Mengenal sentra dan proses produksi minyak atsiri dari sereh wangi di Sukabumi

- Redaksi

Sabtu, 27 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi praktik penyulingan minyak herbal di laboratorium - sukabumiheadline.com

Ilustrasi praktik penyulingan minyak herbal di laboratorium - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Termasuk berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri.

Salah satu tanaman yang memiliki potensi ekonomi tinggi di Indonesia yaitu tanaman sereh wangi (Cymbopogon Nardus). Selain itu, minyak ini juga bisa dihasilkan dari kulit jeruk lemon, hingga tanaman yang lazim dikenal sebagai laja gowah oleh warga Sukabumi.

Marku Jeon, salah satu pruduk minyak atsiri hasil olahan pelajar SMKN 1 Cibadak - SMKN 1 Cibadak
Maku Jeon, salah satu pruduk minyak atsiri hasil olahan pelajar SMKN 1 Cibadak – SMKN 1 Cibadak

Untuk minyak atsiri dari jeruk lemon, belum lama ini dikembangkan oleh Tega Minyak Atsiri dan pelajar SMKN 1 Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Hasil inovasi ini mereka kemas dan dilabeli MAKUJEON (Atsiri Lemon).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Minyak atsiri ini diklaim sebagai aromaterapi hasil penyulingan kulit
jeruk lemon dengan aroma lemon yang khas dan menyegarkan.

Selain itu, minyak atsiri juga dikembangkan Cibadak Integrated Farm (CIF), salah satu program konversi lahan eks tambang batu kapur menjadi salah satunya kebun sereh wangi atau citronella di Cibadak.

Program ini dinisiasi PT Solusi Bangun Indonesia (Semen Indonesia Group) yg diharapkan dapat memberdayakan masyarakat sekitar lahan eks tambang melalui hilirisasi minyak sereh wangi atau citronella oil menjadi produk sederhana seperti minyak gosok maupun sabun batang.

Pembuatan produk turunan citronella oil
tentunya tidak hanya dibutuhkan minyak ini saja yang memang sudah diproduksi mandiri oleh kelompok tani (Poktan) dalam lingkup CIF, tetapi juga jenis essential oil lainnya yang tentunya diperoleh dari Pavettia Essential Oil.

Poktan Jampang Manggung dari Kampung Cikontrang, Desa Purabaya, Kecamatan Purabaya, berhasil memproduksi minyak atsiri - Pemkab Sukabumi
Poktan Jampang Manggung dari Kampung Cikontrang, Desa Purabaya, Kecamatan Purabaya, berhasil memproduksi minyak atsiri – Pemkab Sukabumi

Sedangkan di wilayah selatan Sukabumi, petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Jampang Manggung dari Kampung Cikontrang, Desa Purabaya, Kecamatan Purabaya, berhasil memproduksi minyak atsiri hingga 50 kg berbahan baku tanaman sejenis lengkuas atau yang dikenal sebagai laja gowah.

Menurut Ketua Poktan Jampang Manggung, Andri Keling (40), laja gowah ini tumbuh dengan sendirinya di lahan Perhutani, maupun di leweng-leweng (hutan).

Proses pengolahan dilakukan melalui penyulingan dengan menggunakan alat berkapasitas 30 kilogram. Untuk bahan baku laja gowah ini sendiri diperoleh dari warga yang mengambilnya di hutan dengan harga Rp1.500 per kilogram.

Dari hasil pengolahan, Andri menjualnya ke pabrik yang ada di Jakarta sesuai dengan pesanan pembelian (PO) per bulan, yakni sekira 50 kilogram.

“Harga bervariasi tergantung kualitas, sekira Rp800 ribu hingga Rp1,2 juta per kilogram. Setiap penjualan dilakukan pengecekan kualitas melalui lab,” jelasnya.

Andri juga menambahkan bahwa mereka memiliki potensi untuk memproduksi lebih banyak, tetapi kendalanya terletak pada peralatan yang mereka gunakan. Oleh karena itu, mereka menggunakan alat penyulingan berukuran kecil.

“Prosesnya memakan waktu yang cukup lama, mulai dari kupas, hammer mill, pengeringan selama 12 hari hingga kadar air mencapai 25 persen, lalu penyulingan selama 20 jam hingga habis minyak yang terkandung dalam bahan baku,” kata Andri.

“Sebenarnya ini memiliki potensi besar, jika ada kapasitas penyulingan yang lebih besar dan investasi dari pihak mana pun, untuk pengembangan produksi minyak laja gowah,” tandasnya.

Proses pembuatan minyak atsiri 

Minyak atsiri - Ist
Minyak atsiri serai wangi – Ist

Minyak atsiri, termasuk yang berbahan dasar serai wangi tidak hanya digunakan sebagai bahan pengobatan tetapi juga bisa sebagai pengharum ruangan pengusir nyamuk karena mengandung komponen utama citronellal, citronellol, dan geranio.

Untuk memperoleh minyak atsiri dari sereh wengi dilakukan proses penyulingan (distilasi). Proses ini memanfaatkan uap air atau panas untuk memisahkan minyak dari jaringan tanaman tanpa merusak kandungan kimia yang ada didalamnya.

Mengutip dari hasil kajian Audry Lyani Patriosa dan Lathifah Azzahri dari Universitas Jambi, penyulingan merupakan salah satu metode yang sangat sederhana untuk mmemperoleh minyak dengan kualitas yang bagus.

Dengan demikian, kata Audry dan Lathifah, meningkatnya permintaan terhadap minyak atsiri alami, maka pemahaman mengenai Teknik penyulingan yang tepat menjadi penting.

“Selain sebagai peluang usaha, kegiatan ini juga dapat mendukung pengembangan produk berbasis sumber daya alam local yang ramah lingkungan,” jelasnya.

Langkah awal adalah pemilihan bahan baku sereh wangi yang baik, umumnya daun dan batang muda yang segar, karena kandungan minyak atsiri tertinggi terdapat pada bagian aktif tanaman.

“Misalnya pada kajian disebut bahwa tanaman yang dipanen pada umur tertentu memberikan hasil optimal,” katanya.

“Setelah panen, biasanya daun sereh wangi dikering-anginkan dahulu beberapa waktu di tempat teduh untuk mengurangi kadar air yang terlalu tinggi. Hal itu agar proses penyulingan menjadi lebih efisien dan tidak terlalu banyak energi untuk menguapkan air,” paparnya.

Pemotongan dan penimbangan

Selanjutnya bahan dipotong-potong (misalnya ukuran 5–10 cm) agar luas permukaannya meningkat dan uap dapat menjangkau jaringan tanaman lebih efektif.

Potong-potong bahan baku menjadi ukuran lebih kecil, lalu ditimbang untuk mengetahui perbandingan berat bahan dengan hasil minyak (rendemen). Hal ini penting sebagai evaluasi proses dan efisiensi.

“Faktor ukuran bahan dan kondisi bahan baku memengaruhi hasil,” katanya.

Proses penyulingan air dan uap

Selanjutnya, proses penyulingan air dan uap dapat dikatakan seperti proses pengukusan. Pada proses ini, bahan baku diletakkan pada piringan besi berlubang seperti ayakan yang terletak beberapa centi di atas permukaan air.

“Pada prinsipnya, metode ini menggunakan uap bertekanan rendah, dibandingkan dengan cara water distillation perbedaannya terletak pada pemisahan bahan dan air. Namun, penempatan keduanya masih dalam satu ketel. Air dimasukkan kedalam ketel hingga 1/3 bagian,” ungkap Audry dan Lathifah.

Lalu, bahan dimasukkan ke dalam ketel sampai padat dan tutup rapat. Saat direbus dan air mendidih, uap yang terbentuk akan melalui sarangan lewat lubang-lubang kecil dan melewati celah-celah bahan.

“Pada proses ini, minyak atsiri yang terdapat pada bahan ikut bersama uap panas melalui pipa menuju ketel kondensator. Kemudian, uap air dan minyak akan mengembun dan ditampung dalam tangki pemisah. Pemisahan terjadi berdasarkan berat jenis,” urainya.

“Keuntungan dari metode ini adalah uap yang masuk terjadi secara merata kedalam jaringan bahan dan suhu dapat dipertahankan sampai 100 derajat Celcius,” lanjut mereka.

Kandungan kimia dan faktor mutu

Minyak atsiri dari sereh wangi umumnya mengandung senyawa utama seperti sitronelal (~35-45 %), geraniol (~20-25 %) dan sitronelol (~10-15 %).

Senyawa-inilah yang memberikan aroma khas segar dan manfaat fungsional. Mutu minyak dinilai dari warna (biasanya kuning pucat), kejernihan, aroma, densitas dan indeks bias.

“Faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen dan mutu antara lain: kondisi tanaman (umur, lokasi tumbuh, iklim), perlakuan pascapanen, ukuran potongan bahan baku dan kondisi penyulingan (suhu, waktu, metode),” ungkapnya.

Manfaat minyak atsiri

Minyak hasil penyulingan sereh wangi secara tradisional banyak digunakan sebagai minyak herbal untuk berbagai keperluan. Minyak ini dikenal memiliki aroma khas yang kuat dan mengandung senyawa seperti citronellal, citronellol, dan geraniol yang memberi efek antiseptik, antijamur, serta sifat menenangkan.

Dalam pemakaian tradisional, minyak sereh wangi digunakan untuk membantu meredakan nyeri otot dan pegal, meringankan sakit kepala melalui aromaterapi, serta membantu melegakan pernapasan ringan ketika dihirup.

“Selain itu, minyak ini kerap dipakai sebagai pengusir serangga alami, membantu mengurangi gatal akibat gigitan nyamuk, serta digunakan dalam pijat untuk relaksasi dan mengurangi stres,” ungkap Audry dan Lathifah.

“Meskipun memiliki banyak manfaat tradisional, namun minyak sereh wangi bukanlah obat medis dan tetap harus digunakan dengan hati-hati, terutama bagi kulit sensitif,” pungkasnya.

Berita Terkait

Sorgum: Tanaman kaya gizi pengganti beras, dikembangkan di Sukabumi untuk co-firing
Menghitung luas panen 4 kecamatan penghasil bunga Krisan di Sukabumi, diekspor ke Jepang
Mengenal 27 produk kerajinan khas Jawa Barat, ada Batik Lokatmala Sukabumi
Ini 40 kecamatan penghasil jambu biji di Sukabumi, Indonesia juara dunia
Membanding produksi nanas Indonesia, Jawa Barat, Sukabumi dan kecamatan penghasil
Warga Jawa Barat, BBB 2026 mulai digelar, pasar kreatif penggerak UMKM
Menghitung produksi susu sapi dan kambing di Sukabumi serta kandungan gizinya
Tren penurunan kredit UMKM Sukabumi di bank umum 3 tahun terakhir

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 04:03 WIB

Mengenal sentra dan proses produksi minyak atsiri dari sereh wangi di Sukabumi

Kamis, 25 Juni 2026 - 02:28 WIB

Sorgum: Tanaman kaya gizi pengganti beras, dikembangkan di Sukabumi untuk co-firing

Senin, 22 Juni 2026 - 07:20 WIB

Menghitung luas panen 4 kecamatan penghasil bunga Krisan di Sukabumi, diekspor ke Jepang

Jumat, 19 Juni 2026 - 07:26 WIB

Mengenal 27 produk kerajinan khas Jawa Barat, ada Batik Lokatmala Sukabumi

Minggu, 14 Juni 2026 - 21:20 WIB

Ini 40 kecamatan penghasil jambu biji di Sukabumi, Indonesia juara dunia

Berita Terbaru

Regulasi

Simak rinciannya, Purbaya: Anggaran MBG bakal dipangkas lagi

Jumat, 26 Jun 2026 - 21:20 WIB