Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana struktur populasi Sapi Pasundan di Kawasan geopark Ciletuh-Pelabuhanratu dan untuk mengetahui nilai tekanan inbreeding Sapi Pasundan di Kawasan Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu sebagai landasan untuk kepentingan konservasi,” kata Haifa, Johar dan Nena, dikutip Rabu (14/1/2026).
“Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan eksploratif. Pengumpulan data ternak dan peternak dilakukan dengan metode survei,” jelasnya.
Dari data UPTD Kesehatan Hewan (Keswan) Jampang Kulon dan Surade, serta Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi dengan verifikasi data sampling disetiap kecamatan, hanya terdapat 5,44% jantan dewasa dari total sekira 13 ribu ekor lebih di seluruh Tatar Pasundan.
Haifa, Johar dan Nena menjelaskan, Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.
“Hasil penelitian menunjukkan struktur populasi Sapi Pasundan di Kawasan Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu terdiri dari 5,44 persen jantan dewasa, 55,31 persen betina dewasa,” ungkap mereka.
“Sementara itu, 12,8 persen anak jantan dan 26,43 persen anak betina. Nilai tekanan inbreeding yang diperoleh sebesar 0,7 persen. Hasil tersebut mendeskripsikan bahwa tekanan inbreeding masih di bawah 1% dan masih dapat di toleransi,” paparnya.
Untuk informasi, inbreeding adalah istilah lain untuk perkawinan sedarah, yakni perkawinan antara dua individu atau lebih yang memiliki hubungan kekerabatan sangat dekat, seperti antara saudara kandung, orang tua dan anak, atau kakek-nenek dan cucu.
Di dunia peternakan, tujuan inbreeding untuk mengonsentrasikan sifat unggul (pemuliaan), tetapi risikonya adalah munculnya sifat resesif berbahaya dan cacat genetik (depresi inbreeding) karena peningkatan homozigositas (memiliki dua alel identik).
Bagi Sapi Pasundan, kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi adanya keinginan meningkatkan produksi daging sapi lokal, namun di sisi lain upaya menjaga pemurnian genetik Sapi Pasundan yang populasinya terbilang langka.
Berikut adalah ulasan terkait poin-poin utama mengenai Sapi Pasundan di Sukabumi:
1. Karakteristik dan keunggulan

Sapi ini dikenal sebagai hewan yang tangguh dan memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis.
- Ketahanan: Sangat kuat terhadap serangan penyakit dan cuaca ekstrem.
- Kualitas Daging: Memiliki tekstur daging yang bagus dengan rasa khas serta persentase karkas mencapai 53%.
- Reproduksi: Tergolong produktif dengan kemampuan beranak secara teratur (sekitar setahun sekali).
- Morfologi: Berukuran tubuh ideal untuk pengembangan daging; jantan dewasa mencapai berat rata-rata 240 kg, sementara betina 220 kg.
2. Sebaran di Sukabumi
Di Kabupaten Sukabumi, populasi sapi ini terkonsentrasi di wilayah selatan, khususnya di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.
Wilayah basis pengembangannya mencakup area seperti Jampang Kulon dan Surade, di mana pemeliharaan sering dilakukan secara semi-intensif hingga ekstensif.
3. Upaya pelestarian dan pengembangan 2026
Memasuki tahun 2026, pemerintah daerah melalui Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi terus mendorong inovasi untuk menjaga kemandirian pangan.
Fokus utama meliputi:
- Pemurnian Genetik: Menjaga keaslian DNA sapi Pasundan agar tidak terjadi penurunan kualitas akibat kawin sedarah (inbreeding).
- Dukungan Pangan: Sapi ini diproyeksikan sebagai penopang utama ketahanan pangan nasional dari sektor peternakan lokal Jawa Barat.
- Regenerasi Peternak: Mengatasi tantangan kurangnya minat peternak muda (saat ini mayoritas di atas 40 tahun) agar usaha ternak tetap berkelanjutan.
Sapi jawara asal Tatar Pasundan, sumber daya genetik lokal bernilai ekonomi tinggi

Dikutip dari laman resmi Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat, Sapi Pasundan merupakan salah satu sumber daya genetik lokal yang berasal dari Tatar Pasundan dan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sunda.
Sapi ini diyakini merupakan hasil persilangan alami antara sapi Banteng dengan sapi lokal yang telah beradaptasi dengan kondisi geografis di wilayah Jawa Barat.
Sejarah panjang sapi ini menunjukkan bagaimana masyarakat setempat telah memanfaatkannya untuk berbagai keperluan, mulai dari pertanian, transportasi, hingga konsumsi daging. Ketahanan dan daya adaptasinya yang tinggi menjadikan sapi ini semakin diminati, sehingga pada tahun 2014 pemerintah secara resmi mengakui Sapi Pasundan sebagai SDG ternak asli Jawa Barat.
Menurut Bidang Produksi dan Peternakan DKPP Jabar, populasi Sapi Pasundan saat ini sebanyak 13.500 ekor yang tersebar di 27 Kabupaten dan Kota di Jawa Barat.
Dengan populasi yang semakin meningkat, sapi ini diharapkan dapat terus menjadi aset berharga dalam sektor peternakan Indonesia khususnya di wilayah Jawa Barat.
Keunggulan Sapi Pasundan terletak pada kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tropis yang panas dan lembab, sehingga tidak memerlukan perawatan khusus seperti sapi impor.
Selain itu, sapi ini mampu bertahan dengan pakan alami yang tersedia di daerah setempat, seperti rumput lapangan dan limbah pertanian, menjadikannya lebih ekonomis dalam hal biaya pemeliharaan.
Daya tahan tubuhnya yang tinggi terhadap penyakit tropis membuat sapi ini lebih sehat dan tidak memerlukan banyak obat-obatan. Selain faktor ketahanan pangan dan efisiensi pakan, sapi pasundan juga memiliki kemampuan reproduksi dan presentase daging yang lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa jenis sapi lokal lainnya.
Struktur tubuhnya yang lebih berotot dengan rasio daging terhadap tulang yang lebih besar membuat presentase karkas sapi ini dapat mencapai lebih dari 50% dari bobot hidupnya yaitu sekitar 300-350 kg untuk Sapi Pasundan dewasa.
Hal ini berarti lebih banyak daging yang bisa dihasilkan dibandingkan dengan sapi lokal lain yang cenderung memiliki lemak atau tulang.
Distribusi daging pada Sapi Pasundan juga lebih merata, menjadikannya pilihan yang menguntungkan bagi peternak dan pelaku industri daging, karena dapat meningkatkan efisiensi produksi dengan hasil daging yang lebih banyak per ekor sapi.
Menariknya, Sapi Pasundan memiliki beberapa fakta unik yang membuatnya semakin istimewa. Secara fisik, sapi ini memiliki tubuh yang ramping dengan warna coklat kemerahan serta garis punggung hitam yang khas, mirip dengan Sapi Bali.
Meski kini populasinya terus meningkat, Sapi Pasundan sempat mengalami penurunan jumlah yang cukup drastis akibat persilangan dengan sapi lain dan kurangnya perhatian terhadap pelestariannya.
Keunggulannya yang multifungsi menjadikannya tak hanya sebagai sapi pedaging, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sapi pekerja dalam sektor pertanian tradisional.
Dengan berbagai keunggulannya, Sapi Pasundan merupakan sumber daya genetik yang berharga bagi Jawa Barat. Keberadaannya tidak hanya mendukung perekonomian peternak, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sunda dalam menjaga dan memanfaatkan sumber daya alamnya.
Lebih dari itu, Sapi Pasundan memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional, terutama dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat.
Dengan produksi daging yang lebih tinggi dan kemampuannya beradaptasi dengan pakan lokal, sapi ini menjadi solusi berkelanjutan dalam menghadapi tantangan pangan di masa yang akan datang.
Oleh karena itu, upaya pelestarian dan pengembangannya harus terus dilakukan agar sapi ini tetap menjadi kebanggaan daerah serta berkontribusi dalam menjaga stabilitas pangan nasional.









