sukabumiheadline.com – Pada 12 tahun lalu, pesawat jenis Sukhoi Superjet 100 yang diproduksi Rusia mengalami kecelakaan dan jatuh di Gunung Salak, di perbatasan Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi dan Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tepatnya pada 9 Mei 2012.
Total sebanyak 45 orang tewas, terdiri dari penumpang dan seluruh awak pesawat tersebut. Peristiwa pada Mei kelabu itu terjadi ketika produsen pesawat asal negara Vladimir Putin itu melakukan penerbangan dengan tujuan demonstrasi kepada calon pembeli atau Joy Flight.
Baca Juga:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Mengenal 5 Makam Keramat yang Berada di Gunung Salak Sukabumi-Bogor
- Pernah Meletus, 5 Fakta Gempa Tektonik di Gunung Salak Meningkat, 74 Rumah di Sukabumi Rusak
- Berharap panas geothermal Gunung Salak di lumbung kemiskinan Sukabumi
Mengutip dari laman Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), 23 Mei 2024, kecelakaan disebabkan oleh kelalaian pilot saat menerbangkan pesawat dengan nomor penerbangan RA 36801 itu.
Menurut sumber yang sama, saat melakukan penerbangan, pesawat tersebut dalam kondisi baik tanpa adanya gangguan pada sistem.

Sukhoi Superjet 100 lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma
Pesawat Sukhoi Superjet 100 nahas tersebut dioperasikan Sukhoi Civil Aircraft Company melakukan penerbangan promosi dari Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Penerbangan tersebut direncanakan menggunakan instrument flight rules (IFR) atau aturan terbang secara instrumen pada ketinggian 10.000 kaki.
Penerbangan yang direncakan selama 30 menit tersebut mendapat izin penerbangan di area Bogor, berada di selatan Jakarta. Aleksandr Yablontsev yang saat itu menjadi pilot atau Pilot in Command (PIC), berasumsi bahwa penerbangan itu telah disetujui untuk terbang ke arah radial 200 HLM VOR sejauh 20 Nm.
Baca Juga:
- Dua Makam Keramat di Gunung Salak yang Diyakini sebagai Wali Allah
- Mengungkap Misteri Harta Karun Belanda di Gunung Salak Sukabumi-Bogor, Begini Ceritanya
- Misteri Gunung Salak di Sukabumi-Bogor, Legenda Salakanagara dan Prabu Siliwangi Berubah Jadi Macan

Pada pukul 14.20 WIB, pesawat lepas landas dari runway 06, kemudian berbelok ke kanan hingga mengikuti radial 200 HLM VOR, naik terus hingga ketinggian 10.000 kaki.
Sekira empat menit usai lepas landas, pilot melakukan komunikasi dengan Jakarta Approach dan menginformasikan pesawat telah berada di radial 200 HLM VOR dengan ketinggian 10.000 kaki. Selanjutnya, sekira dua menit kemudian atau tepatnya pada 14.28 WIB pilot kembali berkomunikasi dan meminta izin untuk turun ke ketinggian 6.000 kaki.

Pilot juga meminta izin untuk membuat orbit atau lintasan melingkar ke kanan. Jakarta Approach pun mengizinkannya. Tujuannya, supaya pesawat tak terlalu tinggi untuk proses pendaratan di Bandara Halim menggunakan runway 06.
Baca Juga:
Kenalin Si Moli, Anjing Putih Pemandu para Pendaki di Gunung Salak Sukabumi-Bogor
Kenali Nama 12 Puncaknya, 5 Fakta Gunung Salak di Sukabumi – Bogor Disebut Keramat
Dua Kali Meletus dan Berulangkali Erupsi, Mengenal Gunung Salak dari Catatan Sejarah
Detik-detik menabrak tebing Gunung Salak
Berdasarkan waktu yang tercatat di Flight Data Recorder (FDR) pada pukul 14.32 lewat 26 detik WIB, pesawat menabrak tebing Gunung Salak pada radial 198 dan 28 NM HLM VOR dengan ketinggian 6.000 kaki di atas permukaan laut.
38 detik sebelum benturan, Terrain Awareness Warning System (TAWS) memberikan peringatan berupa suara yang berbunyi “Terrain ahead, pull up” dan diikuti enam kali peringatan “Avoid terrain”.
Namun, sang pilot justru menghiraukan dan mematikan TAWS tersebut karena berasumsi bahwa peringatan itu diakibatkan oleh database yang bermasalah.
Tujuh detik menjelang pesawat menabrak tebing, terdengar peringatan berupa suara “Landing gear not down” dari sistem peringatan pesawat.
Peringatan tersebut akan aktif jika pesawat berada di ketinggian kurang dari 800 kaki di atas pemukaan tanah dan roda pendaratan belum diturunkan. Saat tabrakan itu, pesawat diketahui sedang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter dari permukaan laut atau sekitar 6.500 kaki.
Baca Juga: Mengenal 3 Pasukan Elite Prabu Siliwangi dan Kampung Setan di Gunung Salak Sukabumi
Pada pukul 14.50 WIb, petugas Jakarta Approach menyadari bahwa pesawat tersebut telah hilang dari layar radar. Kemudian petugas mencoba menghubunginya. Tidak ada bunyi peringatan sebelum lenyapnya titk pesawat di layar radar.
Satu hari kemudian, pada 10 Mei 2012, Basarnas berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Semua awak pesawat dan penumpang meninggal dalam kecelakaan tersebut, dengan kondisi pesawat yang hancur karena menabrak tebing.
Spesifikasi Sukhoi Superjet 100

Tanggal 9 Mei menjadi momen yang menyedihkan jika mengingat tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang meledak usai menabrak Gunung Salak, Bogor pada tahun 2012 lalu.
Kala itu, pesawat yang tengah melakukan penerbangan demonstrasi dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta ini membawa 45 orang penumpang yang seluruhnya meninggal dunia.
Melansir dari laman p2k.stekom.ac.id pada Selasa (9/5/2023), Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) merupakan sebuah pesawat komersial yang dikembangan oleh perusahaan aviasi ternama, JSC Sukhoi.
Pesawat ini dibuat pada tahun 2001 untuk menggantikan Topolev TU-134 dan YakovLev Yak-42 yang dibuat oleh Uni Soviet berdasarkan riset pasar yang telah dilakukan sebelumnya.
Pesawat ini dibuat pada tahun 2001 untuk menggantikan Topolev TU-134 dan YakovLev Yak-42 yang dibuat oleh Uni Soviet berdasarkan riset pasar yang telah dilakukan sebelumnya.
SSJ 100 mengudara untuk kali pertama pada tahun 2008 sebelum akhirnya mendapat sertifikasi secara resmi di tahun 2011 dari otoritas penerbangan Rusia dan otoritas penerbangan Uni Eropa di tahun berikutnya.
Sebagaimana ditengok dari kanal Youtube Supaya Tahu, hingga saat ini tercatat sebanyak 223 unit pesawat Sukhoi Superjet 100 telah diproduksi dan dipergunakan oleh berbagai maskapai penerbangan di beberapa negara, seperti Rusia, Amerika, Irlandia, dan Thailand.
Selain Sky Aviation, perusahaan maskapai penerbangan asal Indonesia yang juga pernah memesan Sukhoi Superjet 100 adalah Kartika Airlines. Tak tanggung-tanggung, Kartika Airlines bahkan memesan hingga 30 unit pesawat. Namun pada tahun 2013, pesanan tersebut batal karena faktor finansial.
Secara spesifikasi, Sukhoi Superjet 100 menghadirkan beberapa jenis. Pesawat dengan panjang 26,44 meter-29,94 meter dan lebar bentang sayap 27,80 meter tersebut dapat mengakomodir 87 hingga 98 penumpang. Sedangkan untuk muatan kargo SSJ 100 dapat mengangkut hingga 4 ton muatan.
Adapun pesawat yang dapat terbang hingga di ketinggian 12.500 m di atas permukaan laut ini mempunyai jarak tempuh mencapai 4.578 km dengan kecepatan maksimal 469 knots.
Kendati beberapa kali diberitakan bermasalah, nyatanya pesawat buatan Rusia ini juga mempunyai kelebihan. Sukhoi Superjet 100 mempunyai desain yang elegan dan tampak mewah.
Jarak antar bangkunya pun cukup lapang sehingga penumpang dapat menikmati perjalanan dengan nyaman. Selain itu, suara mesin Sukhoi Superjet 100 juga terbilang tidak terlalu bising.