6 Permasalahan Lingkungan Hidup di Kabupaten Sukabumi

- Redaksi

Kamis, 29 Juli 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir bandang Cibuntu, Cicurug. | Foto: Istimewa

Banjir bandang Cibuntu, Cicurug. | Foto: Istimewa

sukabumiheadline.com l Salah satu permasalahan lingkungan di kabupaten terluas kedua di Pulau Jawa dan Bali setelah Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur, ini adalah tentang lingkungan hidup yang semakin tak terkendali.

Menurut Zakiah Zahara Khumaeroh, seorang mahasiswi jurusan biologi di salah satu perguruan tinggi negeri, persoalan lingkungan hidup di Sukabumi sedikitnya ada 6, yakni gempa bumi, banjir bandang, kebakaran, puting beliung, tanah longsor dan pergerakan tanah.

Gempa bumi merupakan salah satu bencana yang kerap terjadi di Sukabumi, seperti pada 30 April 2020 lalu, berpusat di Perairan Samudra Hindia dengan kedalaman 24 kilometer dan jarak 48 kilometer arah Tenggara Kabupaten Sukabumi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Gempa bumi ini memiliki kekuatan magnitude sebesar 5.0 dengan pusat gempa terletak pada koordinat 7.39 LS – 106.71 BT,“ kata dia.

Begitupun dengan bencana banjir bandang yang juga terbilang sering melanda. Pada 21 September 2020, bencana ini banyak menimbulkan korban. Dari mulai kendaraan pribadi yang terbawa arus banjir, hingga korban jiwa.

Selain itu, infrastruktur juga turut terdampak, seperti tujuh jembatan lingkungan dan dua jembatan kabupaten, serta bendungan yang cukup besar untuk mengairi irigasi untuk pesawahan yang cukup luas juga ikut rusak.

“Bencana alam banjir bandang terakhir terjadi berdampak ke sejumlah desa di Kecamatan Parungkuda, Cidahu dan Cicurug dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia,“ seperti dikutip dari catatatan Zakiah di kompasiana.com.

Kemudian bencana angin puting beliung terakhir terjadi pada Rabu, 21 Juli 2021, sejak sore hari hingga petang, ketika hujan deras disertai angin kencang menyapu wilayah utara Kabupaten Sukabumi.

Pantauan sukabumiheadlinescom, sedikitnya tiga kecamatan terdampak bencana pohon tumbang yang disertai angin kencang. Ketiganya adalah Parungkuda, Cibadak dan Cikidang.

Di Parungkuda, hujan deras disertai angin kencang meluluhlantakkan puluhan rumah di Kampung Babakan, Desa Sundawenang, Rabu sore sekira pukul 15.50 WIB. Ada lebih dari 10 rumah di dua ke-RW-an mengalami kerusakan di bagian atap. Selain itu ada pula rumah yang rusak tertimpa pohon tumbang.

Sementara itu, pada hari yang sama, di wilayah Cibadak, Pusdalops PB BPBD Kabupaten Sukabumi melaporkan adanya bencana puting beliung di Kampung Paris RT 06 RW 07 dan Kampung Anggayuda RW 011 Desa Pamuruyan, Kecamatan Cibadak.

Peristiwa terjadi ketika kedua kampung tersebut diguyur hujan deras disertai angin kencang pada Rabu, 21 Juli 2021, pukul 16:00 WIB. Akibatnya, sebuah pohon berukuran besar tumbang dan dua rumah dilaporkan mengalami kerusakan. Kerugian ditaksir mencapai Rp 20 juta.

Demikian halnya di Kecamatan Cikidang, atap rumah warga beterbangan dihempas angin kencang yang menerjang wilayah tersebut.

Berikutnya, bencana longsor juga termasuk kerap melanda wilayah ini. Longsor terakhir terjadi di Kampung Benda Pojok RT 04/08, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Rabu 21 Juli 2021. Akibatnya, bangunan pos ronda ambruk tergerus longsor, setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras.

Terakhir, bencana pergerakan tanah menyebabkan bangunan hingga lahan pertanian rusak. Bencana pergerakan tanah kerap terjadi di Kecamatan Kalibunder, Nyalindung, Cibadak dan Curugkembar.

Tak hanya permasalahan lingkungan hidup yang disebabkan oleh bencana alam, sebut Zakiah, ada juga permasalahan lingkungan yang disebabkan ulah manusia, seperti pencemaran air dan tanah oleh sampah.

“Banyak permasalahan lingkungan hidup juga disebabkan ulah manusia, seperti pencemaran air dan tanah oleh sampah,“ pungkas dia.

Sekadar informasi, Lingkungan Hidup menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997, merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Berita Terkait

Aset Desa Sukamulya dikuasai swasta, ini janji DPMD Kabupaten Sukabumi ditagih BPD dan warga
Jeblok! Membanding realisasi investasi PMDN/PMA di Sukabumi 2025/2026
5 poin Deklarasi Kawasan Daulat Pangan di Jampang Tengah Sukabumi, integrasi basis perjuangan
Sukabumi masuk Top 10 kota/kabupaten paling rawan untuk ditinggali
Ini 10 kecamatan lumbung padi di Kabupaten Sukabumi, hampir 1 juta ton
WorldoMeters: 10 kecamatan di Sukabumi tidak ideal untuk ditinggali
A-Z PLTU Pelabuhan Ratu Sukabumi: Biaya pembangunan, kapasitas, operator hingga dampak
Jenderal polisi jabat Kepala BRAN, SPI Sukabumi: Pesimistis, alat represif dan tabrak aturan

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:29 WIB

Aset Desa Sukamulya dikuasai swasta, ini janji DPMD Kabupaten Sukabumi ditagih BPD dan warga

Rabu, 21 Oktober 2026 - 02:16 WIB

Jeblok! Membanding realisasi investasi PMDN/PMA di Sukabumi 2025/2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:00 WIB

5 poin Deklarasi Kawasan Daulat Pangan di Jampang Tengah Sukabumi, integrasi basis perjuangan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 03:25 WIB

Sukabumi masuk Top 10 kota/kabupaten paling rawan untuk ditinggali

Senin, 12 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Ini 10 kecamatan lumbung padi di Kabupaten Sukabumi, hampir 1 juta ton

Berita Terbaru

Asisten pelatih Persib Bandung Igor Tolic - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Venue

Besok Garudayaksa FC vs Persib, Igor Tolic putar otak

Sabtu, 24 Okt 2026 - 15:19 WIB