Update jumlah penduduk miskin menurut kabupaten/kota di Jawa Barat, Bogor terbanyak

- Redaksi

Senin, 16 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi warga miskin - sukabumiheadline.com

Ilustrasi warga miskin - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Penduduk miskin adalah kelompok masyarakat yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan (GK), baik untuk kebutuhan makanan maupun non-makanan.

Orang miskin/keluarga miskin.
Kelompok rentan miskin, atau mereka yang berisiko jatuh miskin, adalah individu atau keluarga yang tidak mampu memenuhi standar hidup minimum, mencakup sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan secara layak. Demikian dikutip sukabumiheadline.com dari E-Journal Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Senin (16/3/2026).

Jumlah penduduk miskin di Jawa Barat

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Survei Sosial Ekonomi Nasional 2025, jumlah penduduk miskin di Jawa Barat Jawa Barat pada 2024 sebanyak 3.848,670 jiwa, dan 3.654,75 jiwa (2025).

Kabupaten Bogor menjadi daerah terbanyak jumlah penduduk miskin di Tatar Pasundan, yakni 400 ribu jiwa lebih. Sementara, Kabupaten Sukabumi 160 ribu jiwa lebih, dan Kota Sukabumi sebanyak lebih dari 23 ribu jiwa.

Penduduk miskin kabupaten

Ilustrasi penduduk miskin - Magnolia Tribune
Ilustrasi penduduk miskin – Magnolia Tribune

Pada kelompok kabupaten, Sukabumi menempati posisi ke-11, meskipun semua daerah mengalami penurunan jumlah penduduk miskin. Berikut rinciannya:

  1. Bogor: 446,79 ribu jiwa (2024), 401,86 ribu jiwa (2025)
  2. Garut: 259,32 ribu jiwa (2024), 252,56 ribu jiwa (2025)
  3. Bandung: 239,87 ribu jiwa (2024), 236,06 ribu jiwa (2025)
  4. Cianjur: 239,30 ribu jiwa (2024), 232,61 ribu jiwa (225)
  5. Cirebon: 245,92 ribu jiwa (2024), 229,64 ribu jiwa (2025)
  6. Indramayu: 212,14 ribu jiwa (2024), 196,78 ribu jiwa (2025)
  7. Bekasi: 204,54 ribu jiwa (2024), 191,00 ribu jiwa (2025)
  8. Tasikmalaya: 186,75 ribu jiwa (2024), 185,99 ribu jiwa (2025)
  9. Bandung Barat: 179,70 ribu jiwa (2024), 169,66 ribu jiwa (2025)
  10. Karawang: 187,77 ribu jiwa (2024), 169,80 ribu jiwa (2025)
  11. Sukabumi: 175,93 ribu jiwa (2024), 164,63 ribu jiwa (2025)
  12. Subang: 152,56 ribu jiwa (2024), 148,99 ribu jiwa (2025)
  13. Majalengka: 134,58 ribu jiwa (2024), 128,67 ribu jiwa (2025)
  14. Kuningan: 131,83 ribu jiwa (2024), 119,67 ribu jiwa (2025)
  15. Sumedang: 108,89 ribu jiwa (2024), 105,82 ribu jiwa (2025)
  16. Ciamis: 90,79 ribu jiwa (2024), 88,72 ribu jiwa (2025)
  17. Purwakarta: 81,44 ribu jiwa (2024), 76,51 ribu jiwa (2025)
  18. Pangandaran: 35,95 ribu jiwa (2024), 33,09 ribu jiwa (2025)

Penduduk miskin kota

Ilustrasi warga miskin - sukabumiheadline.com
Ilustrasi warga miskin – sukabumiheadline.com/AI

Seperti halnya kabupaten, penduduk miskin di 9 kota di Jawa Barat juga mengalami penurunan pada 2025, dibandingkan 2024. Sementara, Kota Sukabumi menempati posisi ke-8 pada kelompok kota, berikut rinciannya:

  1. Bekasi: 128,84 ribu jiwa (2024), 129,54 ribu jiwa (2025)
  2. Bandung: 101,10 ribu jiwa (2024), 99,12 ribu jiwa (2025)
  3. Tasikmalaya: 76,71 ribu jiwa (2024), 75,22 ribu jiwa (2025)
  4. Bogor: 73,93 ribu jiwa (2024), 67,16 ribu jiwa (2025)
  5. Depok: 62,60 ribu jiwa (2024), 63,45 ribu jiwa (2025)
  6. Cimahi: 27,00 ribu jiwa (2024), 25,97 ribu jiwa (2025)
  7. Cirebon: 29,17 ribu jiwa (2024), 28,12 ribu jiwa (2025)
  8. Sukabumi: 24,10 ribu jiwa (2024), 23,17 ribu jiwa (2025)
  9. Banjar: 11,16 ribu jiwa (2024), 10,97 ribu jiwa (2025)

Definisi dan konsep kemiskinan

Definisi kemiskinan, menurut BPS, menggunakan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach), di mana garis kemiskinan terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).

Adapun Kemiskinan Absolut, adalah kondisi ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok minimum (misalnya, di bawah per hari). Sedangkan, Kemiskinan Relatif, adalah kondisi di mana seseorang tertinggal jauh di bawah standar hidup masyarakat sekitarnya.

Kekinian, kemiskinan juga lazim disebut dengan:

  • Keluarga Prasejahtera, yakni tidak mampu membeli kebutuhan pangan harian yang layak. Masyarakat prasejahtera, adalah fakir dalam konteks zakat, kondisi miskin lebih baik daripada fakir.
  • Rumah Tangga dengan Akses Terbatas, yakni tidak memiliki akses ke listrik, air bersih, atau pendidikan.
  • Pekerja Sektor Informal Berpenghasilan Rendah, di mana pendapatan tidak menentu dan di bawah garis kemiskinan daerah.

Faktor Penyebab: Kemiskinan sering timbul akibat ketidakmampuan ekonomi, faktor struktural (sistem tidak adil), atau kultural (pola pikir/budaya yang tidak berkembang).

Berita Terkait

Daftar pejabat kapolri, pertama era kolonial hingga Suyudi Ario Seto
Hari Perumahan Nasional: Potret buram rumah layak huni Kota Sukabumi di bawah 40%
UU Pengaturan Reforma Agraria disahkan, SPI Sukabumi: Kado Hari Tani, jangan militeristik
7 kronologi pelecehan seksual PNS Dishub Kabupaten Sukabumi terhadap 3 siswi PKL
7 penampakan Jembatan Cipamatutan Sukabumi: Lapuk, kumuh dan rawan ambruk
Yongjin dan Yakjin masuk, ini daftar pabrik garmen tertua di Sukabumi
Intip kapasitas, profil dan pemilik saham Star Energy Geothermal Salak Sukabumi
Membanding panjang garis pantai Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia, dan dunia

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Daftar pejabat kapolri, pertama era kolonial hingga Suyudi Ario Seto

Senin, 28 September 2026 - 12:00 WIB

Hari Perumahan Nasional: Potret buram rumah layak huni Kota Sukabumi di bawah 40%

Rabu, 23 September 2026 - 17:23 WIB

UU Pengaturan Reforma Agraria disahkan, SPI Sukabumi: Kado Hari Tani, jangan militeristik

Rabu, 23 September 2026 - 16:39 WIB

7 kronologi pelecehan seksual PNS Dishub Kabupaten Sukabumi terhadap 3 siswi PKL

Senin, 21 September 2026 - 01:30 WIB

7 penampakan Jembatan Cipamatutan Sukabumi: Lapuk, kumuh dan rawan ambruk

Berita Terbaru

Ilustrasi musim kemarau ekstrem - sukabumiheadline.com

Sains

Masa peralihan dan puncak musim hujan di Sukabumi

Sabtu, 3 Okt 2026 - 17:52 WIB