SUKABUMIHEADLINE.com l CISAAT – Terdapat banyak masjid transit di sepanjang jalur utama Sukabumi-Bogor. Keberadaan masjid-masjid tersebut tentunya sangat bermanfaat, tidak saja bagi umat Muslim yang tengah dalam perjalanan, namun sudah memasuki waktu shalat.
Tidak hanya itu, keberadaan masjid-masjid tersebut juga sekaligus menjadi tempat untuk beristirahat setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan. Sehingga tidak heran jika sejumlah masjid transit tidak hanya dilengkap area parkir yang luas, tapi juga tempat jajanan makanan atau minuman ringan hingga berat.
Salah satu masjid transit yang selalu ramai disinggahi untuk ibadah shalat dan kajian keagamaan, adalah Masjid Raya Raudhatul Irfan. Sebuah masjid megah dengan empat menara menjulang tinggi di atasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Masjid ini terletak di pertigaan Jalan Lingkar Selatan (Lingsel), Desa Cibolang Kaler, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi.
Berita Terkait: Tak Terima Acara Maulid Nabi, Masjid dan Madrasah di Tegalbuleud Sukabumi Dirusak
“Masjid Raya Raudhatul Irfan dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat ketika itu, Ahmad Heryawan atau akrab disapa Kang Aher, pada 7 Juli 2014 lalu,” jelas Paikun, Kepala Program Studi Teknik Sipil Universitas Nusa Putra, yang merancang masjid tersebut kepada sukabumiheadline.com, Kamis (2/12/2021).

Paikun menambahkan, Keberadaan masjid ini diharapkan kian memudahkan warga untuk beribadah. Selain Kang Aher, turut hadir saat peresmian Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jabar M Guntoro, Rektor Universitas Nusa Putra Kurniawan, sejumlah pejabat, dan tokoh masyarakat serta ulama Sukabumi.
Masjid Raya Raudhatul Irfan
Masjid Raya Raudhatul Irfan berdiri di lahan seluas 9.000 meter persegi, sementara luasan bangunan masjid mencapai 900 meter persegi. “Masjid ini dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang, seperti taman, sarana parkir yang luas, dan perkantoran,” tambah Paikun.
Interior masjid sangat khas, berwarna hijau putih, dengan ornamen ala Persia menambah keelokannya. Ruang utama shalat terasa luas dengan hamparan karpet yang indah, dengan berbagai ornamen kaligrafi di hampir semua sudut ruangan.
Berita Terkait: Menengok Santri Mahasiswa dan Geliat Ponpes Raudhatul Irfan Sukabumi
Paikun menambahkan, nama Masjid Raya Raudhatul Irfan diambilkan dari Tafsir AlQuran yang monumental dan populer di kalangan umat Islam di Tatar Pasundaan, buah karya ulama besar Sukabumi, K.H. Ahmad Sanusi. Selama hidupnya, K.H. Ahmad Sanusi berkiprah dalam perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia pada era 1920 hingga 1950-an.
Berita Terkait: Kisah Sukses Bos JNE, Bangun 99 Masjid Setelah Memeluk Islam
Nama lengkap tafsir ini adalah Raudlat al-Irfan fii Ma’rifati al-Qur’an dengan karakteristik atau metode yang digunakan adalah Ijmali (global) yang artinya menafsirkan AlQuran dengan cara singkat dan global tanpa urzian panjang lebar.
Bentuknya tergolong pada tafsir bi al-Ra’yi atau tafsir ayat ayatnya didasarkan pada hasil ijtihad mufassir-nya dan menjadikan akal fikiran sebagai fikiran utamanya. Fokus dan aliran tafsir tersebut, bersifat umum tanpa membawa pesan khusus atau netral dengan menjelaskan ayat-ayatnya secara proporsional.
Berita Terkait: Pesan Mulia di Balik Megahnya Masjid Cibadak Daarul Matiin Sukabumi
Langkah-langkah yang dilakukan K.H. Ahmad Sanusi dalam menafsirkan AlQuran, yakni dengan menerjemahkan secara harfiyah ke dalam Basa Sunda, sesuai dengan tertib susunan mushaf Utsmani.
Maksud dijelaskan di sisi kanan dan kiri matan teks AlQuran dengan sederhana, mengemukakan asbabul nuzul, jumlah huruf dan ayatnya, serta tidak mempersoalkan segi bahasa seperti nahwu, sharaf, bikagzh, dan lainnya.
Namun, Raudlat al-Irfan fii Ma’rifati al-Qur’an mengutamakan segi makna, dengan tidak menjelaskan secara detail (juz’iyyat), tapi secara universal.