Dari Sukabumi ke Sumbar, BRIN wanti-wanti fenomena sinkhole 3 daerah

- Redaksi

Kamis, 22 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi fenomena sinkhole atau lubang misterius raksasa - sukabumiheadline.com

Ilustrasi fenomena sinkhole atau lubang misterius raksasa - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Fenomena alam berupa sinkhole atau lubang misterius raksasa di Sukabumi, Jawa Barat, merupakan peristiwa geologi yang telah beberapa kali terjadi, terutama di Kampung Legoknyenang RT 005/002, Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.

Ahad, 28 April 2024, muncul sebuah sinkhole di area persawahan warga dengan kedalaman mencapai belasan meter. Peristiwa serupa juga pernah terjadi di lokasi yang sama pada April 2019 dengan diameter mencapai 16 meter dan kedalaman 12 meter. Baca selengkapnya: 5 fenomena alam yang sering terjadi di Sukabumi

Fenomena sinkhole atau lubang misterius di Sukabumi - Ist
Fenomena sinkhole atau lubang misterius di Sukabumi – Ist

Kekinian, fenomena lubang raksasa atau sinkhole muncul secara mendadak di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, pada Ahad (4/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lubang ini muncul di area persawahan milik warga di Jorong Tepi. Diameter lubang diperkirakan sekitar 10 meter dengan kedalaman lebih dari 5 meter.

Ahli geologi menjelaskan bahwa wilayah tersebut merupakan kawasan karst atau batu kapur yang rentan amblas jika terkena curah hujan tinggi atau faktor hidrologi bawah tanah. Pakar juga mengaitkan fenomena ini dengan dampak dari Siklon Senyar yang memicu cuaca ekstrem.

BRIN wanti-wanti 

Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Indonesia merupakan wilayah yang paling rawan dengan fenomena lubang runtuhan tanah atau yang dikenal sebagai sinkhole, wilayah dengan bentang alam karst atau kawasan batu gamping sering mengalami fenomena ini.

BRIN menyebut beberapa daerah yang rawan seperti Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros. Wilayah-wilayah tersebut memiliki lapisan batu gamping yang cukup tebal di bawah permukaan tanah.

Berita Terkait: Fenomena ratusan sinkhole di Turkiye, pernah terjadi di Sukabumi, ini pemicunya

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari menjelaskan sinkhole merupakan fenomena alam yang terjadi karena runtuhnya lapisan batu gamping di bawah permukaan tanah. Prosesnya dalam waktu lama yang dipicu air hujan bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO2) dari udara dan permukaan tanah.

“Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batu gamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,” jelasnya, dikutip sukabumiheadline.com dari laman resmi BRIN, Kamis (22/1/2026).

Air permukaan dan air tanah akan mengalir ke dalam rekahan seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya membuat rongga makin membesar dan lapisan penyangga di bagian atasnya melemah.

Saat hujan terjadi, lapisan penutup rongga akan kian tipis. Pada satu titik rongga tersebut tidak bisa lagi menahan beban yang berada di atas.

“Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole,” ujar Adrin.

Adrin mengungkapkan sulit mendeteksi tanda awal kemunculan sinkhole. Pembentukan rongga terjadi sangat perlahan dan di bawah permukaan tanah, jadi tidak mudah dikenali secara langsung.

Namun sebenarnya identifikasi bisa dilakukan dengan beragam metode, seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik. Jadi dapat memetakan dari sebaran, kedalaman dan ukuran rongga.

Berita Terkait: Tinjauan pakar geologi soal fenomena sinkhole di dunia, nomor 5 di Sukabumi

Dia juga mengingatkan kawasan permukiman di atas lapisan batu gamping berisiko lebih tinggi menghadapi fenomena ini. Salah satu yang bisa diwaspadai adalah hilangnya aliran air di permukaan.

“Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” kata Adrin.

Sementara itu, Adrin menjelaskan air dalam sinkhole berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Jadi tidak bisa disimpulkan secara langsung apakah air layak untuk dikonsumsi dan harus melewati berbagai analisis terlebih dulu.

“Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” dia menjelaskan.

Berita Terkait

Waspada kekeringan di Jabar, BMKG: Bogor, Sukabumi, Cianjur hingga Banjar Mei – Juni
Prakiraan cuaca Sukabumi 24-31 Maret: Waspada hujan disertai petir sepekan ke depan
Petani wajib waspada, BRIN ingatkan fenomena Godzilla hingga Oktober
Prakiraan cuaca Sukabumi saat Idul Fitri 1447 H, 20 – 21 Maret 2026
Kapan mulai musim kemarau 2026? Ini prediksi BMKG
Prakiraan cuaca Sukabumi 24-28 Februari, hujan ringan hingga shower
Waspada angin kencang, prakiraan cuaca Sukabumi 7 hari ke depan
Ben Shenhar: 50% umur manusia ditentukan faktor genetik

Berita Terkait

Rabu, 25 Maret 2026 - 01:24 WIB

Waspada kekeringan di Jabar, BMKG: Bogor, Sukabumi, Cianjur hingga Banjar Mei – Juni

Senin, 23 Maret 2026 - 23:28 WIB

Prakiraan cuaca Sukabumi 24-31 Maret: Waspada hujan disertai petir sepekan ke depan

Jumat, 20 Maret 2026 - 21:22 WIB

Petani wajib waspada, BRIN ingatkan fenomena Godzilla hingga Oktober

Rabu, 18 Maret 2026 - 01:54 WIB

Prakiraan cuaca Sukabumi saat Idul Fitri 1447 H, 20 – 21 Maret 2026

Rabu, 4 Maret 2026 - 08:00 WIB

Kapan mulai musim kemarau 2026? Ini prediksi BMKG

Berita Terbaru