sukabumiheadline.com – Setelah disentil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, jajaran dinas terkait hingga kecamatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi langsung satset melakukan proses verifikasi dan validasi (verval) korban bencana di Kecamatan Simpenan.
Dalam keterangan resminya, Pemkab Sukabumi bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Jawa Barat menggelar pertemuan koordinatif guna mempersiapkan proses verval data masyarakat terdampak bencana di Simpenan. Pertemuan tersebut berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Simpenan, Senin (12/1/2026).
Rapat koordinasi ini dihadiri Kepala DPMD Kabupaten Sukabumi, Ahmad Samsul Bahri, Kalak BPBD Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, Camat Simpenan, Forkopimcam Simpenan, serta perwakilan dari empat desa terdampak, yakni Desa Cibuntu, Sangrawayang, Cidadap, dan Loji. Sementara tiga desa lainnya, yakni Desa Mekarasih, Kertajaya, dan Cihaur, tidak dapat hadir lantaran terisolir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tercatat terdapat tujuh desa yang terdampak bencana banjir bandang, yakni Cibuntu, Sangrawayang, Cidadap, Loji, Mekarasih, Kertajaya, dan Cihaur.
Kepala DPMD Provinsi Jawa Barat Ade Afriandi, mengatakan, Pemprov Jawa Barat telah terlibat langsung dalam penanganan bencana di Kabupaten Sukabumi sejak 2024. Menurutnya, langkah yang diambil saat ini merupakan tindak lanjut dari arahan Dedi Mulyadi untuk bergerak cepat dan strategis.
“Arahan gubernur jelas, penanganan harus dilakukan cepat dan tepat, terutama bagi masyarakat yang rumahnya sudah tidak bisa ditempati,” ujarnya.
Kadis menjelaskan, salah satu kebijakan utama pemprov adalah tidak menempatkan korban bencana di tenda pengungsian. Sebagai gantinya, pemerintah memberikan bantuan biaya kontrak rumah sebesar Rp10 juta per kepala keluarga untuk masa satu tahun.
“Kebijakan ini memberi ruang bagi pemerintah untuk memikirkan penanganan jangka menengah dan panjang, termasuk relokasi,” katanya.
Ia menyebutkan, bantuan biaya kontrak rumah tersebut telah disalurkan kepada 28 kepala keluarga di beberapa desa di kecamatan simpenan. Bantuan tersebut diprioritaskan bagi warga yang rumahnya hanyut atau rusak berat akibat banjir bandang, termasuk di Desa Cidadap dan Desa Loji, yang terdampak banjir bandang pada 15 Desember 2024 lalu.
Ia menekankan, tim verifikasi dan validasi akan bekerja langsung di lapangan untuk memastikan kondisi fisik bangunan dan lingkungan. Proses tersebut, kata dia, harus dilakukan secara terbuka, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Verifikasi ini bukan hanya administratif, tapi sampai ke kondisi bangunan. Data ini menjadi dasar agar anggaran benar-benar kembali kepada masyarakat,” katanya.
Kadis menambahkan, Pemprov Jawa Barat berkomitmen menuntaskan penanganan dampak bencana pada 2026, khususnya bagi kepala keluarga yang rumahnya tidak lagi layak huni.
“Di era sekarang, bukan lagi soal kewenangan, tetapi komunikasi dan kolaborasi. Insya Allah Pemprov Jabar berkomitmen merealisasikan kebutuhan masyarakat pascabencana,” paparnya.
Sementara itu, Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Setda Kabupaten Sukabumi, Boyke Martadinata, menyampaikan bahwa verval dilakukan untuk menindaklanjuti dampak banjir bandang yang hingga kini belum sepenuhnya tertangani, khususnya bencana yang terjadi pada Desember 2024 dan Maret 2025.
Asda mengakui, hingga saat ini pihaknya belum dapat memastikan kapan kondisi cuaca ekstrem akan berakhir. Oleh karena itu, ia meminta seluruh pihak untuk bersama-sama memanfaatkan kewenangan yang dimiliki demi kepentingan masyarakat terdampak.
“Kami berharap kehadiran DPMD Provinsi Jawa Barat dapat menjadi jawaban atas harapan masyarakat. Meski belum tentu seluruh kebutuhan dapat terpenuhi, setidaknya kita telah berikhtiar untuk membantu,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan bencana dipengaruhi oleh banyak faktor, namun hal terpenting adalah memastikan data dari tingkat Desa dan kecamatan dapat tersampaikan dengan baik kepada pemerintah provinsi.
“Saya mengharapkan dukungan dan bantuan dari bapak dan ibu semua. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas perhatian dan dukungannya, sehingga masyarakat terdampak dapat tertangani dengan baik,” tandasnya.
Disentil KDM
Diberitakan sukabumiheadline.com pada Senin (12/1/2025), setelah sebelumnya Bupati Sukabumi Asep Japar dikritik oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, karena dinilai sulit dihubungi. Padahal, kata Dedi Mulyadi, masalah di Sukabumi banyak sekali. Baca selengkapnya: Dedi Mulyadi: Bupati Sukabumi sulit dihubungi, tapi problemnya banyak sekali

Namun, kali ini Asep Japar justru mendapatkan pujian setinggi langit dari Dedi Mulyadi. Pujian dari gubernur yang akrab dipanggil KDM itu, terhadap Asep Japar, merespons video diunggah sukabumiheadline.com di akun TikTok terkait korban banjir di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Dalam video tersebut, seorang perempuan menangis sambil memvideo kondisi rumah yang hancur diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu. Dari keterangan di video, perempuan korban bencana tersebut sebagai warga Kampung Cisarua RT 002/015, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan.
Dedi Mulyadi, dalam pujiannya, menyebut Bupati Sukabumi sebagai baik hati, saleh, ramah, dan cekatan.
“Khususon wabil khusus untuk Bapak Bupati Sukabumi, @h.asepjapar yang baik hati serta jajaran yang soleh, ramah serta cekatan. Kita kerja yu, terjun ke lapangan dan melayani rakyat,” bunyi caption pada keterangan video di akun Kang Dedi Mulyadi. Baca selengkapnya: Momen Bupati Sukabumi dipuji setinggi langit oleh KDM, sebelumnya sempat dikritik
KDM juga menyayangkan jajaran Pemkab Sukabumi pada pertemuan pertama memilih meninggalkan ruangan, karena dalih ada kegiatan seremonial. Padahal, kata KDM, seharusnya kegiatan-kegiatan seremonial seharusnya dikurangi. Cek: video KDM
Untuk itu, KDM meminta Bupati Sukabumi dan jajaran, untuk segera menyerahkan berkas korban banjir agar secepatnya mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.
Diberitakan sebelumnya, tumpukan batu bercampur tanah bersarang dari mulai teras, ruang tengah hingga ke dalam kamar rumah warga korban bencana banjir. Video diunggah Wulan di akun TikTok @mey_sha15. Baca selengkapnya: Batu numpuk dalam rumah, warga korban bencana Sukabumi nangis tak ada perhatian
Selain itu, nestapa juga dialami Abah Uloh, seorang lansia korban bencana alam di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ia terpaksa harus menghuni gubuk reyot di tengah kebun, karena rumahnya rusak diterjang banjir beberapa waktu lalu.

Abah Uloh tercatat sebagai warga Kampung Babakan Cisarua RT 002/015 Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan. Ia merupakan salah satu dari puluhan korban banjir yang berharap segera ada solusi dari pemerintah.
Diketahui, istri dari Abah Uloh menjadi korban tewas dalam salah satu dari tiga peristiwa bencana yang menerjang kampungnya. Baca selengkapnya: Nestapa Abah Uloh, lansia korban bencana alam Sukabumi huni gubuk reyot









