sukabumiheadline.com – Meskipun memiliki banyak camping ground, namun minat wisatawan asing atau mancanegara (wisman) kemping di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sangat rendah. Bahkan, jumlahnya kurang dari 100 orang.
Menurut data Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, selama 2025, jumlah wisman yang mengunjungi camping ground hanya 69 orang, sementara 6.836 wisatawan asing mengunjungi destinasi lainnya.
Untuk perbandingan, jumlah wisatawan Nusantara (wisnus) sebanyak 35.805 memilih kemping. Sedangkan 3.580.532 wisnus mengunjungi destinasi berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun demikian, fenomena tersebut terjadi di banyak daerah di Indonesia. Sejumlah alasan menyeruak tentang alasan camping ground tidak menjadi destinasi favorit wisman. Bahkan, aktivitas kemping bukan pilihan utama sebagian besar turis mancanegara.
Dikutip sukabumiheadline.com dari Tulisan Ilmiah Pariwisata (TULIP), karya Irma Kharisma Hatibie, Yeristiawati Husain, Diah Wiranti Buhungo, dan berbagai sumber, infrastruktur menuju tempat wisata, harga, dan kebijakan masuk menjadi masalah utama wisatawan.
“Persepsi keadilan (fairness) bagi wisatawan bisa menjadi pemicu konflik sosial mengenai eksklusivitas fasilitas di destinasi wisata yang seharusnya merata pada setiap golongan atau kelompok wisatawan dari manapun,” katanya, dikutip Ahad (26/4/2026).
“Selanjutnya, dapat disimpulkan bahwa pertama, wisatawan menerima biaya tinggi jika layanan sebanding dengan harga yang dibayarkan. Artinya, wisatawan enggan menerima biaya tinggi jika fasilitas buruk,” ungkapnya.

Namun secara umum, berikut adalah beberapa faktor penyebab utama wisman tidak memasukkan kemping ke dalam rencana mereka ketika mengunjungi Indonesia.
Kurangnya Kenyamanan dan Keamanan: Wisatawan asing cenderung mencari tempat yang nyaman dan aman. Infrastruktur tempat perkemahan di banyak wilayah Indonesia belum memadai standar internasional, sehingga mereka lebih memilih hotel atau resor.
Masalah Sampah dan Kebersihan: Banyak wisatawan asing yang merasa tidak nyaman dengan masalah sampah yang berserakan, baik di kota maupun di area tempat wisata alam, yang sering dianggap sebagai masalah kebiasaan.
Faktor Bencana Alam: Berita tentang bencana alam seperti letusan gunung berapi atau asap di beberapa wilayah Indonesia membuat wisatawan asing khawatir, sehingga mereka enggan memilih aktivitas di alam liar.
Peraturan Taman Nasional: Di sebagian besar taman nasional di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, secara resmi tidak diperbolehkan untuk kemping bebas (wild camping) di hutan, meskipun tersedia area perkemahan khusus yang dikelola.
Kurangnya Informasi: Banyak wisatawan asing tidak tahu lokasi kemping yang bagus atau aman di luar Bali atau tempat-tempat populer, sehingga mereka lebih memilih destinasi yang terstruktur dan aman.
Meskipun demikian, beberapa lokasi di Indonesia seperti Gunung Rinjani, Bromo (pada waktu tertentu), atau area khusus di Bali tetap menjadi destinasi populer bagi wisatawan asing yang ingin melakukan trekking dan kemping









