sukabumiheadline.com – Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Termasuk berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri.
Salah satu tanaman yang memiliki potensi ekonomi tinggi di Indonesia yaitu tanaman sereh wangi (Cymbopogon Nardus). Selain itu, minyak ini juga bisa dihasilkan dari kulit jeruk lemon, hingga tanaman yang lazim dikenal sebagai laja gowah oleh warga Sukabumi.

Untuk minyak atsiri dari jeruk lemon, belum lama ini dikembangkan oleh Tega Minyak Atsiri dan pelajar SMKN 1 Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Hasil inovasi ini mereka kemas dan dilabeli MAKUJEON (Atsiri Lemon).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Minyak atsiri ini diklaim sebagai aromaterapi hasil penyulingan kulit
jeruk lemon dengan aroma lemon yang khas dan menyegarkan.
Selain itu, minyak atsiri juga dikembangkan Cibadak Integrated Farm (CIF), salah satu program konversi lahan eks tambang batu kapur menjadi salah satunya kebun sereh wangi atau citronella di Cibadak.
Program ini dinisiasi PT Solusi Bangun Indonesia (Semen Indonesia Group) yg diharapkan dapat memberdayakan masyarakat sekitar lahan eks tambang melalui hilirisasi minyak sereh wangi atau citronella oil menjadi produk sederhana seperti minyak gosok maupun sabun batang.
Pembuatan produk turunan citronella oil
tentunya tidak hanya dibutuhkan minyak ini saja yang memang sudah diproduksi mandiri oleh kelompok tani (Poktan) dalam lingkup CIF, tetapi juga jenis essential oil lainnya yang tentunya diperoleh dari Pavettia Essential Oil.

Sedangkan di wilayah selatan Sukabumi, petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Jampang Manggung dari Kampung Cikontrang, Desa Purabaya, Kecamatan Purabaya, berhasil memproduksi minyak atsiri hingga 50 kg berbahan baku tanaman sejenis lengkuas atau yang dikenal sebagai laja gowah.
Menurut Ketua Poktan Jampang Manggung, Andri Keling (40), laja gowah ini tumbuh dengan sendirinya di lahan Perhutani, maupun di leweng-leweng (hutan).
Proses pengolahan dilakukan melalui penyulingan dengan menggunakan alat berkapasitas 30 kilogram. Untuk bahan baku laja gowah ini sendiri diperoleh dari warga yang mengambilnya di hutan dengan harga Rp1.500 per kilogram.
Dari hasil pengolahan, Andri menjualnya ke pabrik yang ada di Jakarta sesuai dengan pesanan pembelian (PO) per bulan, yakni sekira 50 kilogram.
“Harga bervariasi tergantung kualitas, sekira Rp800 ribu hingga Rp1,2 juta per kilogram. Setiap penjualan dilakukan pengecekan kualitas melalui lab,” jelasnya.
Andri juga menambahkan bahwa mereka memiliki potensi untuk memproduksi lebih banyak, tetapi kendalanya terletak pada peralatan yang mereka gunakan. Oleh karena itu, mereka menggunakan alat penyulingan berukuran kecil.
“Prosesnya memakan waktu yang cukup lama, mulai dari kupas, hammer mill, pengeringan selama 12 hari hingga kadar air mencapai 25 persen, lalu penyulingan selama 20 jam hingga habis minyak yang terkandung dalam bahan baku,” kata Andri.
“Sebenarnya ini memiliki potensi besar, jika ada kapasitas penyulingan yang lebih besar dan investasi dari pihak mana pun, untuk pengembangan produksi minyak laja gowah,” tandasnya.
Proses pembuatan minyak atsiri

Minyak atsiri, termasuk yang berbahan dasar serai wangi tidak hanya digunakan sebagai bahan pengobatan tetapi juga bisa sebagai pengharum ruangan pengusir nyamuk karena mengandung komponen utama citronellal, citronellol, dan geranio.
Untuk memperoleh minyak atsiri dari sereh wengi dilakukan proses penyulingan (distilasi). Proses ini memanfaatkan uap air atau panas untuk memisahkan minyak dari jaringan tanaman tanpa merusak kandungan kimia yang ada didalamnya.
Mengutip dari hasil kajian Audry Lyani Patriosa dan Lathifah Azzahri dari Universitas Jambi, penyulingan merupakan salah satu metode yang sangat sederhana untuk mmemperoleh minyak dengan kualitas yang bagus.
Dengan demikian, kata Audry dan Lathifah, meningkatnya permintaan terhadap minyak atsiri alami, maka pemahaman mengenai Teknik penyulingan yang tepat menjadi penting.
“Selain sebagai peluang usaha, kegiatan ini juga dapat mendukung pengembangan produk berbasis sumber daya alam local yang ramah lingkungan,” jelasnya.
Langkah awal adalah pemilihan bahan baku sereh wangi yang baik, umumnya daun dan batang muda yang segar, karena kandungan minyak atsiri tertinggi terdapat pada bagian aktif tanaman.
“Misalnya pada kajian disebut bahwa tanaman yang dipanen pada umur tertentu memberikan hasil optimal,” katanya.
“Setelah panen, biasanya daun sereh wangi dikering-anginkan dahulu beberapa waktu di tempat teduh untuk mengurangi kadar air yang terlalu tinggi. Hal itu agar proses penyulingan menjadi lebih efisien dan tidak terlalu banyak energi untuk menguapkan air,” paparnya.
Pemotongan dan penimbangan
Selanjutnya bahan dipotong-potong (misalnya ukuran 5–10 cm) agar luas permukaannya meningkat dan uap dapat menjangkau jaringan tanaman lebih efektif.
Potong-potong bahan baku menjadi ukuran lebih kecil, lalu ditimbang untuk mengetahui perbandingan berat bahan dengan hasil minyak (rendemen). Hal ini penting sebagai evaluasi proses dan efisiensi.
“Faktor ukuran bahan dan kondisi bahan baku memengaruhi hasil,” katanya.
Proses penyulingan air dan uap
Selanjutnya, proses penyulingan air dan uap dapat dikatakan seperti proses pengukusan. Pada proses ini, bahan baku diletakkan pada piringan besi berlubang seperti ayakan yang terletak beberapa centi di atas permukaan air.
“Pada prinsipnya, metode ini menggunakan uap bertekanan rendah, dibandingkan dengan cara water distillation perbedaannya terletak pada pemisahan bahan dan air. Namun, penempatan keduanya masih dalam satu ketel. Air dimasukkan kedalam ketel hingga 1/3 bagian,” ungkap Audry dan Lathifah.
Lalu, bahan dimasukkan ke dalam ketel sampai padat dan tutup rapat. Saat direbus dan air mendidih, uap yang terbentuk akan melalui sarangan lewat lubang-lubang kecil dan melewati celah-celah bahan.
“Pada proses ini, minyak atsiri yang terdapat pada bahan ikut bersama uap panas melalui pipa menuju ketel kondensator. Kemudian, uap air dan minyak akan mengembun dan ditampung dalam tangki pemisah. Pemisahan terjadi berdasarkan berat jenis,” urainya.
“Keuntungan dari metode ini adalah uap yang masuk terjadi secara merata kedalam jaringan bahan dan suhu dapat dipertahankan sampai 100 derajat Celcius,” lanjut mereka.
Kandungan kimia dan faktor mutu
Minyak atsiri dari sereh wangi umumnya mengandung senyawa utama seperti sitronelal (~35-45 %), geraniol (~20-25 %) dan sitronelol (~10-15 %).
Senyawa-inilah yang memberikan aroma khas segar dan manfaat fungsional. Mutu minyak dinilai dari warna (biasanya kuning pucat), kejernihan, aroma, densitas dan indeks bias.
“Faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen dan mutu antara lain: kondisi tanaman (umur, lokasi tumbuh, iklim), perlakuan pascapanen, ukuran potongan bahan baku dan kondisi penyulingan (suhu, waktu, metode),” ungkapnya.
Manfaat minyak atsiri
Minyak hasil penyulingan sereh wangi secara tradisional banyak digunakan sebagai minyak herbal untuk berbagai keperluan. Minyak ini dikenal memiliki aroma khas yang kuat dan mengandung senyawa seperti citronellal, citronellol, dan geraniol yang memberi efek antiseptik, antijamur, serta sifat menenangkan.
Dalam pemakaian tradisional, minyak sereh wangi digunakan untuk membantu meredakan nyeri otot dan pegal, meringankan sakit kepala melalui aromaterapi, serta membantu melegakan pernapasan ringan ketika dihirup.
“Selain itu, minyak ini kerap dipakai sebagai pengusir serangga alami, membantu mengurangi gatal akibat gigitan nyamuk, serta digunakan dalam pijat untuk relaksasi dan mengurangi stres,” ungkap Audry dan Lathifah.
“Meskipun memiliki banyak manfaat tradisional, namun minyak sereh wangi bukanlah obat medis dan tetap harus digunakan dengan hati-hati, terutama bagi kulit sensitif,” pungkasnya.









